Lisa tak banyak tahu mengenai latar belakang kehidupan nyonya Amanda di luar image seorang bos wanita pemilik resto. Ia sebatas mencari tahu dari postingan di akun media sosial pribadi. Tampilan layar digulirkan ke bawah hingga mencapai foto unggahan nyonya Amanda yang diposting pertama kali. Lisa tak menemukan suatu hal penting yang ia cari. Sosok anak laki-laki di dalam rumah kontrakan sang Bos waktu itu, masih menyimpan misteri tersendiri.
Lisa bertanya-tanya untuk meluruskan logika. “Apa mungkin itu anak dari pemilik kontrakan?”
Wanita berambut panjang itu menyibakkan selimut dari kedua kakinya yang kedinginan. Lisa beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi. Dia sudah janji kepada Vina dan Desi untuk berangkat kerja paling pagi hari ini. Lisa bergerak lebih cepat dari biasanya. Mengunci pintu rumahnya kemudian berjalan cepat di sepanjang jalur pejalan kaki.
Langkah sepasang sepatu itu terhenti karena tersadar baru saja melewati depan rumah seorang rekan kerja. Bisa saja Lisa memanggilnya, tapi mungkin Ervan belum mempersiapkan diri untuk pergi. Jendela rumahnya masih terbuka lebar sementara waktu juga masih cukup panjang untuk menunaikan kebiasaan individu di pagi hari. Lisa berlalu hingga sampailah di depan lapak pedagang kaki lima. Kroket kentang yang masih panas itu serasa menggiurkan air liur di dalam mulutnya. Hampir-hampir kroket itu seperti akan meletus saat digoreng. Uap yang keluar dari kroket panas yang baru saja diangkat itu menjadi penghangat telapak tangan yang terasa dingin.
“Kroketnya sepuluh, Bang! Yang isi daging.” pinta Lisa kepada si Penjual.
“Siap!” jawab si Abang kepada pembelinya.
Lisa pun sudah tidak sabar untuk mencicipi makanan itu selagi hangat. Namun ia harus menahan diri sampai bertemu teman-teman di kedai makan.
Amat terkejut Lisa saat baru saja tiba. Pintu depan Amanda’s resto dalam kondisi sudah tidak terkunci lagi. Di waktu sepagi ini sangat terkesan mencurigakan. Padahal kunci ada ditangan Lisa setelah diminta langsung dari Ervan kemarin. Siapa yang masuk tanpa izin? Kemudian Lisa juga ke dalam untuk memeriksa keadaan.
Tidak ada siapapun di ruangan depan. Begitupun ruang kerja bos dan gudang yang masih tertutup rapat. Pintu dapur sedikit terbuka, Lisa mendengar ada suara pergerakan di dalamnya.
“Mungkinkah pak Tomo juga sudah berangkat sepagi ini?” sangka si Lisa.
“Loh! Bos!” sapaannya, yang dikejutkan oleh keberadaan nyonya Amanda di dalam dapur.
“Sejak kapan Anda pulang dari liburan? Terus kenapa Bos pagi-pagi ada di sini?” Lisa langsung melontarkan banyak pertanyaan.
Bos wanita tersebut menghela napas sejenak. “Sudahlah! Mau membuat sarapan saja susah. Gasnya sudah habis? Kenapa api ini tidak mau menyala?” kata si Bos sambil memutar kenop pada kompor. Akhirnya ia pun menyerah.
“Sini, mana kroketnya!” kata nyonya Amanda. Kemudian mengambil posisi duduk.
Lisa memandangi kantong makanan miliknya. “Bagaimana Bos bisa tahu?”
Sebenarnya ini kroket hanya untuk Lisa makan bersama Vina juga Desi. Kalau mau bahkan juga untuk pak Tomo beserta Ervan. Tapi, sudahlah! Bos yang meminta.
Nyonya Amanda begitu menikmati gorengan yang masih hangat dengan cocolan mayonnaise di atasnya.
“Lisa…! Where are you?” panggil Desi dari arah ruangan depan.
