Adit menemukannya di lapisan terakhir pita data.
Ia menemui Rangga sendirian, malam itu, di bengkel yang sepi. Wajahnya aneh — bukan takut, bukan tegang seperti hari-hari sebelumnya, tapi lembut, hampir takut menyakiti.
"Rangga," katanya pelan. "Ada satu file lagi. Tersembunyi di balik berkas proyek prototipe. Tanggalnya bukan tujuh belas tahun lalu seperti yang lain." Ia menelan ludah. "Tanggalnya empat tahun lalu. Dan itu... itu bukan dari ilmuwan."
Ia memutar layar.
Wajah Bara mengisi ruangan.
Rangga berhenti bernapas. Bukan foto. Bukan kenangan. Wajah kakaknya, hidup, bergerak, lebih tua dari di foto-foto lama tapi masih Bara — mata yang sama, garis rahang yang sama, bekas luka kecil di alis kiri dari kecelakaan kapal nelayan dulu. Latar belakangnya hanggar Pusat. Bara mengenakan setelan sinkronisasi.
"Aku tidak tahu apakah seseorang akan menemukan ini," kata Bara di rekaman, suaranya membuat dada Rangga remuk. "Aku menyusup ke arsip prototipe malam ini. Aku tahu seharusnya tidak. Tapi aku perlu meninggalkan ini di tempat yang hanya akan ditemukan orang yang berhubungan dengan Rajawala."
Bara menghela napas, menggosok tengkuknya — gerakan yang sama persis seperti Rangga sendiri saat lelah.
"Bertahun lalu aku gagal menyinkronkan diri dengan mesin ini. Aku menganggapnya kekalahan terbesar dalam hidupku, waktu itu. Aku marah pada mesin itu selama bertahun-tahun." Ia tersenyum kecil, getir. "Butuh perang, butuh kehilangan, butuh membesarkan adikku sendirian untuk akhirnya kumengerti kenapa Rajawala menolakku. Aku datang untuk diriku sendiri. Aku tidak datang untuk siapa pun."
Rangga merasakan air mata menggenang, tapi ia tidak bisa memalingkan wajah dari layar.
"Aku punya seorang adik," lanjut Bara, dan suaranya melembut sampai nyaris berbisik. "Namanya Rangga. Dia tidak mau dengar soal Baja. Dia membenci semua ini — pilot, perang, semuanya. Dan kau tahu? Aku bersyukur untuk itu. Aku berharap dia tidak pernah perlu menyentuh mesin ini." Bara terdiam lama. "Tapi kalau suatu hari ia harus, kalau dunia memaksanya — aku ingin meninggalkan ini. Rajawala, kalau kau dengar aku: dia bukan aku. Dia tidak punya ambisiku, tidak punya egoku. Dia memperbaiki boneka robot anak-anak kecil tanpa diminta. Dia menyembunyikan makanan untuk yang lapar." Suara Bara pecah. "Dia melindungi tanpa berpikir itu hal hebat. Dia segalanya yang seharusnya kucari, dan tidak pernah kucari, saat aku datang padamu dulu."
Bara mendekat ke kamera, dan untuk sesaat terasa seolah ia menatap langsung ke mata Rangga, melintasi waktu, melintasi kematian.
"Rangga, kalau kau yang menonton ini. Kalau kau yang sekarang mengemudikan mesin yang menolakku." Ia tersenyum, dan kali ini senyum itu utuh, tanpa kepahitan. "Aku tidak terkejut. Aku selalu tahu kau lebih baik dari aku, dengan cara yang tidak bisa diukur teknisi mana pun. Jangan jadi aku. Jangan kejar kemenangan. Jangan kejar balas dendam pada Leviathan, bahkan untukku. Lindungi mereka. Itu saja. Itu selalu cukup." Ia mengangkat tangan ke kamera, hampir seperti ingin menyentuh. "Dan Rangga — maaf. Untuk makan malam yang tidak pernah jadi. Kalau kau berhasil, kalau kau hidup — makanlah malam itu untuk kita berdua."
Rekaman berakhir.
Rangga duduk dalam diam, air mata mengalir bebas di pipinya, di bengkel yang sunyi. Adit sudah pergi diam-diam, meninggalkannya sendiri dengan suara kakaknya yang menggema di ruangan.
Di hanggar, lewat jendela, garis-garis merah Rajawala berpijar — lebih terang dari biasanya, stabil, seperti mesin yang akhirnya menyatukan dua bersaudara di intinya: yang ditolaknya, dan yang dipilihnya.
"Aku dengar, Mas," bisik Rangga. "Aku dengar."