"Sejauh apa melampaui batas?" tanya Rangga.
Adit menggambar garis di papan tulis bengkel, sederhana, seperti menjelaskan ke murid. "Sinkronisasi normal, kau tahu sendiri, berkisar tujuh puluh sampai delapan puluh persen. Di bawah empat puluh persen kau terlempar keluar. Di atas sembilan puluh, tubuh pilot mulai kewalahan — saraf, jantung, otak, semua bekerja seperti mesin yang dipaksa lewat batas merah." Ia menulis satu angka dan melingkarinya. "Untuk menjalankan Kunci, Rajawala harus mencapai seratus persen. Dan kemudian, sesaat, melampauinya."
"Melampaui seratus persen," ulang Laras pelan. "Apa artinya itu bahkan mungkin?"
"Seratus persen artinya kesadaran pilot dan inti mesin sepenuhnya menyatu — tidak ada batas lagi antara manusia dan baja." Adit melepas kacamatanya, wajahnya serius. "Melampauinya artinya pilot kehilangan dirinya ke dalam mesin. Sebagian besar manusia tidak akan kembali. Saraf terbakar. Atau jantung berhenti. Atau pikiran tetap terjebak di dalam inti selamanya."
Rangga merasakan dingin merayap di tengkuknya, di tempat jarum sinkronisasi selalu menancap. "Dan ilmuwan itu tahu ini saat ia merancang Rajawala?"
"Itu yang membuatku tidak tenang." Adit menarik satu file lagi dari pita data, sebuah daftar. Nama-nama, masing-masing diikuti angka dan satu kata: GAGAL. "Ini catatan uji sinkronisasi prototipe, sebelum perang. Pusat mengirim pilot terbaik mereka satu per satu untuk mencoba menyinkronkan diri dengan Rajawala. Veteran. Juara simulasi. Orang-orang yang sudah menerbangkan Baja generasi sebelumnya bertahun-tahun."
Ia menyorot daftar itu. Setiap nama berakhir dengan angka rendah. Tiga puluh persen. Dua puluh lima. Lima belas. Ditolak. Ditolak. Ditolak.
"Tidak ada satu pun yang melewati empat puluh persen," kata Adit. "Bukan karena mereka tidak berbakat. Mereka pilot terbaik di dunia. Tapi Rajawala menolak mereka semua. Sebelum mereka bahkan sempat mencapai angka berbahaya, mesin sudah melempar mereka keluar." Ia menatap Rangga. "Lalu datang seorang montir tujuh belas tahun yang tidak pernah ingin jadi pilot, dan mencapai delapan puluh persen di malam pertamanya."
Rangga menatap daftar itu. Begitu banyak nama. Begitu banyak orang yang lebih layak darinya, secara teknis. Dan mesin itu menolak mereka semua.
Ia teringat malam pertamanya di hanggar Tanjung — bagaimana ia memanjat ke kursi kemudi sambil gemetar, yakin ia akan mati sebelum membuat Rajawala melangkah satu kali. Ia bukan pilot. Ia montir tujuh belas tahun yang bahkan tidak mau menyentuh mesin itu. Dan sekarang ada daftar berisi nama-nama veteran terbaik dunia, semuanya ditolak, sementara namanya sendiri seharusnya ada di urutan paling bawah dari yang paling tidak mungkin.
"Berarti masalahnya bukan cuma fisik," kata Rangga pelan. "Bukan cuma soal apakah tubuh seseorang kuat menahan seratus persen. Masalahnya apakah Rajawala mau membiarkan mereka sampai ke sana."
"Tepat." Adit mengangguk. "Sinkronisasi ekstrem tidak bisa dipaksakan dari luar. Pilot dan mesin harus mau menyatu sepenuhnya. Saling percaya total. Itu sebabnya semua veteran gagal — Rajawala merasakan keraguan mereka, ambisi mereka, ketakutan mereka, dan menahan diri." Ia diam sejenak. "Tapi denganmu, mesin itu tidak menahan diri. Itu yang membuatmu satu-satunya yang punya peluang. Dan juga yang membuatmu satu-satunya yang ada di garis bahaya."
Laras berdiri dan berjalan ke jendela, menatap Rajawala. Saat ia bicara, suaranya pelan. "Ada satu nama di daftar itu yang harus kalian lihat."
Rangga dan Adit mengikuti pandangannya kembali ke papan. Laras berjalan ke layar, menggulir daftar ke bawah, ke salah satu baris terakhir sebelum proyek dibatalkan. Ia berhenti di satu nama, dan Rangga merasa darahnya membeku saat membacanya.
PRADIPTA, BARA. SINKRONISASI MAKSIMUM: 38%. STATUS: DITOLAK.
"Mas Bara," bisik Rangga. "Mas Bara pernah mencoba Rajawala. Dan ditolak."