Jenderal itu lebih tua dari yang Rangga bayangkan dari siaran Kode Hitam.
Namanya Jenderal Mahesa, dan ia menerima Rangga di ruang strategi di puncak menara komando—ruang berdinding kaca tebal yang menghadap ke seluruh benteng dan, di kejauhan timur, ke laut. Ia berdiri di depan meja peta raksasa, punggungnya bungkuk oleh tahun-tahun yang berat, tapi matanya masih tajam seperti pisau yang belum tumpul.
"Jadi kau adik Bara," kata Mahesa, tanpa menoleh dari peta. "Dia menyelamatkan benteng ini dua kali. Sebelum garis timur. Sebelum semuanya." Ia akhirnya berbalik. "Dan sekarang dunia bertanya apakah darah yang sama mengalir di mesin yang dia tidak pernah bisa pakai."
Rangga tidak tahu harus menjawab apa, jadi ia menatap peta.
Dan ia berharap ia tidak melakukannya.
Peta itu menunjukkan seluruh garis pantai timur—ribuan kilometer—dengan titik-titik merah yang bergerak pelan ke darat. Bukan animasi. Data nyata, diperbarui setiap menit dari satelit yang nyaris mati. Gerombolan Sang Induk. Dan di antara titik merah dan benteng-benteng yang tersisa, ada garis-garis biru tipis—rencana pertahanan.
"Sembilan Baja," kata Mahesa, menunjuk sembilan titik biru. "Itu seluruh kekuatan ofensif umat manusia. Dulu kami punya empat puluh. Lalu tiga puluh. Lalu sepuluh. Sekarang sembilan." Jarinya bergerak ke titik merah yang luas. "Melawan—perkiraan terbaik kami—antara dua dan tiga ribu Leviathan. Plus Sang Induk."
Rangga menelan ludah. "Dua ribu lawan sembilan."
"Lebih buruk dari itu." Mahesa menyeret jarinya sepanjang garis pantai. "Kita tidak bisa menempatkan sembilan Baja di setiap titik. Garis pantai terlalu panjang. Jadi kita tidak akan mencoba menahan laut. Itu mustahil. Yang akan kita lakukan adalah ini." Ia menunjuk satu lembah sempit di antara dua gunung, jalur alami menuju pedalaman, menuju Pusat. "Celah Bawana. Satu-satunya jalur yang cukup lebar untuk gerombolan besar lewat ke pedalaman. Kita menahan di sana. Sembilan Baja, semua meriam Pusat, semua yang kita punya. Kita jadikan Celah Bawana sebagai botol, dan kita jadi sumbatnya."
"Dan kalau sumbatnya jebol?"
Mahesa menatapnya lama. "Maka tiga lapis dinding ini adalah hal terakhir antara Leviathan dan dua ratus ribu manusia di belakangku. Termasuk orang-orang yang baru kau bawa dari Tanjung."
Dua ratus ribu. Rangga merasa angka itu menekan dadanya. Di Tanjung, ia bertarung untuk dua ratus jiwa, dan itu sudah terasa seperti memikul gunung. Di sini, angkanya seribu kali lipat.
"Aku tidak akan membohongimu, Nak," kata Mahesa, suaranya melunak sedikit—kelelahan seorang pria yang sudah terlalu lama mengirim anak-anak orang lain untuk mati. "Perhitungan kami mengatakan kita tidak menang pertempuran ini. Kami hanya bertanya berapa lama kami bisa menahan, dan berapa banyak yang bisa kami selamatkan sebelum tumbang." Ia menunjuk timur, ke laut. "Sang Induk adalah jantungnya. Selama ia hidup, gerombolan tidak akan berhenti. Kalau kita bisa membunuhnya—satu-satunya cara kita menang—tapi tidak ada senjata di dunia yang cukup besar untuk menyentuhnya."
Rangga menatap titik merah raksasa di tengah peta. Berdenyut. Seperti jantung. Seperti yang ia lihat di radar Tanjung.
"Bara membunuh dua dengan inti reaktornya," kata Rangga pelan. "Apa yang bisa membunuh Sang Induk?"
Mahesa tidak menjawab. Ia hanya menatap peta kehancuran, dan dalam keheningan itu, Rangga mengerti bahwa pertanyaan itu adalah pertanyaan yang membuat seorang jenderal tua tidak bisa tidur di malam hari.
"Berlatihlah," kata Mahesa akhirnya. "Celah Bawana akan dibuka oleh pengintai dalam tiga hari. Setelah itu, kita lihat berapa lama sembilan baja bisa bertahan."