Mereka tidak punya waktu untuk berduka.
Sirine meraung pukul tiga pagi — bukan nada serangan garis pantai yang sudah Rangga kenal, tapi yang lebih tinggi, lebih panik. Saat Rangga berlari ke ruang komando dengan setelan sinkronisasi setengah terpasang, layar utama sudah menampilkan kabar buruk.
"Mereka menembus lini luar," kata Laras, suaranya tajam, sudah mengenakan setelannya sendiri. "Gerombolan memutar lewat lembah utara dan menghantam permukiman pengungsi di luar dinding ketiga. Ribuan orang di sana, Rangga. Belum sempat masuk benteng."
Di layar, titik-titik merah membanjir lewat celah yang seharusnya aman. Kelas Hiu, puluhan, dipimpin oleh sesuatu yang lebih besar — Kelas Kraken yang bergerak dengan koordinasi yang tidak alami, seolah dipandu langsung dari kejauhan.
Tiga Baja sudah dikerahkan. Di kanal radio, suara-suara pilot saling memotong — perintah, peringatan, jeritan logam yang robek. Rangga mengenali suara mereka sekarang; tujuh minggu di skuadron telah mengubah nama-nama asing jadi orang-orang yang ia kenal. Salah satu dari mereka, pilot bernama Wira, memimpin pertahanan di permukiman.
"Aku menahan choke point lembah!" suara Wira berderak lewat radio. "Bawa pengungsi masuk lewat gerbang timur — aku akan menutup celah ini selama mungkin!"
Rangga sudah berlari ke hanggar, memanjat ke ruang kemudi Rajawala. Jarum sinkronisasi menancap; rasa sakit yang sudah ia kenal membakar tengkuknya, lalu dunia meluas jadi baja. Ia menghentak keluar dari hanggar ke malam yang menyala oleh api.
Tapi lembah utara jauh. Terlalu jauh.
"Wira, tahan!" teriak Rangga lewat radio, kaki baja Rajawala menghentak tanah dalam langkah-langkah raksasa. "Aku datang!"
"Jangan ke sini!" Suara Wira tegas, hampir tenang. "Pengungsi belum semua masuk. Kalau kau ke lembah, gerbang timur tak ada yang jaga. Lindungi gerbang. Itu perintah, bocah."
Rangga ragu satu detik di persimpangan — lembah, atau gerbang. Beban yang sama yang menghancurkan Bara setiap hari. Tidak bisa berada di dua tempat.
Ia memilih gerbang. Ia memilih pengungsi yang masih hidup.
Di radio, ia mendengarnya. Pertarungan Wira lewat kanal terbuka — geraman, hantaman, lalu suara yang membuat darah Rangga membeku: dengung yang naik, sirine inti reaktor.
"Wira, jangan—!" teriak Rangga, tapi ia tahu. Ia sudah tahu.
"Choke point ini tidak akan tertutup dengan cara lain," kata Wira, dan untuk pertama kali suaranya melembut. "Bawa mereka masuk, Pradipta. Semuanya. Itu satu-satunya hal yang penting." Jeda. "Bara akan bangga padamu. Aku—"
Cahaya putih menyala di utara, di balik bukit. Tiga detik kemudian, gelombang kejut menggetarkan tanah, dan kanal Wira menjadi statik.
Lembah utara hening. Choke point tertutup, tertimbun bangkai Leviathan dan satu Baja yang inti reaktornya kini cuma kawah bercahaya. Di gerbang timur, baris terakhir pengungsi merangkak masuk ke dinding ketiga, selamat.
Di gerbang timur, seorang ibu menggendong dua anak melewati ambang dinding ketiga, salah satu anaknya menangis, yang lain terlalu lelah bahkan untuk menangis. Seorang lelaki tua terjatuh; dua tentara menariknya berdiri dan menyeretnya masuk. Baris demi baris, ratusan orang yang masih bernapas karena Wira memilih untuk tidak.
Rangga berdiri di gerbang, tubuh baja Rajawala bergetar, menatap cahaya yang memudar di utara. Di dadanya yang manusiawi, jauh di dalam, sesuatu retak lagi.
"Sembilan jadi enam," bisik Laras di radio, suaranya berat. Mereka sudah kehilangan dua sebelumnya. Sekarang Wira. Enam Baja tersisa di skuadron.
Rangga tidak menjawab. Ia menatap utara, dan untuk sesaat, sebelum ia kembali bekerja, ia mengizinkan dirinya merasakan kehilangan itu sepenuhnya. Wira, yang mengajarinya menahan choke point. Wira, yang baru saja mengikuti jejak Bara ke dalam cahaya putih—dan, Rangga sadar dengan pedih, menyusul kembarannya Wening yang telah pergi lebih dulu. Sepasang pilot kembar itu kini utuh kembali, di tempat yang tak terjangkau Leviathan.
"Terima kasih," bisik Rangga ke utara. "Aku akan menjaga mereka."