Mereka memukul mundur gelombang pertama saat matahari menembus kabut — pucat dan tak bersemangat, seolah malu menyaksikan apa yang tersisa.
Rawa di depan Pusat berubah jadi kuburan. Bangkai Leviathan setinggi bukit, daging gelap membusuk di lumpur, mata-mata merah yang dulu menyala kini padam jadi kelereng kelam. Sembilan Baja masih berdiri. Rangga menghitungnya dua kali dari kokpit Rajawala, ingin memastikan, ingin percaya bahwa kali ini semua selamat.
Lalu radio Wening berbunyi. Bukan suara. Hanya statik panjang, dan di baliknya, napas yang tersengal.
"Wening?" Laras, dari komando. "Wening, laporkan posisi."
Rangga sudah berlari sebelum jawaban datang. Unit biru ramping itu berdiri di sektor utara, tegak, masih tegak — itu yang membohongi mereka semua. Dari jauh tampak utuh. Tapi saat Rangga mendekat, ia melihat. Sebuah tentakel Kraken — Kraken yang mereka kira sudah mati, yang ternyata cuma menunggu — telah menembus dada unit biru dari belakang, persis di mana inti reaktor berada, persis di mana kokpit pilot duduk.
"Tidak," kata Rangga. "Tidak, tidak—"
Ia mencengkeram tentakel itu dan mencabutnya dengan kekuatan murni Rajawala, menghancurkan kepala Kraken pengintai yang bersembunyi di balik bangkai dengan satu hantaman tinju ke matanya. Tapi sudah terlambat. Selalu terlambat. Itu yang tak pernah dikatakan siapa pun tentang pertempuran — bahwa kau bisa menang dan tetap terlambat.
Ia membuka kokpit unit biru dengan jari-jari baja, hati-hati, seperti membuka boneka robot Sari yang rusak. Di dalam, Wening masih bernapas. Hampir tidak. Darah di sudut bibirnya, mata setengah terbuka.
"...kena berapa?" suara gadis itu nyaris tak terdengar. "Hiu di dinding. Aku menahannya. Kena berapa?"
"Semuanya, Wening." Rangga berlutut, unit raksasanya menunduk membentuk perisai di atas tubuh kecil itu. "Kau menahan semuanya. Dinding utara aman karena kau. Penduduk di balik dinding hidup karena kau."
Wening tersenyum, atau mencoba. "Bagus... aku selalu... ingin jadi yang berguna..." Matanya mencari sesuatu di balik kabut. "Montir. Mereka bilang kau adik Sang Penjaga Timur. Bara... Pradipta."
"Iya." Tenggorokan Rangga tercekat.
"Dia... pernah menyelamatkan kotaku. Sekali. Aku masih kecil." Napas Wening tersendat. "Itu sebabnya aku jadi pilot. Karena dia. Lucu, ya... aku mati di samping adiknya..."
"Kau tidak akan mati." Rangga tahu itu bohong saat mengatakannya. Adit pernah mengajarinya tentang luka mesin yang menjadi luka pilot — sinkronisasi mengikat keduanya. Saat unit biru tertusuk di intinya, Wening tertusuk juga. Tidak ada teknik, tidak ada keberanian yang bisa membatalkan itu.
Tangan Laras menggenggam bahu Rangga lewat radio — kiasan, tapi Rangga merasakannya. "Lepaskan dia, Rangga. Jangan paksa dia bicara. Biarkan dia pergi tanpa menahan napas untuk kita."
Wening menatap langit kelabu di atas Pusat. "Sembilan," bisiknya. "Tadi kita sembilan. Sekarang..."
Ia tidak menyelesaikannya.
Rangga tidak bergerak untuk waktu yang lama. Di sekelilingnya, skuadron berkumpul perlahan — unit-unit raksasa membentuk lingkaran diam mengelilingi unit biru yang padam, seperti orang-orang dewasa mengelilingi makam anak. Danur, dengan unit hijaunya yang penyok, melepas penutup kokpit dan menundukkan kepala. Wira menjatuhkan unitnya berlutut di sisi unit biru yang padam, tangan baja menyentuh pelat kembarannya, dan dari kokpitnya terdengar suara yang tak pernah Rangga dengar dari seorang pilot Baja—suara saudara kembar yang baru saja kehilangan separuh dirinya. Tidak ada yang bicara.
Delapan. Skuadron kini tinggal delapan.
Dalam diam, sesuatu pecah di dada Rangga — bukan rasa sakit dari sinkronisasi, tapi yang lebih tua, yang lebih dalam. Ia teringat malam di Tanjung, suara Bara di radio, "Maaf, aku tidak bisa pulang untuk makan malam," lalu cahaya putih yang menelan kakaknya. Ia mengira ia sudah belajar tentang kehilangan. Ia salah. Setiap kehilangan baru membuka kembali yang lama.
"Aku berjanji tidak akan pernah jadi pilot," kata Rangga pelan, lebih pada dirinya sendiri daripada siapa pun. "Karena aku tidak mau merasakan ini lagi. Dan sekarang aku merasakannya lagi."
Garis merah Rajawala berpijar lemah, seakan menjawab. Bukan kata. Hanya kehadiran. Kau di sini, seolah berkata, dan itu cukup.
Laras akhirnya bicara, suaranya rata tapi tidak dingin. "Kita bawa pulang Wening. Kita beri dia tempat di dalam dinding yang ia jaga. Lalu kita siapkan untuk yang berikutnya. Karena akan ada yang berikutnya, dan kita tidak bisa berkabung selamanya."
Rangga mengangkat tubuh Wening dengan kedua tangan baja Rajawala — sangat, sangat hati-hati — dan membawanya pulang melewati gerbang tiga dinding. Di belakangnya, delapan Baja yang tersisa berjalan dalam barisan diam, dan untuk pertama kalinya, tak satu pun dari mereka memandang Rangga sebagai bocah montir.
Mereka memandangnya sebagai salah satu dari mereka. Karena sekarang, ia tahu harga yang sama.