Adit menemukannya saat menyusun data tiga gelombang serangan terakhir — sebuah pola yang membuat darahnya dingin.
"Mereka tidak datang secara acak," kata teknisi muda itu, menyebar peta cahaya di ruang komando. Skuadron yang tersisa berkumpul, lelah, masih berbau lumpur dan logam panas. "Lihat. Gelombang pertama menghantam sektor utara — di mana unit biru Wening meledak intinya saat ia gugur. Gelombang kedua memusat di bendungan tua — di mana kita menghancurkan selusin Kraken. Gelombang ketiga, di rawa barat — tempat sisa-sisa unit lama yang hancur bertahun lalu tertimbun lumpur."
Laras menyilangkan tangan. "Apa benang merahnya?"
"Radiasi." Adit menampilkan lapisan baru di peta — bercak-bercak merah pudar tersebar di rawa. "Setiap kali sebuah inti reaktor Baja meledak atau bocor — saat unit hancur, saat pilot menarik tuas inti seperti yang dilakukan saudara Rangga di Tanjung — ia meninggalkan jejak radiasi. Dan Leviathan..." ia menelan ludah, "...Leviathan melacaknya. Seperti hiu mencium darah di air, mereka mencium radiasi inti."
Ruangan itu hening. Rangga merasakan sesuatu yang dingin merayap di tengkuknya, persis di tempat jarum sinkronisasi menancap. "Aku sudah tahu ini," katanya pelan. "Di Tanjung. Setelah Bara menarik inti Garuda dan meledakkan dirinya bersama dua Kraken — gelombang Hiu datang beberapa hari kemudian. Mengikuti jejak radiasi ledakan kakakku. Pengorbanannya menandai Tanjung di peta Leviathan." Ia menatap meja. "Aku selalu menganggap itu kebetulan. Ternyata itu hukum."
"Hukum yang kejam," kata Laras. "Karena artinya..."
"Setiap kali salah satu dari kita gugur dengan kehormatan," Danur menyelesaikannya, suaranya getir, "setiap kali kita meledakkan inti untuk membawa beberapa Leviathan bersama kita — kita memanggil lebih banyak ke tempat kita mati. Wening tidak menarik tuasnya, tapi intinya tetap pecah saat ia tertusuk. Dan itu menjadi mercusuar."
Bayu, pilot kurus itu, menggeleng lambat. "Jadi kematian yang heroik justru jadi umpan? Setiap pengorbanan kita malah memperburuk keadaan?"
Adit melepas kacamatanya. "Dalam jangka pendek, ya. Dalam jangka panjang... aku tidak yakin. Karena ini menjelaskan sesuatu yang lebih besar." Ia memanggil tampilan peta dunia di layar. "Selama lima belas tahun, kita kehilangan ratusan Baja. Setiap satu yang hancur dengan ledakan inti meninggalkan jejak. Jejak-jejak itu menumpuk. Dan sekarang, dengan Kode Hitam, dengan Sang Induk bergerak — bukankah aneh bahwa gerombolan terbesar bergerak persis ke arah Pusat?"
Mata Rangga melebar. "Karena Pusat punya jejak radiasi terbanyak. Setiap Baja yang pernah mati membela Pusat..."
"...menandai Pusat sebagai sasaran terbesar di seluruh peta Leviathan," Laras menyelesaikan, suaranya berat. "Kita membangun benteng terakhir umat manusia di atas mercusuar terbesar yang memanggil mereka. Lima belas tahun pertahanan kita sendiri yang menggambar target di punggung kita."
Beban kesadaran itu menekan ruangan seperti tangan raksasa.
"Maka kita berhenti meledakkan inti," kata Bayu. "Mulai sekarang. Tidak ada lagi pengorbanan inti. Kita tarik mundur unit yang rusak, kita selamatkan pilot, kita—"
"Tidak sesederhana itu," potong Danur. "Kadang meledakkan inti adalah satu-satunya cara membawa Kraken bersamamu. Kadang itu satu-satunya senjata yang tersisa. Kau minta kami melepas pamungkas terakhir kami?"
"Aku minta kalian berhenti memanggil kematian kalian sendiri!"
"Cukup." Suara Laras memotong pertengkaran. Ia menatap meja peta lama, lalu pada Rangga. "Ini dilema yang tidak punya jawaban bersih. Setiap senjata kita yang paling kuat adalah juga mercusuar yang memanggil musuh. Setiap kematian terhormat membuat tanah tempat kita berdiri lebih berbahaya bagi yang masih hidup." Ia menghela napas. "Tapi setidaknya sekarang kita mengerti aturannya. Dan mengerti aturan adalah awal dari mematahkannya."
Ia menoleh pada Rangga dan Adit. "Cari tahu lebih banyak. Kalau Leviathan dipandu oleh jejak radiasi — kalau mereka mengikuti inti — maka mungkin, suatu hari, kita bisa membalik itu. Memancing mereka ke tempat yang kita pilih, bukan tempat yang mereka pilih." Sudut matanya menajam. "Montir di antara kita sudah membuktikan ia pandai memancing musuh ke tempat yang salah bagi mereka."
Rangga mengangguk pelan, tapi pikirannya melayang jauh — ke Tanjung, ke cahaya putih, ke kakaknya yang menarik tuas inti dan, tanpa tahu, menggambar peta menuju rumahnya sendiri. Bara mati untuk melindungi, dan kematian itu memanggil pemburu berikutnya. Dunia ini, pikir Rangga, dibangun di atas paradoks yang kejam: yang kau lakukan untuk menyelamatkan hari ini, membahayakan besok.
Dan jauh di laut timur, mengikuti jejak lima belas tahun pengorbanan manusia, sesuatu yang lebih besar dari pulau merangkak satu derajat lebih dekat.