Benteng kecil itu bernama Anak Pesisir. Dua ratus tiga puluh orang, satu meriam railgun tua, tembok beton yang sudah lebih banyak retak daripada utuh. Letaknya tiga puluh kilometer di timur Pusat, di garis pertahanan yang kini mengelupas seperti cat tua.
Rangga sudah berdiri di dalam Rajawala selama empat jam ketika perintah mundur datang.
"Tarik mundur seluruh garis ke punggung bukit Selatan." Suara jenderal tua bergema di saluran komando, parau dan letih. "Anak Pesisir tidak bisa dipertahankan. Gerombolan Hiu menerobos celah utara. Kita kehilangan lebih banyak dengan bertahan."
"Masih ada penduduk di dalam!" Rangga berteriak, sinkronisasi melonjak ke delapan puluh tiga persen karena emosi. Rasa sakit menjalar di lengannya—lengan Rajawala—tempat seekor Hiu telah merobek pelat satu jam lalu. "Evakuasi belum selesai!"
"Konvoi terakhir tidak akan sempat keluar sebelum gerombolan utama tiba." Jenderal itu diam sejenak, dan dalam diam itu ada beban tiga puluh tahun memerintahkan orang untuk mati. "Kita korbankan benteng itu, atau kita kehilangan separuh skuadron mencoba menyelamatkannya. Itu perhitungannya, pilot."
Di kejauhan, lewat sensor Rajawala, Rangga melihatnya: gerombolan Hiu mengalir dari kabut utara seperti minyak hitam tumpah, punggung berduri memantulkan cahaya pucat. Tiga puluh ekor. Empat puluh. Lebih dari yang bisa ditahan tiga Baja yang tersisa di garis ini.
Tapi di dalam tembok Anak Pesisir masih ada lampu menyala. Masih ada orang.
Rangga melangkahkan Rajawala maju.
"Rangga." Suara Laras tajam di saluran, dari Bajanya yang berdiri di sisi kanan. "Jangan."
"Konvoi butuh sepuluh menit lagi." Rangga sudah berlari, kaki logam Rajawala menghantam pasir basah, tanpa sayap, tanpa senjata, hanya tubuh dan tekad. "Aku akan beri mereka sepuluh menit."
Ia menabrak garis terdepan gerombolan seperti banteng menabrak kawanan serigala. Rajawala merobek, menghancurkan, melempar Hiu ke laut dengan kekuatan murni. Sinkronisasi delapan lima. Delapan tujuh. Setiap luka mesin terasa seperti luka di tubuhnya sendiri—gigi Hiu merobek betis Rajawala, dan Rangga menjerit di kursi kemudi seolah dagingnya yang dikoyak.
Konvoi truk merangkak keluar gerbang selatan Anak Pesisir. Satu. Dua. Tiga. Lampu belakangnya menjauh ke arah bukit.
Tapi truk keempat mogok di gerbang.
Rangga melihatnya dari sela pertarungan. Truk itu penuh—ia bisa melihat wajah-wajah kecil di jendela belakang, anak-anak, ibu-ibu menatap ke arah Rajawala dengan harapan yang membuat dadanya runtuh. Truk itu mogok. Dan gerombolan Hiu sudah mengalir mengelilinginya, terlalu banyak, terlalu cepat.
"RANGGA, MUNDUR!" Laras berteriak. "KAU TIDAK BISA MENJANGKAU MEREKA!"
Ia mencoba. Tuhan, ia mencoba. Ia membanting Rajawala menembus dinding Hiu menuju truk itu, sinkronisasi melonjak ke sembilan puluh, retak di intinya menjerit, garis merah di dadanya berkedip liar. Ia merobek lima Hiu dalam sepuluh detik. Tapi untuk tiap satu yang jatuh, dua menggantikan.
Ia berjarak dua puluh meter dari truk ketika gerombolan menelannya.
Rangga tidak melihat detailnya. Sensornya membanjir dengan tubuh hitam berduri. Tapi ia mendengar—lewat mikrofon eksternal Rajawala—satu jeritan singkat yang lalu dibungkam, dan kemudian senyap, dan kemudian truk itu tidak ada lagi.
Sesuatu di dalam Rangga patah.
Tangan-tangan logam Rajawala bergerak sendiri, didorong amarah dan duka pilotnya, membantai dengan brutalitas yang tidak ia kenali sebagai dirinya. Sinkronisasi melewati sembilan dua. Adit berteriak di saluran tentang inti yang tidak stabil. Rangga tidak mendengarnya.
Lalu sepasang tangan logam lain mencengkeram bahu Rajawala dari belakang dan menariknya mundur dengan paksa.
Baja Laras. "CUKUP." Suaranya menembus kabut amarah Rangga. "Mereka sudah pergi, Rangga. Kau tidak bisa membawa mereka kembali dengan mati di sini. Mundur. Itu perintah."
Rangga membiarkan dirinya ditarik. Rajawala mundur dari Anak Pesisir, dari truk yang sudah tidak ada, dari benteng yang sebentar lagi runtuh. Sinkronisasi turun perlahan—delapan lima, delapan, tujuh lima—dan bersamanya datang rasa sakit yang lebih buruk dari luka mesin mana pun.
Di belakang mereka, Anak Pesisir tenggelam dalam lautan tubuh hitam. Railgun tua benteng itu menembak sekali, dua kali, lalu diam selamanya.
Di kursi kemudi, dalam gelap, Rangga menangis tanpa suara. Untuk pertama kalinya ia mengerti, sungguh-sungguh mengerti, apa yang Bara rasakan setiap kali pulang. Bahwa melindungi tidak berarti menyelamatkan semua orang. Bahwa kadang yang melindungi harus memilih siapa yang mati supaya yang lain hidup—dan harus membawa pilihan itu seumur hidup.
Punggung bukit Selatan menyambut tiga Baja yang pulang dengan tangan kosong dari benteng yang tak lagi ada.