Mereka seharusnya tidak ada di lembah utara.
Itu yang mengganggu Rangga sepanjang sisa malam, dan masih mengganggunya saat fajar pertama menyentuh dinding Pusat. Gerombolan Leviathan tidak menyerang acak — mereka memutar lewat celah yang spesifik, di waktu yang spesifik, saat permukiman pengungsi paling rentan dan paling penuh. Seolah ada yang memberi tahu mereka di mana harus memukul.
Laras tiba di bengkel dengan wajah keras seperti baja.
"Adit menelusuri jadwal patroli yang dimatikan sebelum serangan," katanya tanpa basa-basi. "Lembah utara seharusnya dijaga dua unit pengintai. Keduanya ditarik dua jam sebelum gerombolan masuk. Atas perintah tertulis." Ia meletakkan selembar dokumen di meja. "Tanda tangan perwira logistik. Wibowo."
Rangga mengenali namanya. Perwira yang sama yang dicurigai Laras berminggu-minggu lalu — yang diam-diam menimbun sumber daya, yang memalsukan jumlah pengungsi agar jatahnya sendiri lebih besar. Manusia yang membusuk di dalam benteng yang sekarat.
"Kau pikir dia sengaja membuka lembah?" tanya Rangga. "Kenapa? Itu bunuh diri. Dia juga ada di dalam benteng ini."
"Itu yang akan kita tanyakan padanya."
Mereka menemukan Wibowo di gudang logistik bawah tanah, dan ia tidak sendiri. Saat pintu terbuka, Rangga melihatnya berdiri di depan sebuah pemancar radio gelap pasar — bukan milik Pusat — dengan peti-peti perbekalan tersusun di belakangnya, jauh lebih banyak dari jatah satu orang.
Wibowo berbalik, dan wajahnya yang gemuk dan pucat tidak menunjukkan rasa malu. Hanya perhitungan.
"Komandan Wijaya," katanya licin. "Anda seharusnya tidak di sini."
"Kau membuka lembah utara," kata Laras dingin. "Kau menarik patroli dan membiarkan ribuan pengungsi mati. Untuk apa?"
Wibowo tersenyum tipis, dan ada sesuatu yang putus asa di baliknya. "Untuk bertahan hidup. Pusat akan jatuh, Komandan. Kita berdua tahu itu. Sembilan Baja jadi enam. Ribuan Leviathan. Tidak ada kemenangan di sini, hanya soal siapa yang masih bernapas saat debu mengendap." Ia menepuk salah satu peti. "Ada benteng lain di selatan yang bersedia menampung orang dengan perbekalan. Mereka minta sesuatu sebagai imbalan. Sebuah... pengalihan. Sesuatu yang menyibukkan Leviathan jauh dari rute keluarku."
Rangga merasakan kemarahan membakar tenggorokannya. "Pengalihan. Kau menyebut ribuan orang yang mati semalam 'pengalihan'. Wira mati menahan celah yang kau buka."
"Aku tidak menyuruh Wira mati," kata Wibowo, suaranya naik, retak. "Aku menyuruh mereka semua bertahan hidup dengan cara yang benar — menerima bahwa ini sudah berakhir!"
"Belum berakhir." Laras melangkah maju, tangannya di pistol. "Kami menemukan cara untuk menang. Tapi kau tidak akan pernah tahu, karena kau sudah menyerah pada hal pertama yang menakutimu." Ia menatap pemancar gelap di belakang Wibowo. "Dan dengan benda itu, kau membocorkan posisi kita pada siapa pun yang membayar. Termasuk, mungkin, hal yang tidak bisa kau tawar."
Mata Wibowo melebar. Di pemancar di belakangnya, lampu berkedip — pesan masuk, frekuensi terbuka, sinyal yang sudah menyebar terlalu jauh ke malam. Posisi gerbang. Jadwal patroli. Titik lemah dinding ketiga. Semua data yang ia jual sudah keluar.
Sirine meraung.
"Apa yang kau lakukan," desis Laras, bukan pertanyaan.
Wibowo menatap pemancarnya sendiri dengan ngeri yang perlahan tumbuh, seolah baru sadar bahwa dalam menjual benteng ini, ia menjual juga dinding yang melindunginya. "Aku—aku cuma memberi mereka rute keluarku. Aku tidak—mereka seharusnya tidak—"
Dentuman menggetarkan gudang. Debu jatuh dari langit-langit. Di luar, Leviathan menghantam dinding ketiga tepat di titik yang baru saja Wibowo bocorkan, dan untuk pertama kali dalam tiga belas tahun, dinding terdalam Pusat retak.
Laras sudah berlari, meneriakkan perintah ke radio. Rangga di belakangnya. Dan Wibowo — Wibowo tetap di gudangnya, di antara peti-peti perbekalan yang ia timbun, menatap retakan yang merambat di dinding yang ia kira akan melindunginya. Ia mencoba lari ke pintu, terlambat. Beton di atasnya runtuh, mengubur perwira yang menjual benteng demi keselamatan yang tidak pernah ada, di bawah tumpukan harta yang ia kumpulkan dengan dosa.