Rekaman dari sinkronisasi ekstrem Rangga—data mentah yang ditangkap inti Rajawala sebelum Adit memutus koneksi—menjadi obsesi seluruh tim riset Pusat selama empat hari empat malam.
Mereka memanggil setiap ilmuwan yang masih hidup di benteng: ahli biologi laut yang dulu mempelajari Leviathan dari bangkai, fisikawan, ahli akustik. Adit memimpin, kacamatanya makin sering melorot karena kurang tidur, tapi matanya menyala dengan sesuatu yang mendekati kengerian dan penemuan sekaligus.
Pada malam keempat, ia memanggil Rangga dan Laras ke laboratorium.
"Kami menemukan sesuatu," katanya, dan suaranya bergetar. "Tentang apa Leviathan sebenarnya. Tentang dari mana mereka datang. Dan kalian tidak akan suka."
Layar besar menyala. Tampilan bersisi-sisi: di kiri, analisis genetik jaringan Leviathan dari bangkai-bangkai yang dikumpulkan bertahun-tahun. Di kanan, peta sonar Palung Tengah, dan data frekuensi dari sinkronisasi Rangga.
"Selama lima belas tahun," mulai Adit, "kita menyebut mereka 'makhluk laut'. Monster yang naik dari kedalaman. Kita berasumsi mereka selalu ada di sana, di dasar Palung, lalu suatu hari memutuskan naik." Ia menggeleng. "Itu salah. Lihat ini."
Ia menyorot data genetik. "Jaringan Leviathan tidak cocok dengan apa pun di pohon kehidupan laut. Tidak ada nenek moyangnya. Tidak ada kerabatnya. Tidak ada bukti evolusi—tidak ada tahap antara, tidak ada fosil, tidak ada apa pun. Makhluk laut sejati punya sejarah jutaan tahun di lapisan batuan. Leviathan tidak punya sejarah sama sekali sebelum lima belas tahun lalu. Mereka tidak berevolusi di laut, Rangga. Mereka muncul. Mendadak. Sepenuhnya terbentuk."
Laras menyilangkan tangan. "Kau bilang mereka bukan dari sini?"
"Aku bilang mereka tidak tumbuh di sini." Adit menyorot peta sonar Palung Tengah—sebuah jurang laut yang turun lebih dalam daripada gunung tertinggi yang menjulang. Di dasarnya, sensor menunjukkan sesuatu yang aneh: bukan batuan alami, melainkan struktur. Sebuah bukaan. "Lima belas tahun lalu, sesuatu di dasar Palung Tengah... terbuka. Atau dibuka. Dan Leviathan mulai keluar dari sana—tidak naik dari kedalaman, tapi muncul dari bukaan itu, satu demi satu, seolah Palung Tengah bukan habitat mereka melainkan pintunya."
Rangga merasa lantai bergeser di bawahnya. "Pintu ke mana?"
"Aku tidak tahu." Adit menatapnya, dan untuk pertama kalinya ia tampak benar-benar takut. "Tapi ingat file Maya Hartono? Dua tahun sebelum gelombang pertama, ia ditugaskan ke survei laut dalam Palung Tengah. Ia di sana, Rangga. Sebelum apa pun muncul. Dan setelah survei itu, ia mendadak ditarik dan diberi proyek untuk membangun Rajawala." Ia menggeser ke baris terakhir yang mereka temukan tentang sang perancang. "Aku rasa survei itu bukan untuk mempelajari Palung Tengah. Aku rasa survei itu... yang membukanya. Sebuah eksperimen. Pemerintah lama mencari sesuatu di dasar laut, mereka mengirim tim Maya Hartono untuk membukanya—dan mereka berhasil. Dan apa yang keluar dari bukaan itu adalah Leviathan."
Hening yang mengikutinya terasa seperti seluruh udara di laboratorium tersedot keluar.
"Kau bilang," kata Laras pelan, sangat pelan, "bahwa kita melakukan ini pada diri kita sendiri. Bahwa Leviathan—lima belas tahun kehancuran, separuh dunia hilang, orang tua Rangga, Bara, Indra, semua—bahwa itu semua dimulai karena manusia membuka sesuatu yang seharusnya tetap tertutup."
"Aku bilang itu kemungkinan yang paling cocok dengan semua data." Adit melepas kacamatanya, dan tangannya gemetar. "Maya Hartono melihatnya. Ia ada di sana saat pintu itu terbuka. Itu sebabnya ia membangun Rajawala secara spesifik—bukan untuk melawan binatang laut yang kebetulan muncul, tapi untuk menutup kembali apa yang dibuka. Untuk memperbaiki kesalahan yang ia bantu lakukan. Dan ketika orang-orang berkuasa menyadari apa yang sebenarnya terjadi—bahwa ini ulah mereka sendiri—mereka panik. Mereka membatalkan proyek, mengubur Rajawala, menghapus nama Maya Hartono, dan berbohong pada seluruh dunia bahwa Leviathan adalah monster laut yang datang entah dari mana."
Rangga menatap layar—peta bukaan di dasar Palung Tengah, mulut gelap yang memuntahkan kiamat. Ia memikirkan ibu dan ayahnya yang tewas di gelombang pertama. Memikirkan Bara yang menarik tuas reaktor. Memikirkan truk keempat, dan Indra, dan ribuan orang yang antre ransum di lapangan dalam.
Semuanya. Karena seseorang membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup.
"Sang Induk," kata Rangga, suaranya dingin dan jernih, "bukan raja yang lahir dari laut kita. Ia datang dari sisi lain pintu itu. Ia yang pertama keluar. Dan ia memanggil yang lain."
"Dan satu-satunya mesin yang dirancang untuk menutup pintu itu," kata Laras, menatap ke arah hanggar tempat Rajawala berdiri dalam gelap, "adalah baja yang menjadi tubuhmu. Dengan 'muatan' yang Maya Hartono tanam di intinya. Apa pun itu."
Rangga menutup matanya. Ia masih bisa merasakan gema kesadaran Sang Induk di tulangnya, kelaparan kuno akan kekosongan, dan kalimat yang ditanam langsung ke benaknya: *Aku menunggu yang sepertimu sejak sebelum daratanmu mengenal namaku.*
Sekarang ia mengerti kalimat itu. Sang Induk tidak menunggu Rangga. Ia menunggu Rajawala—mesin yang dibangun untuk membunuhnya, mesin yang ia tahu suatu hari akan datang lewat pintu yang sama yang ia gunakan untuk masuk.
"Kalau begitu," kata Rangga, membuka mata, menatap Laras dan Adit dalam cahaya pucat laboratorium, "kita tidak sedang berperang melawan monster. Kita sedang membersihkan kesalahan kita sendiri. Dan satu-satunya cara menutup pintu itu—" ia menelan, "—adalah membawa Rajawala turun ke dasar Palung Tengah, ke bukaan itu, ke Sang Induk."
Di luar laboratorium, di luar tiga lapis dinding, laut timur bergemuruh dalam gelap—dan jauh di dasarnya, sebuah pintu yang dibuka manusia lima belas tahun lalu masih menganga, memuntahkan kiamat satu demi satu, menunggu seseorang yang cukup berani untuk turun dan menutupnya selamanya.