Instruktur latihan bernama Sersan Wibawa, dan pada hari kedua, ia melempar tablet datanya ke meja dengan frustrasi yang nyaris komikal kalau saja taruhannya tidak begitu mematikan.
"Aku sudah melatih tiga puluh pilot," katanya, menatap Rangga seperti menatap teka-teki yang menolak dipecahkan. "Tiga puluh. Dan tidak satu pun bertarung seperti kau. Yang berarti kau bertarung SALAH."
Mereka ada di arena latihan—ruang simulasi raksasa di mana Baja bertarung melawan drone bersenjata tumpul, gerakan direkam, sinkronisasi dipantau di layar besar. Selama dua hari, Wibawa mencoba mengajari Rangga "cara yang benar": pola serangan standar, jarak optimal, manuver bertahan yang sudah disempurnakan selama lima belas tahun perang.
Dan selama dua hari, Rangga gagal di setiap pola, lalu menang dengan caranya sendiri.
"Lihat ini," kata Wibawa, memutar rekaman. Di layar, Rajawala menghadapi tiga drone. Pola standar menyuruh pilot mundur, ambil posisi, lawan satu per satu. Sebagai gantinya, Rajawala menyergap—menarik satu drone ke jalur drone lain, menggunakan tubuh musuh sebagai perisai, menjebak ketiganya di sudut sempit yang Rangga ciptakan dengan memiringkan satu pilar arena. "Itu bukan teknik. Itu... itu seperti seseorang memperbaiki mesin yang macet."
"Karena begitulah aku berpikir," kata Rangga, mengusap tengkuknya yang masih nyeri dari jarum. "Aku montir. Aku tidak melihat pertarungan. Aku melihat sistem. Di mana titik tekanannya, di mana ia akan patah kalau aku memberi beban di tempat yang tepat."
Wibawa membuka mulut untuk membantah, lalu menutupnya. Di layar besar, grafik sinkronisasi Rangga menunjukkan sesuatu yang membuat sersan itu mengernyit—setiap kali Rangga memaksakan pola standar, sinkronisasinya turun, kadang sampai ke enam puluh, sekali nyaris menyentuh garis bahaya empat puluh. Tapi setiap kali ia bertarung dengan caranya sendiri, sinkronisasi naik, stabil, kadang menyentuh delapan puluh lima.
"Mesinmu menolak teknik standar," kata Wibawa pelan, menyadarinya. "Bukan kau yang gagal di pola. Rajawala yang menolaknya."
"Rajawala dirancang berbeda," kata suara dari pintu. Adit, dengan tabletnya sendiri dan kantung mata yang makin gelap. "Tanpa senjata. Tanpa sayap. Generasi sinkronisasi baru. Pola standar dibuat untuk Baja generasi lama dengan senjata jarak jauh. Memaksa Rajawala memakainya seperti memaksa pesawat tempur berenang." Ia mendekat. "Sinkronisasi Rajawala bukan tentang menjalankan perintah. Ini tentang... persetujuan. Mesin dan pilot sepakat soal apa yang harus dilakukan. Kalau Rangga memaksakan gerakan yang tidak ia percayai, mesin merasakannya. Dan koneksi melemah."
Rangga teringat bab pertama sinkronisasi—Rajawala menggeledah pikirannya, bertanya kenapa ia di sini. Mesin itu tidak pernah berhenti bertanya. Setiap gerakan adalah pertanyaan, dan kebohongan membuat sinkronisasi runtuh.
"Jadi aku harus melatihnya untuk bertarung seperti dirinya sendiri," kata Wibawa, akhirnya menyerah pada teka-teki, dan mulai tertarik. "Bukan seperti pilot lain." Ia mengambil kembali tabletnya. "Baik, bocah. Lupakan semua yang kuajarkan. Kita mulai dari nol. Kau tunjukkan padaku bagaimana montir membunuh raksasa, dan aku akan mencari cara membuatmu lebih cepat melakukannya."
Hari ketiga latihan adalah yang paling menyakitkan, karena untuk pertama kalinya, mereka mendorong sinkronisasi tinggi dengan sengaja—membiarkan Rangga merasakan luka simulasi sebagai rasa sakit nyata untuk melatih dirinya menerimanya, bukan menolaknya. Setiap pukulan drone yang menembus pertahanan Rajawala terasa di tulang Rangga. Tapi ia belajar. Ia bertahan. Dan sinkronisasinya naik.
Saat hari berakhir, Rangga tergeletak di lantai arena, basah keringat, gemetar, tapi tersenyum tipis. Wibawa menjulurkan tangan dan menariknya berdiri.
"Kau aneh, Nak," kata sersan itu. "Tapi mungkin aneh adalah yang kita butuhkan sekarang."
Di luar, langit timur sudah hampir seluruhnya gelap. Pengintai semakin dekat. Celah Bawana menunggu.