Fajar terakhir sebelum garis timur dipersiapkan datang kelabu dan dingin. Rangga sedang memeriksa pelat lengan Rajawala untuk kesekian kalinya — kebiasaan montir, tangan yang perlu sibuk saat pikiran tidak bisa diam — ketika Sari menemukannya di hanggar.
"Kak Rangga." Gadis delapan tahun itu berdiri kecil di bawah kaki raksasa mesin, kedua tangan di belakang punggung, menyembunyikan sesuatu. "Aku punya hadiah."
Rangga turun dari tangga servis, menyeka tangannya yang berminyak. "Hadiah apa, Sari?"
Sari mengulurkan tangannya. Di telapaknya yang kecil ada boneka robotnya — boneka yang sama yang ia peluk semalam, yang Rangga perbaiki berkali-kali di Tanjung, yang catnya sudah pudar dan satu tangannya pernah lepas dan disolder kembali dengan tangan Rangga sendiri. Boneka itu, kini, mengenakan secarik kain merah kecil diikat di lehernya seperti syal.
"Untukmu," kata Sari. "Biar dia ikut kamu naik robot besar. Biar kamu tidak sendirian di dalam."
Rangga menatap boneka itu. Tenggorokannya tercekat untuk alasan yang tidak bisa ia jelaskan. "Sari, ini boneka kesayanganmu. Aku tidak bisa—"
"Boleh." Sari menggeleng keras, rambutnya bergoyang. "Bu Inten bilang kamu akan pergi melawan monster paling besar. Lebih besar dari pulau. Bu Inten kira aku tidak dengar, tapi aku dengar." Mata cokelatnya yang besar menatap Rangga lurus, dengan keseriusan yang hanya dimiliki anak-anak yang sudah terlalu cepat mengenal kehilangan. "Aku tidak mau kamu pergi sendirian. Boneka ini sudah lihat banyak monster dari ventilasi bunker Tanjung. Dia berani. Dia bisa jagain kamu."
Rangga berlutut, sejajar dengan Sari, dan menerima boneka itu dengan kedua tangan seakan benda paling rapuh di dunia. "Kenapa kain merah?" tanyanya pelan.
"Karena robotmu punya garis merah." Sari menunjuk garis merah pudar di dada Rajawala. "Biar mereka cocok. Biar boneka ini tahu dia bagian dari pasukanmu."
Sesuatu pecah dan menghangat di dada Rangga sekaligus. Ia memeluk Sari, erat, boneka robot di antara mereka. "Terima kasih," bisiknya ke rambutnya. "Aku akan menjaganya. Dan dia akan menjagaku. Janji."
"Janji?" Sari menarik diri, menatapnya curiga. "Janji beneran? Bukan janji bohong yang orang dewasa suka?"
Rangga ingat janji Bara. Maaf, aku tidak bisa pulang untuk makan malam. Janji yang tak bisa ditepati. Ia ingat betapa sakitnya janji yang dilanggar oleh kematian. Dan ia memutuskan, di hanggar dingin itu, dengan boneka rusak di tangannya dan gadis kecil menatapnya, bahwa ia akan membuat janji yang berbeda.
"Janji beneran," katanya. "Aku akan pulang, Sari. Aku akan bawa boneka ini pulang padamu. Dan kita makan malam bersama. Kamu, aku, Pak Surya, Bu Inten. Sup Bu Inten yang panas. Aku janji." Ia mengaitkan kelingkingnya pada kelingking mungil Sari. "Pinky promise. Itu janji yang tidak boleh dilanggar, kata Bara dulu."
Sari mengangguk serius, mengunci kelingkingnya. "Tidak boleh dilanggar."
Saat Sari berlari kembali ke tempat tinggal pengungsi — riang, ringan, percaya — Rangga berdiri lama menatap boneka di tangannya. Sebuah mainan reyot dengan syal merah dari potongan kain. Tidak ada nilai militernya. Tidak akan menambah satu persen sinkronisasi, tidak akan menebas satu Leviathan. Dan toh, ia merasa lebih kuat memegangnya daripada memegang senjata apa pun.
Ia naik ke kokpit Rajawala dan, dengan hati-hati, mengaitkan boneka robot itu di samping panel kemudi, tempat ia bisa melihatnya saat sinkronisasi membutakan segalanya yang lain. Syal merah kecil itu menggantung di sana, kontras dengan logam dingin dan kabel.
"Yah," gumam Rangga pada boneka, pada mesin, pada dirinya sendiri. "Sekarang aku tidak sendirian di dalam sini."
Garis merah Rajawala berpijar — pelan, hangat, seperti jawaban. Di belakang kepalanya, di tempat sinkronisasi mengikat manusia pada baja, Rangga merasakan getaran tipis yang sudah ia kenal sebagai kehadiran mesin. Tapi kali ini ada yang berbeda. Untuk sekejap, sangat singkat, ia merasa seolah ada yang lain di sana juga — sesuatu yang lebih tua, lebih dalam, yang mengenal kata "melindungi" dan "pulang" dan "adik" dengan cara yang tidak mungkin dimiliki sebuah mesin.
Lalu hilang. Hanya getaran. Hanya Rangga, kokpit, dan boneka berkain merah.
Di luar, lewat speaker hanggar, suara Laras memanggil skuadron. "Semua pilot ke ruang komando. Citra satelit baru. Sang Induk bergerak lagi. Kita punya kurang dari empat puluh delapan jam."
Rangga menatap boneka robot sekali lagi, menyentuh syal merahnya dengan satu jari, lalu menutup kokpit dan turun. Apa pun yang menunggu di garis timur — monster yang lebih besar dari pulau, kematian yang dijadwalkan, paradoks pengorbanan yang memanggil pemburu — ia punya alasan untuk pulang sekarang. Bukan abstraksi. Bukan umat manusia. Sebuah pinky promise dan semangkuk sup.
Itu, pikirnya saat berjalan menuju ruang komando, persis untuk apa Bara bertarung. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak hanya memahami beban kakaknya. Ia memikulnya dengan bangga.