Es di antara Rangga dan Danur mulai mencair setelah bendungan tua. Tapi es itu tidak pernah benar-benar pecah — sampai gelombang berikutnya, dan sampai Rangga mengerti kenapa veteran itu begitu membenci nama Garuda.
Mereka tahu serangan akan datang dari kabut tebal pagi itu. Yang tidak mereka tahu adalah Kraken jenis baru di gelombang ini — lebih kecil tapi lebih cepat, lebih cerdas, tentakelnya bergerak seperti dipandu pikiran tunggal. Skuadron pecah di rawa. Dalam kabut, sinyal kacau, setiap pilot bertarung hampir buta.
"Danur, di belakangmu!" Rangga berteriak di radio saat kabut menyibak sesaat dan ia melihatnya — tentakel raksasa melilit kaki unit hijau, menariknya ke lumpur, sementara tiga Kraken mengepung. Danur terjebak. Bilahnya tertahan, lengannya yang terluka tak bisa berputar penuh.
Rangga tidak berpikir. Ia berlari — Rajawala lincah di lumpur — menembus dua Kraken, menghantam tentakel yang melilit Danur dengan kekuatan murni, mematahkannya di pangkal sambungan seperti yang ia ajarkan dulu. Cairan gelap menyembur. Unit hijau terbebas, tapi Rangga kini berdiri di tengah tiga Kraken, sendirian, di tempat Danur tadi terjebak.
"Mundur, Montir!" teriak Danur. "Mereka akan mengepungmu seperti tadi mereka mengepungku!"
"Kau dulu," balas Rangga, menahan tentakel berikutnya dengan kedua tangan, SINKRONISASI turun ke 68%, rasa sakit menjalar. "Pergi! Aku menyusul!"
Danur pergi. Tapi tidak jauh. Ia berputar di tepi kabut, menyaksikan bocah montir itu — adik dari pilot yang ia benci selama bertahun-tahun — berdiri di tempat yang seharusnya merenggut nyawanya, menukar posisi tanpa ragu sedetik pun.
Malam itu, di hanggar, saat Rangga menambal pelat lengan Rajawala yang robek, Danur datang. Berdiri di bawah bayangan mesin gunmetal kelabu, lama, sebelum bicara.
"Kau mau tahu kenapa aku membenci kakakmu," katanya. Bukan pertanyaan.
Rangga meletakkan obeng. "Kalau kau mau cerita."
"Garis pertahanan selatan. Dua belas tahun lalu. Aku masih muda, sepertimu." Danur menatap garis merah pudar di dada Rajawala. "Kotaku diserang. Tiga Kraken. Kami mengirim permintaan bantuan ke setiap Baja yang ada. Bara Pradipta — Sang Penjaga Timur — paling dekat. Setengah hari perjalanan."
Rangga merasakan ke mana arah cerita ini, dan dadanya mengencang.
"Dia tidak datang." Suara Danur datar, tapi Rangga mendengar luka dua belas tahun di baliknya. "Dia memilih menahan garis timur, karena di sana ada benteng lebih besar, lebih banyak nyawa. Pilihan komando. Matematika. Dan kotaku — dua ribu orang — jatuh sebelum bantuan lain tiba. Saudaraku ada di sana, menahan garis sampai akhir."
Hening menggantung berat di hanggar.
"Aku membenci Bara Pradipta selama dua belas tahun," lanjut Danur. "Sang Penjaga Timur. Pahlawan tak terkalahkan. Aku membencinya karena dia memilih, dan pilihannya bukan saudaraku." Ia menoleh pada Rangga. "Lalu mereka mengirim adiknya untuk menggantikannya. Dan aku berkata pada diriku sendiri, aku akan membenci bocah ini juga."
Rangga tidak membela kakaknya. Ia tidak bisa. Ia tahu, sekarang, beban pilihan itu — ia merasakannya di bendungan tua, di sektor utara saat ia memilih menyeret Danur alih-alih mengejar Wening. Setiap pilot Baja membuat matematika maut setiap hari. Bara membuatnya juga. Dan seseorang selalu menanggung sisi yang salah dari persamaan itu.
"Aku tidak bisa mengembalikan saudaramu," kata Rangga pelan. "Dan aku tidak akan minta maaf atas nama Bara, karena aku tidak tahu apa yang dia rasakan saat membuat pilihan itu. Tapi aku tahu satu hal." Ia menatap Danur lurus. "Hari ini aku menukar posisi denganmu di rawa bukan karena aku berani. Tapi karena aku tidak mau ada veteran lain yang membenci namaku selama dua belas tahun, sambil membayangkan aku memilih untuk membiarkannya mati."
Danur menatapnya lama. Sesuatu di rahangnya melunak — bukan pengampunan, belum, tapi awal dari sesuatu.
"Kakakmu menyelamatkanku hari ini," katanya akhirnya, "lewat tangan adiknya." Ia berbalik untuk pergi, lalu berhenti di pintu hanggar. "Montir. Garuda merenggut saudaraku karena pilihan. Mungkin sudah waktunya aku berhenti menyalahkan mesin atas pilihan manusia." Ia menatap Rajawala sekali lagi. "Mesinmu... mesin ini berbeda. Ia memilihmu karena kau tidak akan pernah meninggalkan siapa pun di rawa. Aku mulai mengerti itu."
Lalu ia pergi. Rangga berdiri sendirian di bawah Rajawala, dan untuk pertama kalinya, garis merah di dada mesin berpijar hangat — bukan peringatan, bukan luka. Seperti persetujuan.