Citra satelit datang larut malam, dan jenderal tua memanggil mereka dari tidur.
Rangga berdiri di ruang komando dengan mata berat, jaket sinkronisasi tergantung asal di bahunya. Di layar utama, gambar dari satu-satunya satelit pengintai yang masih mengorbit — relik dunia lama — menampilkan laut timur dari atas. Dan di tengah laut, membelah air seperti benua yang berjalan, ada bayangan.
"Skala," kata Adit, suaranya bergetar saat ia mengetik. "Sistem terus menolak ukurannya. Ia mengira itu kesalahan sensor. Karena tidak ada makhluk hidup sebesar ini." Ia menambahkan grid pengukuran. "Panjangnya... lebih besar dari Pusat. Lebih besar dari Pusat dan seluruh dataran rawa di depannya digabung."
Sang Induk.
Rangga sudah mendengarnya — di malam Kode Hitam, jenderal tua menyiarkan keberadaannya, satu tanda kehidupan raksasa di tengah ribuan Leviathan, lebih besar dari pulau, diyakini mengendalikan semuanya. Tapi mendengar dan melihat adalah dua hal yang berbeda. Di layar, bayangan itu bergerak lambat tapi tak terhentikan, dan di sekelilingnya, seperti debu mengelilingi planet, ribuan titik Leviathan kecil bergerak dalam pola yang terlalu teratur untuk kebetulan.
"Mereka bergerak bersamanya," kata Rangga pelan. "Seperti... seperti satu tubuh. Ia berpikir, dan mereka semua bergerak."
Jenderal tua — pria renta dengan punggung bungkuk dan mata yang sudah melihat terlalu banyak runtuhnya dunia — bicara untuk pertama kalinya. "Kami memperkirakan tujuh hari sampai garis pantai timur saat Kode Hitam. Itu sepuluh hari lalu." Ia menatap layar dengan tatapan yang melampaui kelelahan. "Tapi gerombolan pengintai bergerak lebih cepat. Dan sekarang, dengan citra ini, ahli kami menghitung ulang." Ia berhenti. "Sang Induk akan mencapai garis pantai timur dalam empat hari."
Hening menelan ruangan.
"Empat hari," ulang Bayu, seakan mengucapkannya bisa mengubahnya.
"Pertahanan kita di garis timur," lanjut jenderal, "tiga gelombang yang kalian tahan — kalian melakukannya dengan luar biasa. Tapi pahami ini." Matanya menyapu skuadron yang tersisa. "Selama ini kalian melawan pengintai. Pasukan kecil. Probe. Sang Induk belum benar-benar memandang kita. Saat ia tiba, saat ia mengarahkan seluruh gerombolan padanya — tidak ada dinding, tidak ada bendungan, tidak ada taktik montir mana pun yang akan menahannya lebih dari sehari."
Rangga merasakan kata-kata itu mendarat seperti batu di perutnya. Bendungan tua. Choke point. Putaran umpan. Semua kemenangan kecil yang ia rancang, semua nyawa yang ia selamatkan — di hadapan Sang Induk, itu seperti membangun istana pasir di depan ombak.
"Maka pertahanan garis timur tidak akan menang," kata Laras, dan ia tidak membungkusnya dengan harapan palsu. "Kita tidak bisa menang dengan bertahan. Kita hanya membeli waktu."
"Membeli waktu untuk apa?" tanya Danur. "Kalau kita tidak bisa menang, waktu untuk apa?"
Jenderal tua dan Laras bertukar pandang — pandangan yang menyimpan sesuatu, sesuatu yang belum mereka katakan. Rangga melihatnya. Adit melihatnya juga.
"Untuk menemukan cara membunuh Sang Induk," kata Laras akhirnya. "Bukan menahannya. Membunuhnya. Karena kalau ia benar mengendalikan seluruh gerombolan — kalau ribuan Leviathan bergerak sebagai satu tubuh dengannya sebagai otak — maka ada satu kemungkinan yang membuatku tidak tidur tiga malam terakhir." Ia menatap Rangga, lama. "Kalau kita membunuh otaknya, mungkin seluruh tubuh berhenti."
Rangga menahan napas. "Kau pikir... membunuh satu makhluk bisa menghentikan ribuan?"
"Aku tidak tahu. Tidak ada yang tahu." Laras berbalik ke layar, ke bayangan raksasa yang membelah laut. "Tapi itu satu-satunya kemenangan yang mungkin. Karena kita tidak punya cukup Baja, cukup peluru, cukup nyawa untuk membunuh ribuan satu per satu. Delapan Baja melawan ribuan adalah aritmetika kekalahan. Tapi delapan Baja melawan satu otak — itu mungkin aritmetika harapan."
Di layar, Sang Induk bergerak. Lambat. Tak terhentikan. Empat hari.
Rangga menatap bayangan itu, dan untuk pertama kalinya sejak menaiki Rajawala, ia merasakan sesuatu yang lebih dalam dari ketakutan. Ia merasakan pertanyaan. Bukan "bisakah kita bertahan" — tapi "apa sebenarnya makhluk itu, dan kenapa, setelah lima belas tahun, ia akhirnya datang sendiri."
Dan jauh di belakang kepalanya, di tempat sinkronisasi mengikatnya pada Rajawala, ia merasakan mesin itu bergetar — bukan ketakutan, tapi semacam pengenalan. Seolah Rajawala, mesin yang dirancang sebelum perang lalu ditinggalkan, telah menunggu lima belas tahun untuk makhluk yang persis ini.