Anehnya, malam ketiga sebelum Sang Induk tiba justru sunyi.
Tidak ada sirine. Tidak ada gelombang. Citra satelit menunjukkan gerombolan berhenti sejenak di tengah laut, seakan menarik napas sebelum lompatan terakhir, dan untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, skuadron tidak harus tidur dengan jaket sinkronisasi di tangan.
Mereka berkumpul di hanggar — bukan karena perintah, tapi karena tidak ada yang bisa tidur ketika kematian dijadwalkan dalam tiga hari. Adit menyalakan pemanas listrik tua. Bu Inten — yang ikut konvoi dari Tanjung dan kini memasak untuk seluruh Pusat — mengirim panci sup hangat lewat Sari yang berlari riang membawanya. Mereka duduk melingkar di bawah bayangan Rajawala dan unit-unit lain, raksasa-raksasa logam yang diam seperti penjaga makam.
"Ceritakan tentang dia," kata Wening — bukan, bukan Wening, Wening sudah tiada. Bayu. Bayu yang bertanya, menatap Rangga lewat uap sup. "Bara Pradipta. Kami semua tahu legendanya. Sang Penjaga Timur. Tiga puluh Leviathan. Tak terkalahkan. Tapi kau yang mengenalnya. Seperti apa dia sebenarnya?"
Rangga memegang mangkuknya, hangat di telapaknya. Ia jarang bicara tentang Bara. Terlalu sakit. Tapi malam ini, di antara orang-orang yang mungkin mati bersamanya dalam tiga hari, kata-kata itu datang lebih mudah.
"Dia payah memasak," kata Rangga, dan tawa kecil yang terkejut menyebar di lingkaran. "Sungguh. Sang Penjaga Timur bisa membunuh Kraken dengan satu tebasan tapi tidak bisa menggoreng telur tanpa membakarnya. Bu Inten dulu mengusirnya dari dapur Tanjung."
Bu Inten, dari sudut, terkekeh. "Dua kali dia hampir membakar dapur. Anak itu lebih aman di dalam mesin perang empat puluh meter daripada di depan kompor."
"Dia juga," lanjut Rangga, suaranya melembut, "tidak pernah membiarkanku jadi pilot. Aku dulu memohon padanya, waktu kecil. Aku ingin seperti kakakku. Aku ingin terbang dengan Garuda. Dan dia selalu bilang tidak." Rangga menatap garis merah Rajawala di atasnya. "Aku dulu mengira dia tidak percaya aku cukup baik. Sekarang aku mengerti. Dia tidak ingin aku merasakan beban ini. Dia memilih memikul semuanya sendiri supaya aku tidak perlu."
"Tapi kau di sini sekarang," kata Danur pelan.
"Iya. Aku di sini." Rangga tersenyum tipis, sedih. "Hal yang paling dia tidak inginkan untukku. Lucu, ya, bagaimana hidup tidak peduli pada apa yang kita inginkan untuk orang yang kita cintai."
Hening hangat menggantung. Sari, gadis delapan tahun itu, merangkak ke pangkuan Rangga, boneka robotnya yang reyot di pelukan. "Kak Rangga," katanya, "Kak Bara sekarang di mana? Bu Inten bilang dia jadi bintang."
Rangga membelai rambut Sari. Tenggorokannya tercekat. "Mungkin begitu. Atau mungkin..." ia menatap Rajawala, ke garis merah yang berpijar pelan dalam gelap, "...mungkin dia ada di tempat-tempat yang tidak kita sangka. Di hal-hal yang dia tinggalkan untuk kita."
Bayu mengangkat mangkuk supnya. "Untuk Bara Pradipta. Dan untuk Wening. Dan untuk semua yang berdiri di antara monster dan rumah."
Mereka semua mengangkat mangkuk. "Untuk yang melindungi," kata Danur, dan suaranya tidak getir kali ini.
"Yang tidak boleh lari," sambung Rangga lirih.
Malam itu, untuk beberapa jam, mereka bukan pilot yang dijadwalkan mati. Mereka adalah orang-orang yang berbagi sup hangat di bawah raksasa logam, tertawa atas kisah kakak yang tidak bisa menggoreng telur, dan untuk sesaat melupakan bayangan yang membelah laut menuju mereka.
Laras menemukan Rangga belakangan, saat yang lain mulai tertidur di kursi dan lantai hanggar. Ia duduk di sampingnya, menatap Rajawala. "Kau memberi mereka sesuatu malam ini," katanya. "Sesuatu yang aku tidak bisa beri sebagai komandan. Kau membuat mereka mengingat untuk apa mereka bertarung. Bukan untuk Pusat. Bukan untuk umat manusia secara abstrak. Tapi untuk sup hangat dan tawa dan gadis kecil dengan boneka rusak."
"Bara mengajariku itu," kata Rangga. "Tanpa pernah mengatakannya. Dia tidak bertarung untuk menjadi legenda. Dia bertarung supaya aku bisa pulang untuk makan malam." Ia menelan ludah. "Dia yang tidak bisa pulang."
Laras meletakkan tangan di bahunya. "Maka pastikan kau pulang, Rangga. Apa pun yang terjadi dalam tiga hari. Itu satu-satunya cara membalas kakakmu." Ia berdiri. "Tidur. Besok kita siapkan garis timur. Lusa, kita lihat wajah dari yang membelah laut."
Rangga tidak segera tidur. Ia duduk lama di bawah Rajawala, Sari tertidur di pangkuannya, boneka robot di tangan gadis itu. Di luar dinding, untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, langit malam jernih. Tanpa sirine. Tanpa monster. Hanya bintang.
Dan jauh di laut, menunggu fajar, sesuatu yang lebih besar dari pulau beristirahat di air gelap — bukan karena lelah, tapi karena, seperti mereka, ia juga sedang bersiap.