Kraken pertama berdiri setinggi menara pengawas Pusat.
Rangga pernah melawan Kraken sekali — di malam Bara gugur, ia hanya melihatnya dari ventilasi bunker, dua bayangan raksasa yang menelan kakaknya. Sekarang, di dataran rawa, ia berdiri sejajar dengan satu. Tentakelnya tebal seperti batang jembatan, ujungnya mengayun dan meremukkan unit railgun statis Pusat seolah itu mainan kaleng. Mata-mata merah baranya — belasan — menyala dalam kabut.
"Garis kedua, mundur ke parit!" Laras berteriak di radio. "Danur, Rangga, tahan Kraken sayap kiri. Sisanya bersihkan Hiu sebelum mereka mencapai dinding!"
Danur sudah berlari, unit hijaunya mengayunkan bilah panjang ke tentakel terdekat. Bunga api memercik; pelat Leviathan terlalu tebal. "Bilahku tidak tembus!" geramnya. "Cangkangnya seperti dinding beton!"
Rangga mengamati. Otak montir lagi — selalu otak montir. Cangkang tebal di mana? Di punggung, di kepala. Tapi sambungan tentakel ke tubuh, lipatan di antara lempeng cangkang, daging lunak di pangkal mata. Di Tanjung, ia membunuh Hiu dengan logika celah sempit. Di sini, prinsipnya sama. "Danur! Jangan tebas cangkang. Sasar sambungan tentakelnya — di pangkal, tempat lempeng terpisah!"
"Aku tidak butuh kuliah dari—"
Tentakel menghantam Danur dari samping. Unit hijau terlempar, menggelinding di lumpur, satu lengan terkulai. Rangga tidak menunggu. Ia melompat — Rajawala ringan tanpa senjata berat, lincah dalam pertarungan dekat seperti yang dirancang. Ia menangkap tentakel yang melayang kembali, memeluknya, dan menancapkan jari-jari baja ke sambungan lempeng di pangkalnya. Daging Leviathan terkoyak. Cairan gelap menyembur.
Rasa sakit yang berbeda kali ini — bukan luka mesinnya sendiri, tapi getaran amukan Kraken yang menjalar lewat tangannya, lewat sinkronisasi, sampai ke ulu hatinya. SINKRONISASI 71%. Ia mengertakkan gigi. Menerima. Selalu menerima. 76%.
Kraken meraung, tentakel terluka menarik diri. Rangga melompat ke punggungnya, mencari celah berikutnya, mencari mata. Tapi dari sudut matanya ia melihat hal yang membuat darahnya beku.
Dinding lapis terluar Pusat — dinding yang dibanggakan sebagai benteng terakhir umat manusia — sudah retak. Kelas Hiu, lusinan, memanjat satu sama lain seperti semut, menumpuk tubuh mereka untuk mencapai bibir dinding. Para penembak di atas berjuang, railgun memuntahkan kilat, tapi tidak cukup cepat.
"Dinding tidak cukup tinggi," kata Rangga, dan kesadaran itu menusuk lebih dalam dari jarum sinkronisasi mana pun. Selama ini ia mengira Pusat tak tertembus. Tiga lapis dinding. Benteng terakhir. Tapi Leviathan tidak peduli pada tinggi dinding. Mereka hanya perlu cukup banyak tubuh untuk ditumpuk.
"Komandan!" teriaknya. "Hiu memanjat dinding di sektor utara! Mereka akan masuk!"
"Aku melihatnya." Suara Laras tetap tenang, tapi Rangga mendengar retakan tipis di baliknya. "Unit Sembilan, tinggalkan rawa. Tutup sektor utara. Sekarang."
Salah satu pilot termuda di skuadron — gadis bernama Wening, baru dua puluh, mengemudikan unit biru ramping — memutar dan berlari ke dinding. Rangga ingin mengikutinya, tapi Kraken di bawahnya belum mati, dan Danur masih terkapar di lumpur.
Pilihan. Selalu pilihan. Ini yang dirasakan Bara setiap hari. Ini beban yang dulu Rangga sumpahi takkan ia pikul.
Ia melompat turun dari punggung Kraken, mengangkat unit Danur dengan satu lengan baja, menyeretnya keluar dari jangkauan tentakel. "Bangun, veteran," desisnya lewat saluran. "Belum waktunya kau mati."
Danur terbatuk di kokpitnya. "...kenapa kau menolongku."
"Karena yang melindungi tidak boleh lari." Kata-kata kakaknya keluar dari mulut Rangga sebelum ia sempat menahannya. Danur terdiam.
Di sektor utara, Wening menahan gelombang Hiu seorang diri, unit biru menari di bibir dinding, menjatuhkan monster demi monster ke parit. Sektor selatan, dua pilot lain membersihkan rawa. Tapi Rangga, menyeret Danur ke garis aman sambil Kraken yang terluka bangkit kembali di belakangnya, merasakan untuk pertama kalinya skala sebenarnya dari yang mereka hadapi.
Hari ini mereka bertahan. Mungkin. Tapi ada ribuan lagi di laut. Dan dinding — dinding apa pun, setinggi apa pun — tidak akan pernah cukup. Yang melindungi tidak boleh lari, pikirnya, tapi ke mana mereka harus berlari kalau pun mau? Tidak ada lagi tempat di belakang Pusat. Pusat adalah belakang.