Butuh tiga malam menyusuri arsip terbatas, dan bantuan Adit yang membobol basis data personalia lama dengan jari gemetar dan keringat di kening, sebelum nama itu muncul.
Mereka bertiga berkumpul di bilik arsip Laras lewat tengah malam—Rangga, Laras, dan Adit—mengelilingi satu layar tua yang menampilkan sebuah file personalia yang seharusnya sudah dihapus lima belas tahun lalu. Adit menemukannya di cadangan terenkripsi sistem cadangan; sebuah salinan yang lolos dari penghapusan.
"Aku menemukan namanya," bisik Adit, walau tak ada orang lain yang bisa mendengar. "Kepala Perancang Proyek Rajawala. Nama yang dihapus dari semua catatan resmi."
Di layar, sebuah foto pudar: seorang wanita berusia akhir empat puluhan, rambut diikat ketat, mata tajam di balik kacamata, jas lab bertanda lambang Divisi Riset Lanjutan pra-perang. Di bawah fotonya, sebuah nama.
**Dr. Maya Hartono.**
"Doktor Maya Hartono," Laras membacanya pelan, dan ada getar aneh di suaranya. "Aku ingat dia. Samar. Ia jarang muncul dalam rapat militer. Selalu di laboratoriumnya. Orang-orang menyebutnya 'wanita yang bicara dengan mesin'."
Adit menggulir file. "Spesialisasinya bukan persenjataan. Bukan rekayasa Baja konvensional. Dengarkan ini—" Ia menunjuk satu baris. "Neurosibernetika. Antarmuka kesadaran. Dan—" Jarinya berhenti, dan ia menelan. "Biologi laut dalam. Khususnya: organisme Palung Tengah."
Ruangan jadi sangat hening.
Rangga merasa dingin merayap di tengkuknya. "Tunggu. Perancang Rajawala mempelajari Palung Tengah? Tempat asal Leviathan? Sebelum Leviathan muncul?"
"Itu yang dikatakan catatannya." Adit mendorong kacamatanya naik. "Dr. Maya Hartono ditugaskan ke survei laut dalam Palung Tengah dua tahun sebelum gelombang pertama. Lalu ia ditarik mendadak, dipindahkan ke Divisi Riset Lanjutan, dan diberi proyek baru dengan dana hampir tak terbatas: merancang Baja yang berbeda dari semua yang lain. Rajawala."
Laras menatap foto wanita di layar. "Ia merancang Rajawala bukan secara umum untuk melawan Leviathan," katanya, dan potongan-potongan teka-teki mulai bergabung di kepalanya. "Ia merancangnya untuk melawan sesuatu yang spesifik. Sesuatu yang ia lihat di Palung Tengah. Sesuatu yang ia tahu akan datang."
"Sang Induk," bisik Rangga.
Tidak ada yang membantah. Karena tidak ada cara lain untuk menjelaskannya. Seorang ilmuwan mempelajari Palung Tengah dua tahun sebelum perang, lalu mendadak diberi proyek untuk membangun mesin tanpa sayap, tanpa senjata, dengan inti misterius dan sistem sinkronisasi yang "memilih" pilotnya—dan proyek itu dibatalkan dengan ketakutan, lalu dirahasiakan. Maya Hartono tahu. Ia tahu apa yang ada di dasar Palung Tengah jauh sebelum yang lain. Dan ia membangun Rajawala sebagai jawabannya.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Rangga. "Ke mana ia menghilang?"
Adit menggulir ke akhir file. Layarnya menampilkan satu baris terakhir, lalu kosong.
"Laporan terakhir tentang Dr. Maya Hartono bertanggal malam yang sama dengan pembatalan resmi Proyek Rajawala," baca Adit perlahan. "Setelah itu—tidak ada. Tidak ada catatan kematian. Tidak ada catatan pemindahan. Tidak ada makam. Ia hanya... lenyap. Bersama dengan semua dokumentasi inti Rajawala yang seharusnya ia tulis."
"Ia membawa rahasianya," kata Laras pelan. "Atau seseorang memastikan rahasianya pergi bersamanya."
Rangga menatap foto pudar wanita itu—mata tajam yang menatap balik dari masa lalu lima belas tahun. Wanita yang membangun mesin yang menjadi tubuhnya. Wanita yang tahu sesuatu yang membuat orang berkuasa ketakutan. Wanita yang merancang Rajawala untuk melindungi pilotnya dengan niat melindungi—bukan kemenangan, bukan dendam. Sekarang Rangga mengerti mengapa. Maya Hartono tidak membangun senjata. Ia membangun perisai. Dan perisai membutuhkan tangan yang ingin melindungi untuk memegangnya.
"'Muatan' di dalam inti," kata Rangga, menatap Laras dan Adit bergantian. "Yang kau bilang dirancang khusus. Maya Hartono yang menaruhnya di sana. Apa pun itu—itu jawabannya untuk Sang Induk."
"Dan satu-satunya orang yang tahu cara menggunakannya," kata Laras, "menghilang lima belas tahun lalu."
Adit mematikan layar, dan wajah Maya Hartono lenyap ke dalam gelap. Tapi namanya kini terukir di benak mereka bertiga, sebuah kunci yang ujungnya hilang, sebuah utang yang ditinggalkan seorang ilmuwan untuk ditebus oleh seorang bocah montir lima belas tahun kemudian.
"Kita temukan apa yang ia tinggalkan," kata Rangga. "Apa pun yang ada di dalam Rajawala. Bara mengandalkannya. Maya Hartono mengandalkannya. Dan ribuan orang yang antre ransum di luar sana—mereka tidak tahu nama itu, tapi mereka mengandalkannya juga."
Di luar bilik arsip, jauh di atas tiga dinding, sirine peringatan dini meraung—kali ini lebih panjang, lebih dekat, lebih nyata daripada sebelumnya.