Rangga tidak bisa berhenti menatap nama kakaknya di layar.
"Tiga puluh delapan persen," katanya. Suaranya hampir tidak keluar. "Mas Bara pilot terbaik yang pernah ada. Dia membunuh lebih dari tiga puluh Leviathan dengan Garuda. Tak pernah kalah. Dan Rajawala menolaknya di tiga puluh delapan persen?"
Laras menarik kursi dan duduk menghadap Rangga. Untuk pertama kalinya sejak Rangga mengenalnya, komandan itu tampak ragu — bukan karena tidak tahu, tapi karena terlalu tahu.
"Aku bertugas dengan Bara saat itu," kata Laras pelan. "Dulu, sebelum perang, kami berdua masih kadet. Rajawala adalah proyek paling rahasia di Pusat, dan setiap pilot berbakat ingin jadi orang yang menaklukkannya. Bara paling ingin dari semuanya."
"Kenapa?"
Laras tersenyum tipis, tapi senyum itu sedih. "Karena ia ingin menjadi yang terbaik. Mesin terkuat, pilot terhebat, penjaga yang tak terkalahkan. Itu Bara yang kukenal dulu, Rangga. Bukan Bara yang kau kenal." Ia menatap Rangga. "Adikmu menggambarkannya sebagai pelindung. Dan dia memang menjadi pelindung, di akhir. Tapi dulu, sebagai kadet, ia mengejar Rajawala karena ia ingin kemenangan. Ingin menjadi legenda. Ingin namanya diingat sebagai yang menjinakkan mesin yang tak bisa dijinakkan."
Rangga menelan ludah. Itu sisi Bara yang tidak pernah ia lihat. Kakak yang ia ingat adalah pria yang melipat seprai dengan rapi, yang membetulkan boneka robot anak-anak, yang minta maaf di radio karena tidak bisa pulang makan malam.
"Aku ada di hanggar hari Bara dites," lanjut Laras. "Aku ingat. Sinkronisasi naik cepat — dua puluh, tiga puluh persen. Para teknisi bersorak; mereka pikir akhirnya ada yang berhasil. Lalu di tiga puluh delapan, ia berhenti. Mendatar. Dan kemudian turun. Rajawala melemparnya keluar." Laras menutup matanya sejenak. "Bara duduk di lantai hanggar selama satu jam setelahnya, menatap mesin itu, mencoba mengerti kenapa. Ia pilot terbaik kami, dan satu-satunya mesin yang ia inginkan menolaknya."
"Tapi kenapa?" Rangga mencondongkan tubuh. "Kalau dia begitu hebat—"
"Karena Rajawala tidak membaca seberapa hebat kau." Laras membuka matanya, menatap Rangga lurus. "Ia membaca kenapa kau di sini. Kau sendiri yang menjalaninya, di malam pertama. Mesin itu bertanya — kenapa kau di sini? — dan ia tidak menerima jawaban 'untuk menang'. Tidak menerima 'untuk jadi yang terbaik'. Tidak menerima 'untuk balas dendam'. Hanya satu jawaban yang ia terima."
"Untuk melindungi," bisik Rangga.
"Bara, dulu, datang untuk kemenangan. Ego. Kemuliaan. Dan Rajawala melihat menembus itu, dan menolaknya. Bukan karena ia tidak layak — tapi karena ia mencari hal yang salah." Laras menghela napas panjang. "Bertahun kemudian, Bara berubah. Perang mengubahnya. Kematian orang tua kalian, membesarkanmu, menjadi penjaga Tanjung — semua itu menempa ego itu jadi sesuatu yang lebih murni. Di akhir hidupnya, Bara mati untuk melindungi, bukan untuk menang." Ia menatap Rangga dengan mata yang melembut. "Aku selalu bertanya-tanya, kalau Rajawala mengetesnya di hari ia gugur — apakah mesin itu akan menerimanya saat itu."
Rangga menundukkan kepala. Ada sesuatu yang patah dan sekaligus utuh di dadanya. Bara yang ia kenal, Bara sang pelindung, baru lahir di tahun-tahun terakhir hidupnya. Dan mesin yang menolak Bara muda yang haus kemenangan, justru memilih Bara yang sudah pergi — lewat adiknya.
"Itu sebabnya mesin ini memilihku," kata Rangga lirih. "Bukan karena aku lebih baik dari Mas Bara. Tapi karena aku datang dengan alasan yang akhirnya Mas Bara temukan, terlambat."
Laras tidak menjawab. Ia tidak perlu. Di hanggar, garis-garis merah pudar di lengan Rajawala berpijar pelan, sekali, seolah mesin itu mendengar.