Adit tidak tidur dua malam terakhir. Rangga tahu itu dari cara kacamata teknisi muda itu melorot di hidungnya, dari bekas kopi yang mengering di tepi cangkir logam di meja arsip bawah tanah Komando Pusat.
"Aku menemukan sesuatu," kata Adit tanpa basa-basi saat Rangga masuk. Lampu ruang arsip remang, deretan rak besi penuh kotak data tua membentang ke kegelapan. "Saat aku menyalin ulang log inti Rajawala, ada satu segmen yang tidak mau terbaca sistem baru. Format lama. Lima belas tahun lebih."
Rangga menarik kursi. "Dan kau berhasil membukanya."
"Sebagian." Adit memutar layar. Bukan data teknis. Sebuah daftar nama kadet. Tahun pelatihan tertera di sudut: empat tahun sebelum gelombang pertama Leviathan. Di tengah daftar, satu nama membuat napas Rangga tersangkut.
Bara Pradipta.
"Kakakmu," kata Adit pelan, "tercatat sebagai kandidat uji sinkronisasi untuk proyek prototipe seri terakhir. Sebelum proyek dibatalkan. Sebelum perang."
Rangga menatap nama itu lama sekali. Huruf-huruf hijau pudar di layar lama. Bara, masih muda, masih kadet, jauh sebelum menjadi Sang Penjaga Timur, jauh sebelum Garuda. "Rajawala," kata Rangga. "Kau bilang Rajawala. Maksudmu kakakku pernah... berdiri di tempat aku berdiri."
"Aku tidak tahu sejauh apa. Datanya sebagian rusak." Adit menggesek layar. Ada cuplikan video. Buram, penuh bintik. Ruang hanggar yang lebih besar, lebih terang dari yang Rangga kenal. Dan di sana, sosok gunmetal kelabu dengan garis merah pudar yang sama persis. Rajawala. Lebih muda, jika mesin bisa muda — bersih, belum tergores, belum berkarat oleh lima belas tahun terbengkalai di Tanjung.
Suara dalam rekaman patah-patah. "...subjek tidak mencapai ambang... mesin menolak... ulangi, mesin menolak sinkronisasi penuh..."
Rangga mencondongkan badan. "Menolak siapa?"
Adit diam. Lalu, hati-hati, ia memperbesar satu bingkai. Di kursi kemudi yang terbuka, dengan jarum sinkronisasi masih menempel di tengkuknya, kepala tertunduk — kadet itu. Bahu lebar yang Rangga kenal dari ribuan pelukan masa kecil. Rahang yang sama dengan wajah di foto satu-satunya yang Rangga simpan.
"Itu Bara," bisik Rangga.
Mesin menolaknya. Kalimat itu menghantam Rangga lebih keras dari tentakel Kraken mana pun. Bara — yang membunuh lebih dari tiga puluh Leviathan, yang tak pernah kalah, yang menjadi legenda — pernah duduk di kursi yang sama dan ditolak oleh mesin yang sama yang sekarang menerima adiknya.
"Kenapa?" suara Rangga serak. "Kalau Bara saja ditolak, kenapa aku diterima? Aku cuma montir. Dia jauh lebih hebat dariku dalam segala hal."
Adit melepas kacamatanya, memijat pangkal hidung. "Aku tidak punya jawaban teknis untuk itu, Rangga. Sinkronisasi generasi baru Rajawala tidak membaca keahlian. Bukan refleks, bukan kekuatan, bukan jam terbang. Ingat yang dikatakannya saat menerimamu? Mesin bertanya kenapa kau di sana."
Rangga mengingatnya. Rasa sakit jarum di tengkuk, kesadaran asing yang menggeledah isi kepalanya, pertanyaan yang seakan diukir langsung ke tulang: Kenapa kau di sini? Dan jawaban yang keluar tanpa ia rancang — untuk melindungi mereka.
"Mungkin," kata Adit, "Rajawala tidak mencari pilot terkuat. Mungkin ia mencari sesuatu yang lain. Dan dulu, saat Bara masih kadet, dia belum punya 'sesuatu yang lain' itu."
Layar berkedip, lalu mati. Segmen rekaman habis. Tapi di detik terakhir, sebelum gambar lenyap, garis merah di tubuh Rajawala dalam rekaman lama itu berkedip — satu kali, lemah, seperti jantung yang masih mengingat.
Rangga merasakannya juga, jauh di bawah, di hanggar tempat Rajawala-nya beristirahat. Sebuah denyut. Bukan suara, bukan kata. Hanya kesadaran tipis di belakang kepalanya, seperti seseorang membuka mata dalam gelap.
"Adit," kata Rangga, berdiri perlahan. "Cari sisa rekamannya. Semuanya. Aku harus tahu apa yang terjadi pada Bara di kursi itu."
Adit mengangguk, sudah kembali menatap layar. "Akan kucoba. Tapi Rangga—" ia ragu. "Kalau kakakmu ditolak karena alasan yang salah... maka mungkin kau diterima karena alasan yang benar. Jangan biarkan itu jadi beban. Jadikan itu pegangan."
Rangga tidak menjawab. Ia keluar dari ruang arsip, menyusuri lorong logam menuju hanggar. Di sana, dalam kegelapan, garis merah pudar Rajawala berpijar pelan, menunggunya. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Pusat, Rangga tidak melihat mesin asing. Ia melihat sesuatu yang pernah mengenal kakaknya — dan memilih untuk menunggu adiknya datang.
Di kejauhan, di luar tiga lapis dinding Pusat, terdengar gemuruh samar dari arah timur. Belum sirine. Belum. Tapi laut sedang bergerak.