Rangga tidak keluar dari kursi kemudi selama dua jam setelah Rajawala kembali ke hanggar.
Tim teknis menunggu di luar dengan tangga dan lampu sorot. Adit memanggil namanya lewat interkom tiga kali, lalu berhenti. Mereka membiarkannya. Ada hal-hal yang tidak bisa diperbaiki dengan kunci pas.
Ketika akhirnya Rangga turun, jaketnya basah keringat, matanya merah, dan ia berjalan melewati semua orang tanpa bicara. Ia masuk ke ruang istirahat pilot yang kosong, duduk di lantai di sudut, dan menatap dinding.
Truk keempat. Ia terus melihatnya. Wajah-wajah kecil di jendela belakang. Harapan di mata mereka ketika melihat Rajawala datang. Dan ia tidak sampai. Dua puluh meter. Ia berjarak dua puluh meter dan gagal.
"Aku bukan kakakku," katanya pada dinding, suaranya pecah. "Bara tidak akan kalah. Bara akan menjangkau truk itu."
"Bara pernah kehilangan seluruh konvoi."
Suara Laras. Ia berdiri di ambang pintu, masih dalam seragam tempur yang berlumur sisa pertempuran. Ia masuk, menutup pintu, dan duduk di lantai di hadapan Rangga—bukan di kursi, di lantai, sejajar dengannya.
"Jangan bohong untuk menghiburku," kata Rangga pahit.
"Aku tidak pernah berbohong untuk menghibur. Itu bukan kebiasaanku." Laras mengeluarkan sesuatu dari saku dada: kepingan logam tua, lencana pilot yang catnya sudah terkelupas. "Tujuh tahun lalu. Garis pantai Barat. Bara memimpin evakuasi tiga benteng sekaligus. Garuda menahan gelombang Kraken selama empat jam. Dan ia kehilangan satu konvoi penuh—seratus dua belas orang—karena jembatan runtuh sebelum mereka menyeberang."
Rangga mengangkat kepala.
"Aku ada di sana," lanjut Laras. "Aku menariknya mundur, sama seperti aku menarikmu hari ini. Dan tahu apa yang ia lakukan setelahnya?" Laras menatap lencana di telapaknya. "Ia mengunci diri di Garuda selama dua hari. Tidak makan. Tidak bicara. Komando Pusat mengirim psikolog, ia mengusirnya. Pada hari ketiga aku masuk paksa ke kursi kemudi Garuda dan menemukan Sang Penjaga Timur yang legendaris itu—pilot tak terkalahkan, lebih dari tiga puluh Leviathan—meringkuk seperti anak kecil, berkata berulang-ulang bahwa ia ingin berhenti. Bahwa ia tidak sanggup lagi."
"Tidak mungkin." Suara Rangga nyaris tak terdengar. "Bara tidak pernah... ia selalu—"
"Tegar? Tenang? Tak terguncang?" Laras tersenyum tipis, getir. "Itu yang ia tunjukkan padamu, Rangga. Karena ia kakakmu, dan ia ingin kau punya satu orang di dunia ini yang tampak tak bisa runtuh. Tapi ia runtuh. Berkali-kali. Ia hanya tidak pernah membiarkanmu melihatnya." Laras meletakkan lencana tua itu di lantai di antara mereka. "Yang membedakan bukan apakah kau runtuh. Semua yang melindungi runtuh. Yang membedakan adalah apakah kau bangun lagi pagi berikutnya dan kembali ke kursi itu."
Rangga menatap lencana berkarat itu. Lencana Bara. Tujuh tahun, seratus dua belas orang, dan kakaknya yang ingin berhenti.
"Bagaimana ia bangun lagi?" tanya Rangga.
"Aku bertanya hal yang sama padanya." Laras menatap dinding, seolah melihat sesuatu yang jauh. "Ia bilang—'Karena kalau aku berhenti, orang berikutnya yang menggantikanku mungkin tidak sebaik aku, dan lebih banyak yang mati. Jadi aku harus tetap jadi yang terbaik, supaya yang kuhilangkan sesedikit mungkin.'" Ia menoleh ke Rangga. "Itu beban yang sama yang kau pikul sekarang. Bukan karena kau adiknya. Tapi karena kau memilih untuk melindungi. Dan yang melindungi—"
"—tidak boleh lari." Rangga menyelesaikannya, suaranya serak.
"Tidak boleh lari," Laras mengangguk. "Tapi boleh menangis. Boleh runtuh. Boleh berduka untuk truk keempat. Berduka berarti kau masih manusia, Rangga. Dan dunia ini butuh penjaga yang masih manusia. Bukan mesin."
Rangga memungut lencana Bara dari lantai. Logam dingin di telapaknya, ringan, tapi terasa seberat seluruh garis pantai. Ia mengepalnya erat-erat sampai sudutnya menekan kulit.
"Kau menyimpan ini tujuh tahun," katanya.
"Aku menyimpannya untuk hari ketika seseorang membutuhkannya lebih dariku." Laras berdiri, dan menatapnya dari atas. "Simpan. Itu milikmu sekarang."
Ketika Laras pergi, Rangga tetap duduk di lantai untuk waktu yang lama, menggenggam lencana kakaknya. Ia masih melihat truk keempat. Ia mungkin akan selalu melihatnya. Tapi untuk pertama kalinya sejak Anak Pesisir runtuh, ia juga melihat sesuatu yang lain: Bara, meringkuk dalam Garuda, ingin berhenti—dan bangun lagi pagi berikutnya.
Rangga menyeka wajahnya, berdiri, dan berjalan kembali ke hanggar tempat Rajawala menunggu dalam gelap.