Itu terjadi di sesi latihan terakhir sebelum Celah Bawana, dan tidak ada di layar mana pun yang bisa menjelaskannya.
Rangga sedang mendorong sinkronisasi melewati delapan puluh lima untuk pertama kalinya—lebih jauh dari yang pernah, ke wilayah yang membuat seluruh tubuhnya bergetar seperti dawai yang ditarik terlalu kencang. Drone-drone simulasi mengelilinginya. Rasa sakit menari di sarafnya. Dan di tengah kabut sinkronisasi tinggi itu, ia mendengar sesuatu.
Bukan kata. Rajawala tidak punya kata. Tapi sesuatu mengalir lewat koneksi—gambar, perasaan, fragmen yang bukan miliknya.
Sebuah hanggar. Bukan hanggar Tanjung, bukan hanggar Pusat. Lebih kecil, lebih lama, dindingnya beton mentah. Tangan-tangan ilmuwan yang ia tak kenal, bekerja pada inti yang berpijar merah pudar. Suara—jauh, teredam, seperti diingat lewat air—seseorang tertawa. Lalu seseorang menangis. Lalu sebuah perasaan, kuat dan jelas dan bukan miliknya: harapan. Harapan yang putus asa. Harapan yang ditanam ke dalam logam.
"RANGGA!"
Suara Adit memecah kabut. Rangga tersentak kembali ke arena, jarum sinkronisasi serasa membakar tengkuknya, sinkronisasi merosot tajam dari delapan delapan ke tujuh puluh. Ia menarik koneksi keluar, dan kokpit Rajawala mendesis terbuka.
Ia keluar gemetar, jatuh berlutut di lantai logam. Adit dan Wibawa berlari mendekat.
"Apa yang terjadi?" Adit memeriksa layar di tabletnya, panik. "Sinkronisasimu melonjak ke delapan delapan, lalu ada... lonjakan aneh di pembacaan inti. Seperti ada data lain mengalir balik ke arahmu. Apa kau—apa kau merasakan sakit?"
"Bukan sakit," kata Rangga, suaranya serak. Ia menatap tangannya yang gemetar. "Aku melihat sesuatu. Aku melihat... tempat. Orang-orang. Mereka membuat Rajawala. Aku merasakan apa yang mereka rasakan saat membuatnya." Ia mendongak. "Adit. Mesin ini menyimpan sesuatu. Bukan cuma sistem. Ada... kenangan. Tertanam di intinya."
Wibawa dan Adit bertukar pandang.
"Itu tidak mungkin," kata Wibawa, tapi suaranya tidak yakin. "Mesin tidak menyimpan kenangan."
"Generasi sinkronisasi baru," gumam Adit, lebih ke dirinya sendiri, jari-jarinya berhenti di tablet. "Sinkronisasi dua arah. Pilot merasakan mesin... tapi bagaimana kalau mesin juga merekam? Bagaimana kalau setiap kali seseorang menyentuh inti itu—setiap kali ada yang mencoba sinkron, atau bahkan saat ia dibuat—sesuatu tertinggal di sana?" Matanya melebar. "Rangga. Apa kau merasakan siapa orang-orang itu?"
Rangga menutup mata, mencoba menahan fragmen yang sudah memudar seperti mimpi. Satu wajah hampir muncul—tangan yang bekerja pada inti, sebuah suara—lalu hilang.
"Tidak," katanya pelan. "Tapi salah satu dari mereka... salah satu dari mereka mencintai mesin ini. Seperti mencintai anak. Dan salah satu dari mereka takut. Sangat takut. Seperti mereka membuat Rajawala untuk melawan sesuatu yang mengerikan, dan mereka tidak yakin itu akan cukup."
Hanggar arena hening. Di layar besar, pembacaan inti Rajawala telah kembali normal—garis merah pudar berpijar tenang, seperti mesin yang baru saja berbisik rahasia lalu kembali diam.
Adit menatap raksasa kelabu itu untuk waktu yang lama.
"Aku akan menggali arsip lama," katanya akhirnya, suaranya pelan, tapi ada api di matanya—api seorang teknisi yang baru saja menemukan teka-teki yang lebih besar dari perang itu sendiri. "Proyek prototipe. Siapa yang membuatnya. Kenapa dibatalkan. Kalau ada kenangan di inti itu, Rangga, maka ada jawaban juga. Dan kurasa..." Ia menatap Rangga. "Kurasa Rajawala memilihmu bukan cuma karena kau ingin melindungi. Kurasa ada alasan lain. Alasan yang lebih tua dari kita semua."
Di luar, sirine Pusat meraung—bukan latihan kali ini.
Pengintai telah mencapai Celah Bawana. Pertempuran nyata telah dimulai.
Dan Rangga, masih gemetar dari suara tanpa kata yang baru ia dengar, bangkit berdiri, menatap Rajawala, dan merasa—untuk pertama kalinya—bahwa mesin yang memilihnya menyimpan rahasia yang suatu hari akan menyelamatkan dunia, atau menghancurkannya.