Sirine itu berbeda dari yang pernah Rangga dengar di Tanjung. Di Pusat, sirine serangan tidak meraung sendirian — ia menggema dari tiga lapis dinding sekaligus, dilipat-gandakan corong logam di setiap menara, sampai seluruh benteng terasa seperti tengkorak yang berdengung.
"Gerombolan pengintai." Komandan Laras Wijaya sudah berdiri di pusat komando saat Rangga tiba, masih dengan jaket sinkronisasi setengah terpasang. Di layar besar, titik-titik merah merayap dari garis pantai timur ke daratan. "Lebih cepat dari prediksi. Tujuh hari yang dijanjikan jenderal sudah jadi bahan tertawaan."
"Berapa banyak?" tanya Rangga.
"Cukup untuk menguji apakah kita layak hidup." Laras berbalik. Di belakangnya, delapan pilot skuadron sudah berbaris — wajah-wajah yang baru Rangga kenal beberapa hari, sebagian masih memandangnya seperti memandang anak yang tersesat ke ruang dewasa. "Kelas Hiu, dominan. Beberapa Kraken di gelombang belakang. Mereka tidak datang untuk menghancurkan Pusat. Belum. Mereka mengukur kita."
Danur — pilot veteran bertubuh besar dengan luka melintang di pelipis — mendengus. "Mengukur. Dan Komandan mau mengirim bocah montir ke garis depan untuk 'pengukuran' pertamanya."
"Aku mengirim setiap Baja yang bisa berdiri, Danur," kata Laras dingin. "Termasuk dia. Termasuk kau. Skuadron kita tinggal sembilan. Aku tidak punya kemewahan menyimpan satu pun."
Rangga menelan komentar yang ingin keluar. Ia sudah belajar — di Tanjung, di antara dua Kraken, lalu di antara tujuh Hiu — bahwa kata-kata tidak menahan Leviathan. Tindakan yang menahannya.
Di hanggar, jarum sinkronisasi menancap di tengkuknya. Rasa sakit yang sudah ia kenal, tajam dan putih, lalu reda jadi dengung. Dunia berubah. Tangan Rangga bukan lagi tangan dari daging — ia merasakan persendian baja Rajawala, beban empat puluh meter logam yang menjadi tubuhnya. Garis merah di dada mesin berpijar. Di sudut pandangnya, angka muncul: SINKRONISASI 78%. Naik. 81%.
"Halo lagi," gumam Rangga pada mesin yang kini adalah dirinya.
Gerbang lapis terluar terbuka. Sembilan Baja melangkah keluar ke dataran berlumpur antara Pusat dan garis pantai timur — dataran yang dulu sawah, kini rawa abu-abu penuh bangkai kendaraan. Rajawala, tanpa sayap, tanpa senjata, tampak kerdil di samping unit-unit lain yang membawa meriam bahu dan bilah panjang. Danur melirik dari kokpit unit hijaunya. "Tetap di belakang, Montir. Jangan menghalangi."
Lalu mereka datang.
Pertama hanya riak di rawa. Lalu punggung berduri membelah lumpur — Kelas Hiu, cepat dan rendah, rahang bergigi terbuka. Bukan tujuh seperti di Tanjung. Puluhan. Garis pertama skuadron melepaskan tembakan; ledakan railgun menyemburkan lumpur dan daging Leviathan ke udara kelabu.
Rangga tidak menembak. Ia tidak punya senjata. Saat seekor Hiu melompat ke arah pilot di sampingnya, Rangga menggerakkan Rajawala — bukan dengan tombol, tapi dengan keinginan murni — dan menangkap rahang monster itu dengan kedua tangan baja. Logam berderit. Rasa sakit menjalar ke lengannya yang asli saat gigi Leviathan mengoyak pelat lengan mesin. SINKRONISASI 74%. Ia menerima rasa sakit itu, tidak melawannya. 78% lagi. Dengan satu hentakan, ia mematahkan rahang itu dan melempar bangkainya ke kawanan di belakang.
"Hiu menyebar!" suara Laras dari komando. "Mereka mengepung kanan!"
Dari posisinya, Rangga melihat polanya. Bukan kawanan acak. Mereka bergerak seperti dipandu — satu kelompok memancing tembakan, kelompok lain menyusup ke sisi yang kosong. Otak montirnya berputar, membaca celah, membaca aliran. "Komandan, mereka tidak menyerang asal. Ada yang mengarahkan. Gelombang depan cuma umpan."
Hening sebentar di radio. Lalu Laras: "...kau benar. Citra belakang menunjukkan Kraken belum bergerak. Mereka menunggu kita kehabisan amunisi di umpan."
Danur menggeram di saluran. "Montir benar untuk sekali ini. Tahan tembakan jarak jauh. Pancing mereka ke jarak dekat."
Untuk pertama kalinya, seseorang di skuadron mendengarkannya. Rangga tidak punya waktu untuk merasakan kemenangan kecil itu. Seekor Hiu menerjang dari sisi butanya. Ia berputar, menjegal monster itu, dan menghantamkannya ke lumpur dengan lutut baja Rajawala. Tanah berguncang.
Di kejauhan timur, melalui kabut, mata-mata merah bara mulai menyala satu per satu. Kraken. Gelombang kedua bangun. Dan di balik semua itu, sangat jauh di garis cakrawala laut, sesuatu yang jauh lebih besar dari pulau bergerak satu inci lebih dekat ke daratan.
Rangga mencengkeram tinjunya yang berlumur darah Leviathan. Baptisan apinya bersama skuadron baru saja dimulai, dan ia sudah tahu — ini bukan pertempuran yang bisa dimenangkan dengan keberanian saja.