Desi pun tiba di muka pintu dapur. Matanya melirik ke arah Lisa yang memperlihatkan penyesalan atas apa yang terjadi. Desi cukup kecewa tidak jadi mendapatkan makanan pengobat diri yang tengah patah hati. Vina yang berangkat bersama Desi, datang belakangan. Matanya terbelalak melihat sang Bos yang makan seperti orang kelaparan.
Tanpa basa-basi Vina mengonfirmasi apa saja yang telah dilakukan oleh bos hingga tak membalas semua pesan yang mereka kirimkan. Kedengarannya agak berlebihan atau bisa dikatakan tidak sopan. Relasi antara bos dengan semua pegawai memang sudah sangat biasa, terbuka dan tidak berjarak walau tetap menghormati hak privasi masing-masing. Meskipun begitu, hanya Vina yang paling berani bicara diantara kedua sahabatnya itu.
“Ganbatte! Semangat!” ucap ibu satu anak itu sambil mengepalkan tangannya menghadap ketiga anak buah.
Nyonya Amanda keluar dari tempat duduknya. Beruntung, ia masih menyisakan lima buah kroket di dalam kantong makanan. Baru saja bos pergi dari ruangan tempat mereka berkumpul tersebut, Lisa baru teringat paket yang diterima beberapa waktu lalu.
“Tunggu, Bos! Tentang paket itu…” kata Lisa ingin memberitahu.
Si Bos justru terheran-heran. “Paket apa?”
Lisa kemudian mengajak nyonya Amanda melihat ke ruangan di lantai atas. Benda kotak itu masih tergeletak di atas meja. Orang yang mendapatkan paket, mendengarkan semua penjelasan dari Lisa dari awal. Tanpa ragu mereka mulai memotong selotip yang merekat di sekeliling kardusnya. Hanya bubble wrap yang terlihat memenuhi ruang. Ternyata ada benda antik di dalamnya.
”Aaaaaaaaa! Elisa terima kasih! Kamu memang sahabat sejatiku!” Luapan kegembiraan Amanda mendapat kiriman beberapa koleksi benda keramik
Lisa sampai kehabisan kata-kata. Misteri tentang anak laki-laki itu ternyata tidak membuahkan misteri selanjutnya.
“Kalau begitu, anak kecil yang mengintip di kaca jendela itu pasti hanya keponakan nyonya Amanda juga kan!” terka si pelayan resto.
“Tidak mungkin, Lisa! Anak laki-laki yang mana coba? Saya ini anak tunggal. Tiga orang sepupu saya juga sama-sama tinggal di perantauan. Lagi pula kesemuanya hanya memiliki anak perempuan, termasuk saya.” jelas nyonya Amanda.
Lisa baru sadar dari unggahan foto-foto yang telah dilihatnya pagi itu. “Lalu…”
“Sudah! Kembali bekerja sana!” perintah sang Bos resto. Ia bermanja, “Biarkan aku sendiri dengan koleksi yang berharga ini!”
Lisa tiba-tiba merasa iri dengan nasib bosnya yang penuh kesenangan. Siapa yang sebenarnya baru berulang tahun tapi malah siapa yang banyak mendapatkan kejutan hadiah. Heran! Lisa kembali turun ke lantai bawah. Ia melewati anak tangga itu selangkah demi selangkah. Apakah hantu itu benar-benar ada? Tapi hantu macam apa yang menampakkan diri di siang hari? Rasanya mustahil bagi Lisa.
Sampai di bawah, Lisa berpapasan dengana pak Tomo yang hendak membuang sampah ke tempat pembuangan. Lisa menawarkan diri untuk menggantikannya. Namun pak Tomo mengingatkan untuk meletakkan kantong-kantong plasik hitam itu pada tempatnya masing-masing, dilihat dulu jenis sampah yang akan dibuang. Lisa berjanji untuk memperhatikannya.
Tempat pembuangan sampah itu berada agak jauh dari depan lokasi kedai makan. Lisa lalu memasukkan kantong-kantong plastik itu sesuai jenisnya. Namun ada dari salah satu kantong itu ada satu bungkus plastik bening berisi tulang-belulang ayam yang sengaja dikumpulkan. Lisa ragu apakah harus membuangnya, padahal bisa juga diberikan sebagai makanan hewan.
