Lorong di bawah dinding terdalam Pusat tidak punya lampu darurat.
Rangga mengikuti Laras lewat senter genggam, langkah mereka teredam debu tebal yang menumpuk di lantai beton. Di atas mereka, tiga lapis dinding benteng melindungi pengungsi dari Leviathan. Tapi di bawah sini, di kedalaman yang bahkan tidak masuk peta resmi, hanya ada pintu-pintu baja berkarat dan papan bertuliskan ARSIP — AKSES TERBATAS yang catnya sudah mengelupas.
"Kau yakin soal ini?" bisik Rangga. "Kalau ada yang tahu kita di sini—"
"Tidak ada yang akan tahu." Laras menyorot sebuah pintu di ujung lorong, kuncinya digembok rantai. "Aku perwira Pusat. Kalau ada yang menanyaiku, aku sedang menjalankan tugas. Tapi kau benar untuk takut. Sejak Adit menyimpulkan Leviathan bukan makhluk laut, ada orang di markas ini yang tidak senang."
Rangga mengeluarkan kunci inggris dari sabuknya — kebiasaan lama montir, ia tidak pernah meninggalkan ruangan tanpa alat. Ia menyelipkannya ke gembok, memutar, dan dengan satu tarikan kuat rantai itu terlepas dengan dentang yang menggema terlalu keras di lorong sunyi.
Keduanya membeku, mendengarkan. Hanya tetes air dari pipa di kejauhan.
"Gembok ini diganti baru," gumam Rangga, menimbang besi itu di tangannya. "Lihat ulirnya. Bersih. Yang lain di lorong ini sudah berkarat semua." Ia mengernyit. "Seseorang mengunci ulang pintu ini belakangan ini. Bukan tukang gembok lima belas tahun lalu."
Laras mengambil gembok itu, memutarnya di bawah senter. Rahangnya mengeras. "Berarti ada yang masih merawat tempat ini. Diam-diam." Ia menyerahkan gembok kembali. "Tata caramu jeli, montir. Cepat. Kita tidak punya semalaman."
Di dalam, ruangan penuh rak logam yang menjulang sampai langit-langit, sesak oleh kotak-kotak dokumen dan gulungan pita data tua. Bau kertas lapuk dan minyak mesin. Laras menyorot deretan label.
"Cari apa pun yang bertanggal sebelum gelombang pertama," kata Laras. "Lima belas tahun lalu. Apa pun dari pemerintah lama."
"Kenapa pemerintah lama?" Rangga menarik satu kotak, debu beterbangan. "Mereka sudah hancur waktu Leviathan datang."
"Itu yang mereka ingin kita percaya." Laras membuka sebuah kotak, mengeluarkan map tebal, membaca cepat di bawah senter. "Pikirkan, Rangga. Bara pernah bilang Rajawala dirancang untuk melawan sesuatu yang spesifik. Bukan Leviathan secara umum — sesuatu yang spesifik. Tapi prototipe itu mulai dibuat sebelum gelombang pertama." Ia menatap Rangga. "Bagaimana mereka merancang senjata untuk musuh yang belum muncul?"
Rangga berhenti, map di tangannya. Ia belum pernah memikirkannya seperti itu. Rajawala lebih tua dari perang. Mesin yang memilihnya dibuat untuk monster yang, menurut sejarah resmi, belum ada saat blueprint-nya digambar.
"Kecuali," kata Rangga pelan, "mereka sudah tahu Leviathan akan datang."
Kata-kata itu menggantung di udara berdebu. Rangga menelan ludah. Sepanjang hidupnya ia diajari bahwa Leviathan adalah bencana — sesuatu yang muncul dari laut tanpa alasan, seperti badai atau gempa, hal yang harus dilawan tapi tidak bisa disalahkan pada siapa pun. Kalau ada yang merancang Rajawala sebelum monster pertama muncul, maka cerita itu bohong. Maka ada seseorang, di suatu tempat, yang melihat ini datang dan tidak memperingatkan dunia.
Laras tidak menjawab. Ia menarik gulungan pita data dari rak paling dalam, satu-satunya yang tidak berdebu. Seseorang baru saja menyentuhnya.
"Ada yang sudah di sini," bisiknya.
Cahaya menyapu pintu di belakang mereka.
"Siapa di situ?" Suara seorang penjaga, langkah sepatu bot. "Area ini tertutup!"
Laras mendorong Rangga ke balik rak, menempelkan jari ke bibirnya. Mereka menahan napas saat berkas cahaya senter penjaga itu menyapu lorong di antara rak, satu meter dari kaki Rangga, lalu bergerak menjauh.
"Halusinasi lagi," gumam penjaga itu pada dirinya sendiri, dan langkahnya surut.
Setelah pintu menutup, Laras menghembuskan napas. Di tangannya, gulungan pita data berlabel satu baris kode yang membuat Rangga merinding ketika ia membacanya di bawah senter.
PROYEK PALUNG — PENANGGULANGAN ENTITAS LV. KLASIFIKASI: HITAM.
"Palung," bisik Rangga. "Palung Tengah. Mereka menamai proyek ini sebelum perang dengan nama tempat asal Sang Induk."
Laras menggenggam pita itu erat-erat. "Pemerintah lama tahu sesuatu, Rangga. Sebelum gelombang pertama. Sebelum siapa pun melihat Leviathan." Ia menatap pintu, lalu Rangga. "Dan seseorang di Pusat saat ini masih berusaha keras agar kita tidak tahu apa."