Pita data itu menyimpan lebih dari rekaman.
Adit menghabiskan sepanjang malam memilah lapisan-lapisan file di baliknya, dan saat fajar menyusup lewat ventilasi bengkel, ia menemukan satu berkas yang berbeda dari semua yang lain — bukan rekaman, bukan dokumen, melainkan sebuah blok kode mentah yang ditandai dengan satu kata: KUNCI.
"Ini bukan untuk dibaca," kata Adit, suaranya serak karena kurang tidur. Rangga dan Laras berdiri di belakangnya, kopi pengganti mengepul di tangan mereka. "Ini untuk dijalankan. Dan tujuannya — kalau aku membaca arsitekturnya dengan benar — adalah inti reaktor Baja. Tapi bukan inti sembarang Baja." Ia menoleh, matanya berkilat di balik kacamata. "Inti Rajawala secara spesifik."
"Apa fungsinya?" tanya Laras.
Adit memutar layar. Diagram yang rumit terpampang, garis-garis bercabang dari satu titik pusat seperti akar pohon. "Ingat saat Rangga 'mendengar' Sang Induk lewat sinkronisasi ekstrem beberapa minggu lalu? Bahwa Leviathan bukan ribuan makhluk terpisah, tapi satu kesadaran kolektif yang dikendalikan dari satu pusat?"
Rangga mengangguk. Ia masih ingat tekanan dingin itu di benaknya, suara tanpa kata yang lebih luas dari laut.
"Kalau Leviathan satu organisme yang dikendalikan Sang Induk," kata Adit, "berarti ada sinyal. Sebuah frekuensi yang menyatukan mereka. Dan ilmuwan yang merancang Rajawala — dia tahu itu. Dia merancang Rajawala bukan untuk membunuh setiap Leviathan satu per satu. Mustahil. Ribuan lawan satu." Ia mengetuk layar. "Dia merancangnya untuk memutus sinyal itu. Untuk mengganggu kendali Sang Induk dari dalam. Itulah Kunci. Sebuah program yang, kalau dijalankan lewat inti Rajawala, bisa mengirim 'kontra-sinyal' yang mencerai-beraikan gerombolan."
Ruangan hening sejenak. Lalu Rangga merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan sejak malam pertama di hanggar Tanjung — harapan, tipis dan tajam seperti pisau.
Selama tujuh minggu ia menghitung dalam hati, seperti montir menghitung suku cadang yang tinggal sedikit. Sembilan Baja jadi tujuh. Ribuan Leviathan. Setiap pertempuran cuma membeli waktu, tidak pernah kemenangan. Setiap malam ia tidur dengan kepastian dingin bahwa pada akhirnya angka itu akan habis, dan tidak ada satu pun perhitungan yang menghasilkan dunia yang masih berdiri di ujungnya. Sekarang, untuk pertama kali, ada angka yang berbeda.
"Maksudmu," katanya pelan, "kita tidak perlu membunuh ribuan Leviathan. Kita cuma perlu memutus kendalinya. Memotong tali yang menyatukan mereka."
"Secara teori." Adit menghela napas, dan harapan itu mengempis sedikit. "Tapi sinyal Sang Induk berasal dari Palung Tengah — dari pusatnya. Kontra-sinyal Rajawala tidak akan menjangkau sejauh itu kalau ditembakkan dari garis pantai. Untuk benar-benar memutus kendali, Kunci harus dijalankan dekat sumbernya."
"Dekat Sang Induk," kata Laras datar.
"Di Palung Tengah," tambah Adit. "Di sarang utamanya."
Rangga menatap ke arah hanggar lewat jendela bengkel, ke arah Rajawala yang berdiri diam dalam cahaya fajar kelabu. Raksasa yang dibuat lima belas tahun lalu untuk satu tujuan yang baru sekarang terungkap. Bukan untuk menahan garis pertahanan. Bukan untuk membela benteng. Tapi untuk menembus ke jantung kegelapan dan memotong simpul yang mengikat seluruh kepunahan ini.
"Mesin ini menunggu," kata Rangga pelan. "Lima belas tahun. Menunggu pilot yang tepat, untuk pekerjaan yang tepat."
Laras meletakkan tangannya di bahu Rangga. "Tujuan misi kita baru saja berubah, Rangga. Selama ini kita pikir tugas kita menahan garis timur sampai mati. Sekarang ada sesuatu yang lebih dari sekadar bertahan." Ia menatap raksasa kelabu di hanggar. "Ada cara untuk menang. Tapi cara itu ada di dalam mesinmu, di tempat paling berbahaya di dunia."
Adit menyimpan blok kode itu, lalu berbalik dengan wajah yang tiba-tiba muram. "Hanya saja ada satu masalah, Komandan. Aku belum cerita semuanya." Ia menelan ludah. "Untuk menjalankan Kunci, sinkronisasi Rajawala harus didorong jauh melampaui batas aman. Dan menurut catatan ilmuwan ini — tidak ada pilot yang pernah berhasil sampai sana hidup-hidup."