Mereka memutuskan harus tahu lebih banyak. Kalau Sang Induk benar-benar memandu Leviathan secara langsung, maka di suatu tempat ada sinyal—sebuah frekuensi, sebuah jalur kendali—yang mungkin bisa ditangkap.
Dan Adit punya teori berbahaya tentang cara menangkapnya.
"Sinkronisasi tinggi," jelas Adit, gugup, di hanggar yang dikosongkan untuk eksperimen. "Saat kau melewati delapan puluh lima persen, inti Rajawala beresonansi dengan sesuatu di laut. Aku pikir—aku tidak yakin, tapi aku pikir—inti yang dirancang Maya Hartono mungkin sensitif terhadap frekuensi yang sama yang dipakai Sang Induk untuk memandu gerombolan. Kalau kau naik cukup tinggi, dalam kondisi terkendali, Rajawala mungkin bisa... mendengar."
"Kau menyuruh Rangga mendorong sinkronisasi ke titik yang melebarkan retak intinya," potong Laras, tajam. "Sengaja."
"Aku tahu." Adit menelan. "Tapi kalau kita bisa menangkap jalur kendali Sang Induk, kita mungkin bisa mengganggunya. Itu bisa menyelamatkan ribuan nyawa. Aku tidak menyukai taruhannya. Tapi taruhan sebaliknya lebih buruk."
Rangga menatap Rajawala. Garis merah pudar di dadanya berpijar lembut dalam gelap hanggar, dan ia teringat apa yang ia rasakan tiap kali sinkron tinggi—getaran tertahan, seperti napas menahan sakit. "Aku coba," katanya. "Tapi Adit, kalau retaknya melebar terlalu jauh—kau tarik aku keluar. Berapa pun yang kita tangkap, hidup pilot lebih dulu. Janji."
"Janji."
Mereka naikkan sinkronisasi perlahan. Jarum menancap di tengkuk Rangga, kesadarannya melebur ke dalam baja. Tujuh puluh persen. Delapan puluh. Hanggar lenyap; ia menjadi Rajawala, tubuhnya logam, jantungnya inti reaktor yang retak dan berdenyut.
Delapan lima.
Sesuatu berubah. Bukan suara—lebih dalam dari suara. Sebuah getaran di dasar kesadarannya, seperti merasakan gemuruh ombak lewat telapak kaki di pasir. Rangga menahan napas dan mendorong lebih dalam.
Delapan delapan.
Dan ia mendengarnya.
Bukan dengan telinga. Dengan seluruh dirinya. Sebuah dengung kolektif yang luas dan tanpa dasar—bukan satu suara, tapi jutaan, semua bergetar pada nada yang sama, semua tunduk pada satu denyut tunggal yang datang dari kedalaman yang tak terbayangkan. Rangga merasakan ribuan Leviathan di laut sekaligus, bukan sebagai makhluk-makhluk terpisah, tapi sebagai bagian dari satu tubuh besar, jari-jari dari satu tangan, sel-sel dari satu organisme raksasa yang berpikir dengan pikiran tunggal.
Dan di pusat semuanya, sesuatu menatap balik.
Ia merasakan kesadaran itu memutar perhatiannya, perlahan, seperti makhluk raksasa membuka satu mata di kegelapan. Ia merasakan beratnya—usia yang tak terukur, kesabaran yang tak terbayangkan, dan kelaparan yang bukan kelaparan akan makanan. Kelaparan akan kekosongan. Keinginan untuk menjadikan daratan sesunyi dasar laut.
*Kau bukan satu dari kami.* Bukan kata-kata. Lebih seperti pengetahuan yang ditanam langsung ke dalam tulangnya. *Tapi kau membawa serpihan dari yang mencoba menghentikan kami. Aku mengenalimu, baja kecil. Aku menunggu yang sepertimu sejak sebelum daratanmu mengenal namaku.*
Rangga menjerit. Bukan ketakutan—rasa sakit. Kesadaran itu menekan ke dalam pikirannya seperti tekanan laut dalam, dan retak di inti Rajawala melebar, garis merah di dada berkedip liar, sinkronisasi melonjak ke sembilan puluh, sembilan satu, di luar kendalinya—
"TARIK DIA KELUAR!" Laras berteriak. "ADIT, SEKARANG!"
Adit membanting sakelar pemutus. Sinkronisasi runtuh—sembilan puluh ke tujuh puluh ke empat puluh—dan Rangga terlempar kembali ke tubuhnya sendiri dengan jeritan, terbatuk darah dari hidung, jatuh ke lantai kursi kemudi. Suara kolektif itu lenyap. Hanggar kembali. Dengung kompresor. Tetes air.
Mereka mengangkatnya keluar, gemetar, pucat, mata liar.
"Aku mendengarnya," bisik Rangga, ketika napasnya kembali. "Sang Induk. Ia bukan komandan yang memerintah pasukan, Laras. Leviathan bukan tentaranya. Mereka adalah... dirinya. Semua. Setiap Hiu, setiap Kraken, setiap mata merah di kabut—mereka satu organisme. Satu makhluk yang menyebar ke seluruh laut. Sang Induk adalah otaknya, dan mereka adalah jari-jarinya."
Adit memucat. "Satu organisme... berarti membunuh mereka satu per satu tidak ada artinya. Selama otaknya hidup, ia bisa menumbuhkan jari-jari baru tanpa batas."
"Itu sebabnya lima belas tahun perang tidak pernah menang." Laras menatap Rangga yang gemetar, lalu menatap Rajawala. "Kita membunuh tangan, dan tubuhnya menumbuhkan tangan baru. Satu-satunya cara menghentikannya—"
"—adalah membunuh otaknya," Rangga menyelesaikan, menyeka darah dari bibirnya. "Sang Induk sendiri. Di Palung Tengah."
Ia menatap garis merah Rajawala yang masih berkedip gelisah dalam gelap. Maya Hartono tahu ini. Lima belas tahun lalu, sebelum yang lain, ia tahu bahwa musuh bukanlah gerombolan, melainkan satu makhluk tunggal yang menyamar sebagai gerombolan. Dan ia membangun Rajawala bukan untuk membunuh tangannya.
Ia membangunnya untuk menjangkau otaknya.