Pagi di Komando Pusat tidak ditandai matahari—tiga lapis dinding setinggi gunung menelan langit timur. Ia ditandai antrean. Antrean ransum di lapangan dalam, ribuan pengungsi berbaris dengan mangkuk timah, anak-anak menggendong adik, orang tua duduk di reruntuhan tembok sambil menunggu giliran yang entah datang entah tidak.
Rangga melihatnya dari jendela bengkel logistik, tempat ia membantu Adit mengangkut suku cadang reaktor. Ia berhenti, mangkuk solder di tangan. "Adit. Antreannya makin panjang dari kemarin."
"Pengungsi dari benteng pesisir yang jatuh terus mengalir masuk." Adit tidak mengangkat kepala dari mejanya. "Pusat menampung lebih banyak orang daripada yang dirancang."
Tapi Rangga sudah turun menyusuri tangga. Naluri montir—ketika sesuatu tidak seimbang, kau cari sumbernya. Jumlah orang naik, tapi porsi ransum mengecil. Itu masuk akal. Yang tidak masuk akal adalah gudang.
Ia melewati blok logistik tiga, lalu blok empat yang seharusnya kosong menurut papan jadwal. Tapi pintunya berembun dingin di tepinya. Pendingin menyala. Gudang kosong tidak perlu pendingin.
"Kau tersesat, Nak?"
Suara itu datang dari belakang. Rangga berbalik. Seorang perwira logistik bertubuh tambun, kerah seragamnya berbintang dua, menatapnya dengan senyum yang tidak sampai ke mata. Papan namanya: **Mayor Wibowo**.
"Saya cari ruang kompresor," kata Rangga datar. "Untuk suku cadang reaktor Rajawala."
"Salah lorong." Wibowo melangkah, menutupi pintu blok empat dengan badannya. "Lorong ini terbatas. Kembalilah ke hanggar, pilot."
Rangga mengangguk sopan, berbalik. Tapi sebelum pergi, ia melirik sela pintu blok empat yang terbuka beberapa senti. Di dalam: rak demi rak peti ransum kalengan, drum air bersih, kotak obat berstempel Palang Merah lama. Cukup untuk memberi makan separuh lapangan dalam selama berminggu-minggu.
Malam itu ia menceritakannya pada Laras di ruang strategi yang sepi.
Laras tidak terkejut, dan justru itu yang membuat Rangga marah. "Kau sudah tahu."
"Aku menduga." Laras menatap peta benteng di dinding. "Catatan ransum Wibowo tidak pernah cocok dengan jumlah pengungsi yang dilaporkannya. Ia melaporkan lebih sedikit orang daripada yang benar-benar ada di sini—supaya jatah dari gudang pusat kelihatan cukup di atas kertas. Sisanya ia timbun."
"Untuk apa? Dijual?" Rangga tidak percaya. "Di dunia begini, siapa yang masih—"
"Selalu ada yang berpikir dunia akan berakhir, lalu memutuskan mereka pantas jadi yang terakhir bertahan." Suara Laras pahit. "Wibowo menimbun untuk dirinya, keluarganya, orang-orangnya. Kalau Pusat jatuh, ia mau punya cukup untuk kabur ke benteng dalam. Ia sudah berhenti percaya kita bisa menang."
Rangga mencengkeram tepi meja. Di luar sana, ribuan orang antre dengan mangkuk timah, anak-anak tidur kelaparan, sementara di balik pintu berembun ada makanan yang cukup. "Kenapa tidak kau tangkap dia?"
"Karena Wibowo mengendalikan seluruh rantai logistik benteng." Laras menatapnya, dan untuk pertama kalinya Rangga melihat lelah di wajah perwira tegas itu. "Aku menangkap dia hari ini, distribusi air dan ransum macet besok. Ribuan orang yang antre itu malah mati lebih cepat. Politik benteng tidak sesederhana medan perang, Rangga. Di medan perang, musuh ada di luar dinding. Di sini, kadang musuh memegang kunci dapurmu."
Rangga terdiam. Ia montir. Ia mengerti mesin: kalau ada baut karat yang merusak sistem, kau cabut. Tapi Laras baru saja menunjukkan padanya sebuah mesin di mana mencabut satu baut bisa meruntuhkan seluruh konstruksi.
"Jadi kita biarkan?" tanyanya.
"Kita awasi." Laras menggulung peta. "Aku sudah menempatkan orang di logistik untuk mencatat tiap drum yang keluar masuk blok empat. Suatu hari, ketika kita punya cara mengganti dia tanpa membunuh ribuan orang, ia akan menjawab atas tiap kaleng yang dicurinya." Ia menatap Rangga lekat. "Sampai saat itu—kau tidak melihat apa pun di blok empat. Mengerti? Kalau Wibowo merasa terancam sekarang, ia bisa menyabotase distribusi karena dendam, dan korbannya bukan dia. Korbannya mereka."
Rangga menatap lampu lapangan dalam dari jendela, deretan kepala manusia yang lelah di bawah cahaya kuning. Bara bertarung melawan Leviathan dan tahu persis siapa musuhnya. Rangga baru sadar bahwa ada jenis monster lain—yang tidak datang dari laut, yang tidak berdarah hitam, yang tersenyum dan memberi hormat dan menimbun makanan di balik pintu dingin.
"Mengerti," katanya akhirnya. Tapi ia mencatat wajah Wibowo dalam ingatannya, baik-baik, seperti mencatat retak pada inti reaktor.