Bersamaan cahaya bulan biru yang kembali ke purnama putih, Hannalisa pulang ke tengah keluarga barunya di sebuah Panti. Ia terbangun dari tidur karena mencium bau terasi di dapur bawah yang mewangi. Lisa ini terduduk di kursi dengan mesin tik braille yang masih menyelipkan kertas berwarna putih. Siap-siap untuk diketikkan karakter Braille berikutnya oleh si Lisa yang terlalu lama asyik bermimpi. Ya! Inilah salah satu ruang favorit Lisa selama berada di asrama yayasan. Pembinanya bernama pak Tomo, yang juga merupakan salah satu pendiri panti sosial bina netra rungu wicara tersebut. Gedung utama di sebuah lahan luas beralamat di jalan Perintis Km 10 gang Cermai No. 29. Di sanalah tempat Lisa telah tinggal karena ditinggalkan oleh adik angkat laki-laki sang Ayah kandung yang telah meninggal.