Ada satu rumah yang sering dilewati Lisa. Letaknya juga tak jauh dari kedai makan. Pemiliknya diketahui memelihara banyak jenis hewan peliharaan baik itu anjing, kucing, itik, burung juga memiliki sebuah kolam ikan. Lisa berinisiatif untuk pergi ke sana pada jam istirahat makan siang.
Seorang nenek tengah duduk-duduk bersama anjing kesayangannya. Lisa datang menghampiri dan menyampaikan maksud hati. Dengan rasa senang, sang Nenek menerima bungkusan yang berisi makanan untuk hewan peliharaannya. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih. Sementara suara anjing itu justru menggeram, membuat Lisa meningkatkan kewaspadaan. Ia pun bergegas pamit dari rumah sang Pemilik.
Seharian ini bos lebih banyak berada di ruang atas. Memang ruangan tersebut adalah yang terluas namun hanya berisi barang-barang pribadi milik nyonya Amanda. Sudah bisa dibilang sebagai rumah kedua. Tapi beliau tak pernah sekalipun sampai menginap di dalamnya. Terkadang ia turun untuk sedikit keperluan lalu kembali naik. Di hari pertama setelah kepulangannya dari berlibur, tak ada satu cerita yang ia bagikan kepada para pegawai. Oleh-oleh pun tak bisa diharapkan. Sepertinya nyonya Amanda masih ingin menikmati waktu untuk kesenangannya sendiri.
Hampir waktunya kedai makan tutup, bos masih juga belum keluar dari ruangan tersebut. Lisa, Vina dan Desi baru saja selesai meregangkan otot-otot yang terasa pegal. Tiba-tiba datang satu masalah. Nenek itu masuk ke dalam kedai makan bersama dengan putranya. Ia menangis sambil marah-marah kepada siapapun yang ada di sana. Rengekannya berhenti lalu tertuju kepada Lisa.
“Kamu telah membunuh anjing kesayangan saya. Kembalikan dia! Kembalikan dia kepada saya!” Tangisan nenek itu kembali meledak sambil memanggil-manggil nama hewan kesayangannya itu.
Lisa merasa tak tahu dan tak berbuat sesuatu yang menyakiti hewan peliharaan sang Nenek. Ia juga merasa sangat kaget mendengar pengakuannya. Putra dari nenek tersebut menjelaskan kronologi cerita versi sang Ibu hingga menduga bahwa kematian anjingnya sebab tulang yang diberikan oleh Lisa.
“Bagaimana bisa Anda menyimpulkan kalau peliharaan Anda mati karena memakan tulang ayam tersebut? Mungkin saja anjing itu sebelumnya memang sudah sakit. Lagi pula jika ada racun dari tulang-tulang yang dibawa dari sini, pasti pelanggan kami juga sudah ada yang keracunan sehabis makan olahan dagingnya?” ujar Ervan tiba-tiba masuk dalam perdebatan itu.
“Jelas-jelas ada tanda keracunan! Ibu saya sengaja memberikan tulang-tulang itu ke dalam tempat makanannya. Tak lama, anjing kami ditemukan sudah mati secara tiba-tiba.” jelas lelaki tersebut.
Mendengar keributan yang terjadi, akhirnya nyonya Amanda keluar dari ruangannya. Dikira akan turut menyelesaikan masalah, beliau malah mengeluh. Wanita tersebut mengaku harus segera menjemput anak perempuannya yang langsung singgah di rumah kakek-nenek setelah ikut berlibur ke Jepang. Semua orang yang ada di kedai makan tidak ada yang memberikan tanggapan.
Tanpa banyak kalimat, bos Amanda tiba-tiba bercerita tentang anjing milik temannya yang belum lama ini melahirkan. Tanpa malu nyonya Amanda menawarkan anak anjing milik temannya itu sebagai hadiah kepada si Nenek. Tak ada penolakan. Bahkan nenek itu memastikan agar bos dari Lisa tersebut untuk menepati janjinya. Dengan senyuman khas si Bos berhasil meyakinkan dan membuat nenek beserta putranya segera kembali ke rumah mereka. Nenek itu pergi meski sesekali terdengar menyebut-nyebut nama anjing kesayangannya.
Masalah selesai begitu saja. Tentang kebenaran adanya racun atau tidak, tak ada yang bisa memberikan jawaban pasti.