Adit butuh dua hari untuk membuka pita data itu.
Formatnya kuno, terenkripsi dengan sistem yang sudah punah, dan ia harus merakit pembaca dari potongan mesin tua. Saat akhirnya layar di bengkel sinkronisasi menyala dengan rekaman pertama, Rangga, Laras, dan Adit berkerumun di sekitarnya dalam diam.
Wajah seorang ilmuwan paruh baya mengisi layar. Lelah, mata cekung, latar belakang laboratorium yang jauh lebih bersih dan modern dari apa pun yang Rangga tahu. Tanggal di sudut layar: tujuh belas tahun lalu. Dua tahun sebelum gelombang pertama.
"Catatan riset hari ke-tiga ratus dua belas," kata ilmuwan itu, suaranya datar oleh kelelahan. "Pengeboran di Palung Tengah mencapai kedalaman lapisan target. Kami menemukan... struktur. Bukan geologi. Sesuatu yang teratur. Hidup, tapi dorman." Ia menelan ludah. "Pemerintah menyebutnya sumber energi. Aku tidak yakin itu yang kita gali."
Layar berganti. Ilmuwan yang sama, lebih kurus, lebih takut.
"Mereka tidak mau berhenti," katanya cepat, melirik ke belakang seolah takut ada yang mendengar. "Aku sudah melapor. Sampel yang kami angkat tumbuh. Mereka mereplikasi diri. Aku bilang ini bukan energi — ini organisme, dan kita membangunkannya. Mereka menyuruhku diam. Mereka bilang proyek ini terlalu penting untuk negara."
Laras mengepalkan tangan di sampingnya. Rangga merasa perutnya dingin.
"Kalau aku benar," lanjut ilmuwan itu, suaranya pecah, "kalau struktur di Palung itu adalah... induk dari sesuatu... maka kita tidak menggali sumber daya. Kita membuka kandang. Dan kami sudah merancang sesuatu untuk berjaga. Sebuah mesin. Generasi terakhir. Tapi aku takut kami merancangnya terlambat."
Rekaman berhenti.
Hening lama di bengkel. Di luar, mesin ventilasi berdengung pelan. Rangga sadar tangannya mengepal sejak rekaman tadi, dan ia memaksa jari-jarinya membuka.
Adit melepas kacamatanya, menggosok matanya. "Jadi begitu," katanya pelan. "Leviathan tidak datang dari laut. Kita yang membangunkan mereka. Pemerintah lama mengebor Palung Tengah untuk energi, dan mereka... menetaskan ini."
"Bukan sekadar membangunkan." Laras menatap layar gelap, wajahnya keras seperti batu. "Mereka tahu risikonya. Ilmuwan ini melapor, dan mereka menyuruhnya diam. Mereka memilih melanjutkan." Ia menelan ludah. "Lima belas tahun perang. Separuh dunia hancur. Bara, empat Baja, dua pilot skuadron kita — semua mati karena keserakahan orang-orang yang sudah lama hilang."
Rangga menatap tangannya sendiri. Tangan montir. Tangan yang memperbaiki mesin. Ia memikirkan Bara, yang gugur menganggap dirinya melindungi dunia dari bencana alam. Bukan bencana alam. Sebuah kesalahan. Sebuah dosa.
Ia memikirkan Stasiun Tanjung — dua ratus orang yang dulu ia lindungi, kota nelayan yang dilahap laut, orang tuanya yang tewas di gelombang pertama saat ia masih terlalu kecil untuk mengingat wajah mereka. Semua itu, ternyata, bukan takdir. Bukan kehendak laut. Hanya beberapa orang berseragam rapi yang memutuskan bahwa energi lebih berharga dari peringatan seorang ilmuwan yang ketakutan.
"Dan Rajawala," bisik Rangga. "Mesin yang mereka rancang untuk berjaga. Sebuah penangkal. Mesin yang memilihku."
Adit memutar kursinya. "Itu yang membuatku tidak bisa tidur, Rangga. Kalau Rajawala dibuat khusus untuk melawan organisme dari Palung — untuk melawan Sang Induk — maka prototipe itu bukan sekadar Baja biasa yang kebetulan selamat." Ia menatap ke arah hanggar, tempat raksasa kelabu itu berdiri. "Ia satu-satunya mesin di dunia yang dirancang untuk pekerjaan ini. Dan kau satu-satunya yang bisa mengemudikannya."
Laras berdiri, menyimpan pita data ke dalam saku dadanya. "Kalau ini bocor ke seluruh Pusat, akan ada kekacauan. Manusia melawan manusia, di saat kita seharusnya bersatu." Matanya keras. "Tapi seseorang di markas ini sudah tahu, dan mereka menyembunyikannya. Kita harus cari tahu siapa, sebelum mereka tahu bahwa kita tahu."