Mereka pulang dari celah Tenggara dalam diam. Tujuh Baja yang berangkat, enam yang kembali. Hanggar menyambut mereka dengan kekosongan yang lebih nyaring daripada sirine mana pun—satu petak parkir kini tinggal lantai beton telanjang, tempat Banteng seharusnya berdiri.
Tiga hari setelahnya, kabut datang.
Bukan kabut biasa. Kabut tebal abu-abu kehijauan menggulung dari laut dan menyelimuti seluruh garis pantai timur, tidak mau pergi walau matahari naik. Sensor jarak jauh Pusat buta menembusnya. Drone pengintai dikirim, tidak kembali.
"Aku tidak suka ini," gumam Adit, mempelajari pembacaan atmosfer di ruang kontrol. "Kabut ini tidak alami. Komposisinya—ada partikel organik di dalamnya. Seolah Leviathan mengeluarkannya. Menanamnya."
"Mereka mengaburkan mata kita," kata Laras, berdiri di belakangnya. "Mereka tidak pernah melakukan ini sebelumnya."
Patroli dikirim. Rangga ikut, Rajawala bergerak hati-hati menyusuri garis pantai yang tenggelam dalam kabut, sensor visual nyaris tak berguna, hanya bergantung pada gema akustik dan getaran tanah. Dua Baja lain mengawalnya, satu di kiri, satu di kanan, terhubung lewat tali komunikasi karena radar mati.
Lalu Rangga melihatnya.
Sepasang titik merah. Menyala di dalam kabut, di kejauhan, di tempat yang seharusnya kosong. Ia mengangkat lengan Rajawala, bersiap. Sepasang mata merah itu—tinggi mata Hiu, tapi cara mereka bergerak salah. Tidak menyerang. Mengamati.
"Kontak," Rangga melaporkan pelan ke saluran. "Satu Leviathan. Kelas Hiu, mungkin. Tapi ia... ia hanya menatapku."
Hiu tidak menatap. Hiu menyerang. Hiu berburu dengan kelaparan murni, melempar diri ke sasaran tanpa ragu. Tapi makhluk di dalam kabut ini diam, mata merahnya terkunci pada Rajawala, kepalanya sedikit miring—seperti sesuatu yang sedang berpikir.
Rangga melangkah maju selangkah. Mata merah itu mundur selangkah. Persis sama. Meniru.
"Adit," kata Rangga, jantungnya mulai berpacu, "kau merekam ini?"
"Merekam." Suara Adit tegang. "Rangga, geraknya... ia membaca gerakanmu. Ia menjaga jarak. Hiu tidak pernah—"
Makhluk itu bergerak. Cepat, tapi bukan untuk menyerang—untuk mengelilingi. Ia berputar mengitari Rajawala dalam kabut, menjaga jarak konstan, mempelajari sudut, mencari celah. Dan saat Rangga berbalik mengikutinya, dua pasang mata merah lain menyala di sisi yang baru saja ia tinggalkan. Lalu tiga. Lalu lima.
Mereka mengepungnya. Dengan sabar. Dengan koordinasi yang dingin dan cerdas, jauh melampaui naluri berburu kawanan Hiu biasa.
"Mereka memancingku berbalik supaya bisa mengepung dari belakang," Rangga menyadarinya dengan ngeri. "Mereka memikat. Mereka berpikir."
"Mundur, Rangga!" Laras di saluran. "Itu jebakan—tarik kedua pengawalmu dan mundur dari kabut sekarang!"
Rangga menghantam mundur, merobek lewat dua makhluk yang mencoba menutup jalurnya. Mereka bertarung berbeda—tidak melempar diri membabi buta, tapi mengincar sambungan pelat, sendi lutut, titik lemah, seolah mereka tahu di mana Rajawala paling rentan. Salah satunya nyaris melumpuhkan lutut kanan Rajawala dengan satu gigitan presisi sebelum Rangga merobek lehernya.
Ketiga Baja keluar dari kabut babak belur tapi utuh. Di belakang mereka, sepasang-sepasang mata merah berhenti di tepi kabut—tidak mengejar ke wilayah terbuka, mundur kembali ke dalam tabir abu-abu kehijauan, menunggu.
Di ruang kontrol, mereka memutar ulang rekaman berkali-kali. Adit memucat lebih dengan tiap pemutaran.
"Ini jenis baru," katanya akhirnya. "Atau Hiu lama yang... berubah. Lihat pola geraknya. Mereka berkoordinasi tanpa sinyal akustik yang biasa dipakai kawanan. Tidak ada panggilan berburu. Tidak ada suara. Mereka bergerak seolah dikendalikan oleh satu pikiran tunggal. Seolah ada yang memandu mereka dari jauh, secara langsung, real-time."
Rangga merasa dingin yang sudah ia kenal merayap kembali. "Sang Induk."
Laras menatap rekaman mata merah yang menyala di kabut. "Sampai sekarang Leviathan datang seperti badai—buta, lapar, brutal, tapi bodoh. Kita menang karena kita lebih pintar." Suaranya turun. "Kalau Sang Induk mulai memandu mereka langsung—memberi mereka kecerdasannya—maka keunggulan terakhir kita lenyap. Mereka tidak hanya akan datang lebih banyak. Mereka akan datang lebih pintar."
Rangga menatap mata merah beku di layar—mata yang mengamati, meniru, berpikir. Untuk pertama kalinya sejak Kode Hitam, ia merasa bahwa musuh di luar dinding bukan sekadar gerombolan binatang.
Musuh itu sedang belajar tentang mereka. Dan di suatu tempat di kedalaman Palung Tengah, sesuatu yang sangat besar dan sangat sabar sedang menatap balik—lewat ribuan pasang mata merah di dalam kabut.