Subuh berikutnya, Laras memanggil Rangga ke ruang arsip pribadinya—bukan ruang strategi, bukan hanggar, tapi sebuah bilik sempit di lapis dinding kedua yang pintunya butuh tiga kode untuk dibuka.
"Aku berutang sesuatu padamu," kata Laras tanpa basa-basi, menutup pintu di belakang mereka. "Kebenaran. Atau setidaknya, bagian yang boleh kuberikan."
Rangga berdiri di tengah ruangan yang dipenuhi rak berisi tabung data tua dan map berstempel rahasia. "Kebenaran tentang apa?"
"Tentang Rajawala. Tentang mengapa aku tahu lebih banyak daripada yang pernah kuakui." Laras menarik sebuah tabung data dari rak, memutarnya di tangannya. "Saat aku tiba di Tanjung tiga hari setelah Bara gugur, aku berkata Rajawala adalah prototipe seri terakhir yang ditinggalkan. Itu benar. Tapi tidak lengkap."
Ia memasukkan tabung ke proyektor tua. Cahaya biru pucat memenuhi ruangan, membentuk gambar hologram yang berkedip-kedip: skema Rajawala, tapi versi yang berbeda dari yang Rangga kenal. Garis-garis tambahan di sekujur tubuhnya, anotasi padat, dan di tengah dada—di tempat inti reaktor—sebuah simbol yang tidak Rangga mengerti.
"Aku bukan sekadar perwira yang kebetulan mengenal Bara," kata Laras pelan. "Lima belas tahun lalu, sebelum perang pecah, aku ditugaskan sebagai perwira penghubung militer untuk Proyek Rajawala. Aku ada di sana sejak awal. Aku melihat mesin ini dirancang."
Rangga membeku. "Kau... kau tahu mesin ini sejak awal? Selama ini?"
"Aku tahu sebagian." Laras menatap hologram, dan ada sesuatu seperti rasa bersalah lama di wajahnya. "Rajawala bukan dirancang sebagai Baja biasa, Rangga. Delapan Baja lain—Garuda, semuanya—mereka senjata. Dibuat untuk membunuh Leviathan sebanyak mungkin. Rajawala berbeda. Ia dirancang untuk satu tujuan spesifik yang bahkan aku tidak diberi tahu sepenuhnya. Itu sebabnya ia tidak punya senjata bawaan, tidak punya sayap—semua sumber dayanya dialihkan ke intinya, ke sistem sinkronisasi generasi baru, dan ke sesuatu di dalam reaktor yang oleh tim perancang disebut hanya sebagai 'muatan'."
"Muatan?" Rangga melangkah mendekat ke hologram. "Muatan apa?"
"Aku tidak tahu." Laras mematikan proyektor, dan ruangan kembali gelap. "Itu kebenaran jujurku. Klasifikasi 'muatan' di atas pangkatku, bahkan saat itu. Yang kutahu hanya ini: Proyek Rajawala dibatalkan bukan karena perang. Itu kebohongan resmi. Proyek dibatalkan karena tidak ada pilot yang bisa sinkron melewati ambang yang dibutuhkan untuk mengaktifkan 'muatan' itu—dan beberapa orang di Komando Pusat menjadi takut pada apa yang mereka buat. Mereka mengubur Rajawala di depot Tanjung dan berharap dunia melupakannya."
Rangga berdiri diam dalam gelap, jantungnya berdebar. "Kenapa kau menyembunyikan ini dariku?"
"Karena saat di Tanjung, kau hanya bocah montir yang ketakutan, dan aku butuh pilot, bukan misteri yang membuatmu lari." Laras menyalakan lampu ruangan, menatapnya lurus. "Dan karena selama bertahun-tahun, aku sendiri tidak yakin mana yang kebenaran dan mana yang propaganda. Tapi setelah melihat retak di inti Rajawala, setelah melihat caranya bereaksi padamu—aku tidak bisa lagi menyimpannya sendiri. Mesin itu menyimpan sesuatu, Rangga. Sesuatu yang dirancang khusus. Dan aku punya firasat buruk bahwa 'muatan' itu adalah satu-satunya alasan kita mungkin masih punya harapan melawan Sang Induk."
Rangga menatap tangannya, ke garis kulit tempat sinkronisasi menancap di tengkuknya tiap kali ia masuk Rajawala. Selama ini ia mengira ia mengendarai mesin perang yang ditinggalkan. Ternyata ia mengendarai sebuah rahasia yang membuat orang-orang berkuasa ketakutan.
"Siapa yang merancangnya?" tanyanya. "Kalau kau ada di proyek itu—siapa kepala perancangnya? Orang yang tahu apa 'muatan' itu?"
Laras hening sejenak. Lalu, untuk pertama kalinya, Rangga melihat keraguan murni di wajah perwira tegas itu.
"Itu," kata Laras pelan, "adalah misteri yang bahkan aku belum berani membukanya. Karena perancang itu menghilang pada malam proyek dibatalkan. Dan tidak ada satu pun catatan resmi yang mau menyebut namanya."
Rangga menahan napas. Sebuah nama yang dihapus. Sebuah mesin yang ditakuti. Dan sebuah muatan yang menunggu di dalam dada baja yang menjadi tubuhnya.
"Kalau begitu," kata Rangga, "kita cari namanya."
Laras menatapnya lama, lalu mengangguk pelan—dan untuk pertama kalinya, Rangga merasa ia bukan lagi sekadar pilot yang diperintah perwiranya. Mereka sekutu sekarang, mengejar kebenaran yang sama.