Sirine itu bukan peringatan dini lagi. Itu serangan penuh.
Gerombolan Leviathan menghantam garis timur sebelum fajar—bukan kelompok pengintai, tapi gelombang sejati, ratusan tubuh hitam mengalir dari laut menuju celah Tenggara, satu-satunya jalur yang masih melindungi punggung Komando Pusat. Kalau celah itu jatuh, jalan ke Pusat terbuka.
Tujuh Baja—delapan dikurangi satu yang sedang diperbaiki—dikerahkan ke celah itu. Rangga di Rajawala, Laras di unit komandonya, dan lima pilot lain yang sudah Rangga kenal dalam minggu-minggu ini: cukup untuk tahu nama mereka, belum cukup untuk siap kehilangan mereka.
Salah satunya bernama **Indra**. Salah satu pilot termuda di skuadron, dua puluh tiga tahun, mengendarai Baja bernama Banteng—unit berat berlapis baja tebal, lambat tapi tak tergoyahkan. Ditarik dari sektor utara untuk operasi ini, Indra adalah satu dari sedikit yang menyambut Rangga tanpa cibiran. Ia pernah berbagi ransum dengan Rangga di koridor hanggar dan bertanya tentang Tanjung, tentang laut yang Rangga tumbuh di tepinya.
Celah Tenggara adalah jurang sempit di antara dua punggung batu—choke point alami. Rangga, dengan logika montirnya, telah merancang formasi: Banteng milik Indra sebagai sumbat di mulut jurang, menahan gerombolan agar maju satu-satu, sementara Baja lain menebas dari sisi.
Selama dua jam, formasi itu bertahan. Banteng berdiri seperti dinding, menampar balik gelombang demi gelombang Hiu. Rangga merobek dari sayap kiri, Laras dari kanan, dan untuk pertama kalinya Rangga merasa skuadron ini bergerak sebagai satu tubuh.
Lalu Kraken muncul.
Bukan satu. Tiga ekor, naik dari laut di belakang gerombolan Hiu, tentakel raksasa menjulang ke langit subuh. Salah satunya menghantam dinding batu utara—batu yang menahan formasi—dan punggung jurang mulai runtuh.
"Celahnya melebar!" Laras berteriak di saluran. "Kalau dinding utara jatuh, gerombolan menyebar! Tahan—"
Tapi reruntuhan batu sudah berjatuhan, membuka celah baru di sisi Indra. Puluhan Hiu mengalir lewat lubang itu, mengarah lurus ke jalur belakang Pusat.
"Aku tutup!" suara Indra di saluran, tenang, terlalu tenang. "Banteng cukup besar untuk menyumbat lubang itu!"
"Indra, jangan—" Rangga melihatnya. Untuk menyumbat lubang baru, Indra harus meninggalkan posisinya di mulut jurang, masuk ke dalam celah runtuh, dan menahan dengan tubuhnya sendiri—dikepung dari segala sisi, tanpa dukungan, tanpa jalan keluar.
"Tidak ada pilihan lain, Rangga." Banteng bergerak, melangkah berat ke dalam lubang yang menganga. "Kalau aku tidak menutupnya, mereka sampai di pengungsi. Kau bilang sendiri—yang melindungi tidak boleh lari." Sedikit tawa di saluran, lelah dan tulus. "Ternyata mottomu menular."
Banteng menjejalkan tubuh besarnya ke dalam celah runtuh, lengan terentang, menahan dinding batu yang ambruk dengan punggungnya dan membendung aliran Hiu dengan tubuhnya. Gerombolan menghantamnya dari empat arah sekaligus. Tentakel Kraken melilit kaki Banteng. Hiu merobek pelat lehernya, dadanya, tungkainya.
Banteng tidak bergerak. Banteng bertahan.
"INDRA!" Rangga membanting Rajawala menuju celah, tapi Laras memotong jalurnya.
"Tahan posisimu!" Suara Laras retak, dan Rangga tahu ini menyakitkannya juga. "Kalau kau ikut masuk, kita kehilangan dua, bukan satu! Indra membeli waktu untuk kita menutup formasi—jangan sia-siakan!"
Rangga memaksa dirinya tetap di posisi, menebas Hiu yang mencoba lewat sela, sementara di dalam celah runtuh, Banteng perlahan tenggelam dalam lautan tubuh hitam. Pelatnya terkoyak. Salah satu lengannya putus. Tapi tubuhnya tetap menyumbat lubang itu, menahan, menahan, menahan—
"Banteng masih punya inti reaktor utuh," suara Indra di saluran, makin lemah, makin jauh. "Kupakai. Mungkin ini menutup celahnya untuk selamanya."
"INDRA, TIDAK—"
"Sampaikan pada Sari," kata Indra, dan Rangga membeku karena Indra mengingat nama gadis kecil yang pernah Rangga ceritakan, "bahwa pilot di Pusat menjaga lautnya. Sampai akhir."
Cahaya putih meledak dari dalam celah Tenggara.
Bukan seputih ledakan Garuda di Tanjung—lebih kecil, lebih cepat—tapi cukup untuk menelan selusin Leviathan dan meruntuhkan kedua punggung batu jurang, menutup celah Tenggara di bawah ribuan ton reruntuhan. Gelombang panas menghantam Rajawala, dan Rangga merasakannya bahkan lewat sinkronisasi: kehilangan, lagi, seperti luka yang tak pernah benar-benar sembuh sejak Tanjung.
Banteng lenyap. Indra lenyap.
Ketika debu mengendap dan gerombolan yang tersisa mundur ke laut—jalur ke Pusat tertutup oleh reruntuhan jurang—skuadron berdiri diam di medan yang sunyi.
"Sembilan jadi tujuh," Laras berkata pelan di saluran, suara seorang komandan yang sudah terlalu sering menghitung mundur. "Tujuh sekarang."
Rangga menatap reruntuhan yang mengubur Banteng. Indra mengingat nama Sari. Indra mengulang motto Bara. Indra mati menyumbat lubang dengan tubuhnya sendiri agar gadis kecil di pengungsian Pusat bisa tidur satu malam lagi.
"Tujuh," Rangga mengulang, dan ia menyematkan nama Indra di sebelah nama-nama lain yang ia bawa: Bara, truk keempat, dan kini pilot muda yang berbagi ransum dengannya di koridor hanggar.
Daftar itu makin panjang. Dan Rangga tahu—dengan kepastian dingin yang membuatnya ingin muntah—daftar itu belum berhenti tumbuh.