Hanggar bawah tanah Komando Pusat tidak pernah benar-benar sunyi. Selalu ada dengung kompresor, tetes air kondensasi dari pipa langit-langit, dan napas pelan kesembilan—tidak, kini delapan—Baja yang berdiri tegak dalam barisan seperti makam-makam logam. Rangga duduk di lantai beton dingin, punggungnya bersandar ke kaki Rajawala, kepalanya masih berdenyut dari latihan tadi.
Ia menatap tangannya. Gemetar. Bukan karena lelah biasa.
Adit muncul dari balik kaki mesin sambil membawa tablet diagnostik yang layarnya berkedip merah. Kacamatanya melorot, dan ia mendorongnya naik dengan punggung jari yang berlumur pelumas. "Naik berapa tadi, Rangga? Sinkronisasimu."
"Sembilan puluh dua." Rangga menelan ludah. "Adit, aku merasakan sesuatu. Di dada. Bukan dadaku—dadanya. Seperti tulang yang retak tapi tidak putus."
Adit tidak menjawab langsung. Ia memutar tablet, menunjukkan grafik yang naik mulus lalu tiba-tiba pecah jadi gerigi tajam di puncak. "Inti Rajawala. Setiap kali kau lewat sembilan puluh persen, ada lonjakan getaran di ruang reaktor. Lalu turun lagi seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi tidak benar-benar hilang." Ia berjongkok, menatap Rangga lurus. "Mesin ini menganggur lima belas tahun di depot lembap di Tanjung. Tidak pernah dirawat. Tidak pernah dinyalakan penuh. Lalu kau bangunkan dalam satu malam dan suruh dia membantai tujuh Hiu. Inti yang seperti itu tidak utuh, Rangga. Dia retak."
Rangga menengadah ke dada Rajawala, ke garis merah pudar yang membelah pelat gunmetal kelabu. Garis itu berpijar lembut, naik-turun, seperti orang yang tidur gelisah. "Retak seberapa?"
"Aku tidak tahu." Adit melepas kacamatanya, menggosok pangkal hidung. "Itu yang membuatku takut. Tidak ada cetak biru lengkap. Perancangnya membatalkan proyek sebelum dokumentasi inti selesai. Yang kupunya cuma serpihan arsip dan tebakan." Ia menunjuk satu titik di grafik. "Tiap dorongan ke sinkronisasi tinggi memperlebar retak itu sedikit. Mungkin satu rambut. Mungkin lebih. Tapi tidak ada yang menyembuhkannya."
Suara langkah sepatu bot bergema di koridor logam. Laras Wijaya datang, jubah seragamnya basah di bahu karena hujan di permukaan. Ia berhenti di samping mereka, menatap layar tanpa bertanya apa-apa. Perwira yang pernah bertugas bersama Bara itu tahu cara membaca grafik kerusakan tanpa kata.
"Berapa lama dia bertahan?" tanya Laras.
"Kalau Rangga bertarung normal, di bawah delapan puluh persen—mungkin berbulan-bulan." Adit menelan. "Kalau dia dipaksa ke seratus persen seperti yang akan dibutuhkan nanti—" Ia tidak menyelesaikan.
Rangga menyelesaikannya dalam hati. *Mungkin sekali. Mungkin dua kali. Lalu pecah.*
Hening menggantung di antara mereka, ditemani dengung kompresor.
Rangga berdiri, telapaknya menempel di pelat dingin kaki Rajawala. Lima belas tahun mesin ini menunggu di kegelapan depot. Menunggu seseorang yang tidak datang-datang. Dan ketika akhirnya datang, ia disuruh berlari ke neraka dengan tubuh yang sudah retak dari dalam.
"Bara pernah bilang," kata Rangga pelan, "mesin ini memilih pilotnya. Mendengkur kalau cocok." Ia menutup mata. Di balik kelopaknya, ia masih bisa merasakan getaran samar di dada Rajawala—bukan dengkuran nyaman, tapi sesuatu yang lebih menyerupai napas tertahan menahan sakit. "Dia tidak mengeluh, Adit. Padahal dia kesakitan. Sama sepertiku saat sinkronisasi."
Adit menatapnya aneh. "Rangga, itu cuma logam. Reaksi sistem—"
"Aku tahu apa yang kurasakan." Suaranya tidak keras, tapi final.
Laras meletakkan tangan di bahu Rangga. Genggamannya berat, kasar, tangan orang yang sudah mengubur terlalu banyak pilot. "Kita rawat dia sebisanya," katanya. "Adit, sehabis ini kau dan tim teknis turun ke ruang inti. Aku mau laporan sebelum subuh." Ia menoleh ke Rangga. "Dan kau—tidak ada latihan di atas delapan puluh persen tanpa izinku. Aku tidak mau kehilangan mesin dan pilotnya dalam satu sesi latihan bodoh. Mengerti?"
Rangga mengangguk. Tapi di kepalanya, satu pikiran dingin menetap dan menolak pergi: kalau retak ini terus melebar, dan kalau memutus kendali Sang Induk membutuhkan dorongan melampaui seratus persen—maka mesin yang menyelamatkan dunia mungkin akan hancur dengan cara yang sama persis seperti Garuda. Dengan cara yang sama persis seperti kakaknya.
Di atas mereka, jauh di permukaan, sirine peringatan dini meraung sebentar lalu mati. Pengintai lagi. Bukan serangan. Belum.
Rangga menatap garis merah Rajawala yang berpijar gelisah dalam gelap, dan untuk pertama kalinya sejak Tanjung, ia merasa sedang berlomba bukan dengan Leviathan, tapi dengan retakan di dalam baja yang menjadi tubuhnya.