Rangga menemukan Danur di hanggar tengah malam, sendirian, merawat Baja berkapaknya dengan kelembutan yang tidak cocok dengan ukuran tubuhnya.
Ia tidak berencana mendekat. Tapi ia tidak bisa tidur—pikiran tentang dua ribu Leviathan tidak membiarkan siapa pun tidur—dan kakinya membawanya ke Rajawala untuk memeriksa sambungan lengan yang ia rasa kaku saat menahan pesisir. Saat ia tiba, Danur sudah ada di sana, memunggunginya.
"Aku tahu kau di situ, bocah," kata Danur tanpa menoleh. "Aku bisa mencium ketakutan."
Rangga tidak pergi. Ia memutuskan, entah kenapa, bahwa lari dari pria ini akan jadi kesalahan. "Kau membenciku," katanya langsung. "Tapi kau bahkan belum kenal aku. Jadi kau tidak membenciku. Kau membenci sesuatu yang lain."
Danur akhirnya menoleh. Di bawah cahaya hanggar, bekas luka di alisnya terlihat lebih dalam.
"Garuda," katanya. Satu kata, dan ia mengucapkannya seperti racun. "Kakakmu dan mesin putih emasnya yang cantik. Sang Penjaga Timur. Pahlawan yang tak pernah kalah."
"Bara mati menyelamatkan dua ratus orang," kata Rangga, suaranya mengeras.
"Bara mati sebagai legenda," balas Danur, melangkah lebih dekat, dan ia jauh lebih besar dari Rangga, tapi Rangga tidak mundur. "Dan kau tahu apa yang terjadi dengan legenda? Mereka membuat semua orang lain terlihat seperti pengecut. Dua belas tahun lalu, garis selatan jatuh. Aku di sana. Aku dan saudaraku—pilot juga, Baja kembar dengan punyaku." Suaranya pecah, lalu mengeras lagi. "Kami minta bantuan. Pusat punya satu unit yang bisa dikirim. Mereka mengirimnya ke timur, untuk memperkuat Sang Penjaga Timur yang sudah menang. Bukan ke selatan. Bukan ke kami."
Rangga merasakan tanah bergeser di bawahnya.
"Saudaraku mati di garis selatan menunggu bantuan yang dikirim ke kakakmu," kata Danur, dan untuk satu detik, di balik kebencian, Rangga melihat luka yang dua belas tahun tidak menyembuhkannya. "Bukan salah Bara. Aku tahu itu. Bara bahkan tidak tahu. Itu keputusan Pusat. Tapi setiap kali aku melihat warna putih emas itu di layar, aku melihat saudaraku menunggu di garis yang tidak pernah dapat bala bantuan."
Hanggar hening. Di kejauhan, mesin pabrik berdengung.
"Dan sekarang," lanjut Danur pelan, "mereka membawa adik Bara. Dengan mesin baru yang katanya 'memilih' dia. Dan semua orang berbisik mungkin dia penyelamat berikutnya. Mungkin darah Pradipta menyelamatkan dunia lagi." Ia meludah. "Sementara pilot seperti aku, yang bertarung dua belas tahun tanpa nama dan tanpa puji, dilupakan."
Rangga berdiri diam lama. Ia bisa marah. Bisa membela Bara. Bisa pergi. Tapi montir di dalam dirinya—yang selalu mencari di mana sebuah mesin benar-benar rusak, bukan di mana ia berbunyi—berbicara lebih dulu.
"Aku tidak datang untuk jadi legenda," kata Rangga akhirnya. "Aku tidak mau jadi Bara. Aku menolak jadi pilot selama bertahun-tahun karena aku melihat apa yang menjadi legenda lakukan—itu membunuhnya, dan meninggalkanku sendiri." Ia menatap mata Danur. "Saudaramu mati menunggu bantuan. Aku berjanji satu hal padamu, Danur. Di Celah Bawana, kalau kau minta bantuan, aku akan datang. Tidak peduli aku di garis mana. Itu satu-satunya cara aku tahu untuk membayar utang yang bukan utangku."
Danur menatapnya lama, lama sekali, dan Rangga tidak bisa membaca apa yang ada di matanya. Lalu pria besar itu berbalik kembali ke Bajanya, mengusap permukaan logam berkapak itu dengan telapak tangan kasar.
"Namanya Gada," kata Danur, dan untuk sesaat ia tidak bicara tentang kebencian. "Mesinku. Saudaraku dulu pilot kembarannya—unit Gadai. Hancur di garis selatan. Aku menyimpan satu baut dari mesinnya." Ia menepuk dada zirah Gada, di mana, kalau Rangga memicingkan mata, ada satu sekrup kecil yang warnanya beda, dilas ke dalam pelat. "Dua belas tahun aku bawa dia ke setiap pertempuran. Supaya dia selalu di garis depan. Supaya dia tidak pernah lagi menunggu sendirian."
Rangga tidak berkata apa-apa. Ia mengerti—lebih dari Danur tahu. Ia pun membawa kakaknya ke setiap pertempuran, bukan dalam baut, tapi dalam setiap langkah Rajawala yang ia paksa untuk melindungi.
"Kata-kata murah, bocah," kata Danur akhirnya, suaranya kembali keras. "Garis depan yang menentukan harganya."
Tapi suaranya, untuk pertama kali, kehilangan sedikit racunnya. Dan saat Rangga berbalik untuk pergi, ia mendengar pria besar itu menambahkan, pelan, hampir tak terdengar di dengung pabrik:
"Sambungan lengan kanan Rajawala. Yang kau bilang kaku. Coba ganti bantalan hidroliknya, bukan cuma diberi minyak. Mesin tua sepertinya selalu rusak di sana." Jeda. "Bara pernah mengajariku itu. Dulu. Sebelum semuanya."