Mereka memakamkan Wening di taman kecil di dalam dinding terdalam — satu-satunya tempat di Pusat tempat sesuatu yang hijau masih tumbuh. Lalu, sebelum air mata kering, jenderal tua memanggil skuadron ke ruang peta. Karena Leviathan tidak berkabung, dan benteng terakhir umat manusia tidak punya kemewahan untuk diam.
"Gelombang berikutnya dalam dua hari," kata Laras, menunjuk peta cahaya di meja. "Lebih besar. Kraken dominan kali ini, bukan Hiu. Dan medan tidak menguntungkan kita." Ia menggeser tampilan ke dataran rawa di timur. "Mereka datang dari laut melalui delapan jalur sekaligus. Kita tidak punya cukup Baja untuk menutup delapan jalur."
Danur bersandar di dinding, lengannya yang terbalut perban dilipat. "Lalu kita pilih jalur mana yang kita biarkan jebol. Itu yang Komandan maksud, kan."
"Itu realitanya."
Hening menggantung. Tujuh pilot yang tersisa saling pandang. Rangga menatap peta cahaya — delapan jalur biru menembus rawa abu-abu, masing-masing dengan titik merah Leviathan merangkak. Otak montirnya berputar, seperti selalu, mencari pola, mencari celah, mencari titik di mana sistem yang rumit bisa dipatahkan dengan satu sentuhan yang tepat.
"Jangan tutup jalurnya," kata Rangga.
Semua mata berpaling padanya. Danur mengangkat alis. "Apa?"
Rangga mendekat ke meja, menunjuk titik tempat delapan jalur menyempit sebelum mencapai dataran terbuka di depan Pusat. "Di Tanjung, aku tidak punya cukup railgun untuk melawan tujuh Hiu sekaligus. Jadi aku tidak melawan tujuh sekaligus. Aku memaksa mereka datang satu-satu, lewat celah sempit di antara pemecah gelombang, tempat mereka tidak bisa mengepungku." Ia menggeser tampilan. "Lihat ini. Delapan jalur, tapi semua menyempit di sini — bekas bendungan tua, sebelum dataran rawa. Kalau kita tidak menahan mereka di laut, kalau kita justru memancing mereka semua ke titik sempit ini..."
Laras menyipitkan mata, sudah mengerti. "Mereka kehilangan keunggulan jumlah. Delapan jalur menyatu jadi satu choke point."
"Dan kita tidak butuh delapan Baja untuk menutup satu titik," lanjut Rangga, jantungnya berdebar. "Kita butuh disiplin. Kraken besar, lambat berbelok. Di lorong sempit mereka tidak bisa pakai semua tentakel — separuhnya terhalang dinding bendungan. Mereka jadi besar dan tak berguna, seperti kapal terlalu lebar untuk kanal."
Danur mendorong dirinya dari dinding, mendekat ke peta. Untuk pertama kalinya, raut wajahnya bukan penghinaan. "Bocah ini... bocah ini benar. Kita pernah kehilangan unit di rawa terbuka karena Kraken mengepung dari segala arah. Kalau kita tarik mereka ke bendungan tua..."
"Tapi memancing mereka ke sana berarti seseorang harus jadi umpan," potong seorang pilot lain — Bayu, pria kurus berwajah lelah. "Berdiri di mulut bendungan dan membuat ribuan Leviathan mengejarnya. Itu bunuh diri."
Ruang itu hening kembali. Rangga merasakan tatapan mereka — dan tahu apa yang mereka pikirkan. Bahwa ia akan menawarkan diri. Bahwa adik Sang Penjaga Timur akan berkata, "Aku saja," seperti kakaknya selalu lakukan.
Tapi Rangga sudah belajar dari Wening. Dari Bara. Keberanian seorang diri membunuh orang yang berani. "Bukan satu umpan," katanya. "Tiga. Bergiliran. Rajawala paling lincah tanpa senjata — aku tarik mereka masuk, lalu mundur ke balik bendungan, dan unit berikutnya menggantikan sebelum aku kehabisan napas. Kita putar. Tidak ada yang berdiri sendirian cukup lama untuk mati. Sementara umpan menarik, sisanya menghantam dari sisi sempit, satu Kraken satu waktu."
Laras menatapnya lama. Lalu, perlahan, sudut bibirnya naik — bukan senyum, tapi sesuatu yang lebih berharga. Pengakuan. "Bara dulu memenangkan pertempuran dengan keberanian dan pedang," katanya. "Kau memenangkannya dengan... kunci pas dan otak. Kalian dua bersaudara yang sangat berbeda."
"Dia pahlawan," kata Rangga. "Aku cuma montir yang kebetulan duduk di kursi yang salah."
"Montir," kata Danur, dan kali ini namanya keluar tanpa cemoohan, hampir seperti gelar, "rancang putarannya. Kami ikut."
Dua hari kemudian, di mulut bendungan tua, rencana montir itu berjalan persis seperti di kepala Rangga. Kraken raksasa berdesakan di kanal sempit, tentakel mereka terhalang dinding, amukan mereka jadi sia-sia. Tiga umpan berputar — Rangga, lalu Bayu, lalu Danur, lalu Rangga lagi — sementara empat Baja lain menebas pangkal tentakel satu per satu di titik buta. Tidak ada yang berdiri sendirian. Tidak ada yang mati hari itu.
Saat gelombang surut dan kanal penuh bangkai Leviathan, Danur menepuk pelindung dada Rajawala dengan tangan baja unit hijaunya — tepukan kasar, tepukan sesama prajurit. "Kau menyelamatkan tujuh nyawa hari ini dengan otak, Montir. Kakakmu menyelamatkan dengan pedang. Mungkin..." ia ragu, "...mungkin dunia butuh keduanya."
Rangga tidak menjawab. Tapi di balik penutup kokpit, untuk pertama kalinya sejak tiba di Pusat, ia tersenyum.