Mereka menahan dinding ketiga sampai fajar.
Rajawala dan dua Baja lain menutup retakan dengan tubuh mereka sendiri, menahan gelombang Leviathan sampai tim insinyur mengelas pelat darurat di atas beton yang hancur. Saat matahari naik kelabu di atas Pusat, gerombolan mundur ke laut, dan benteng — retak, berdarah, tapi tegak — bertahan satu hari lagi.
Rangga tidak tidur. Ia duduk di bengkel sinkronisasi, masih basah keringat, sementara Adit menyelesaikan analisis yang sudah ia mulai berhari-hari lalu. Laras berdiri di dekat jendela, menatap hanggar.
"Aku sudah menjalankan simulasi Kunci," kata Adit akhirnya. Suaranya pelan, dan Rangga tahu dari nadanya bahwa kabarnya buruk. "Berulang kali. Aku ingin salah. Aku tidak salah."
Ia memutar layar. Diagram inti reaktor Rajawala, garis-garis energi merambat keluar dari pusat.
"Untuk menjalankan Kunci dan memutus kendali Sang Induk," kata Adit, "Rajawala harus melepaskan seluruh keluaran intinya sekaligus, di sinkronisasi melampaui seratus persen, tepat di samping Sang Induk." Ia menunjuk satu titik di mana semua garis bertemu, lalu meledak. "Energi yang dibutuhkan untuk mengirim kontra-sinyal sejauh dan sekuat itu... tidak meninggalkan apa pun. Inti akan habis terbakar. Mesinnya mati. Dan—" Ia berhenti.
"Dan pilotnya," kata Rangga pelan.
Adit tidak menjawab langsung. Itu jawaban yang cukup.
"Pada sinkronisasi melampaui seratus persen," kata Adit akhirnya, "kau bukan cuma di dalam mesin, Rangga. Kau adalah mesin. Sepenuhnya. Tidak ada batas. Saat inti terbakar habis menjalankan Kunci—" Ia menelan ludah. "Kau terbakar bersamanya. Persis seperti Bara saat ia menarik inti Garuda. Memutus kendali Sang Induk berarti mengulang apa yang dilakukan kakakmu. Kau menukar satu nyawa untuk dunia."
Bengkel itu hening. Di luar jendela, Rajawala berdiri diam, garis-garis merah pudar di lengannya tampak hampir seperti luka.
Rangga menatap tangannya. Tangan montir. Selama tujuh minggu ia berjuang untuk membuat sesuatu yang berbeda dari kematian Bara — agar tidak ada anak lain yang menatap radar dan kehilangan kakaknya. Dan sekarang ia diberitahu bahwa satu-satunya cara menyelamatkan semua orang adalah menjadi Bara. Persis seperti Bara. Cahaya putih, lalu kosong.
"Jadi ini lelucon yang sama," kata Rangga, suaranya hampa. "Lima belas tahun lalu mereka menggali Palung untuk energi dan mendapat kepunahan. Dan untuk menutupnya, satu orang harus melakukan apa yang Mas Bara lakukan. Lagi." Ia tertawa, getir, dan suaranya pecah di tengah. "Mesin ini menolak Mas Bara dulu. Lalu memilihku. Dan ujungnya sama persis."
Laras berbalik dari jendela. Wajahnya keras, tapi matanya tidak. "Tidak ada yang menyuruhmu melakukannya, Rangga. Ada enam Baja tersisa. Mungkin ada cara lain. Mungkin kita bisa menahan garis lebih lama, mencari—"
"Kau tahu tidak ada cara lain," potong Rangga lirih. "Kita sudah enam. Sebentar lagi lima. Lalu empat. Setiap minggu satu nama hilang. Menahan garis cuma menunda. Kunci ini satu-satunya yang bisa menang." Ia menatap Rajawala lewat jendela. "Mesin ini dibuat untuk ini. Aku dipilih untuk ini. Mungkin memang seperti ini seharusnya."
"Jangan," kata Laras, dan untuk pertama kali ada getar di suaranya. "Jangan bicara seperti Bara. Aku sudah kehilangan satu Pradipta dengan kalimat seperti itu."
Rangga menatapnya. Lalu menatap Adit, yang melepas kacamatanya dan menggosok matanya, tidak mau bertemu pandang.
"Aku belum bilang aku akan mati," kata Rangga pelan, dan sesuatu yang keras kembali ke suaranya — bukan keputusasaan, tapi tekad montir yang menatap mesin rusak dan menolak menerima bahwa ia tak bisa diperbaiki. "Aku bilang inilah harganya seperti yang tertulis. Tapi setiap mesin punya celah, Adit. Setiap sistem punya jalan keluar yang tidak dirancang." Ia berdiri. "Mas Bara tidak punya pilihan selain mati. Dia menarik tuas karena itu satu-satunya cara. Tapi kita punya sesuatu yang Mas Bara tidak punya. Kita punya waktu untuk memikirkannya. Dan aku montir."
Adit mengangkat kepalanya perlahan.
"Cari aku celahnya," kata Rangga. "Cara untuk menjalankan Kunci tanpa terbakar bersama intinya. Mungkin tidak ada. Tapi sebelum aku menerima takdir yang sama dengan kakakku, kita coba dulu menemukannya."