Mereka memperkenalkan diri di ruang briefing malam itu, satu per satu, dan Rangga berusaha mengingat setiap nama seperti seorang montir mengingat setiap bagian mesin—karena ia tahu, suatu hari, ia mungkin harus tahu siapa yang masih hidup dan siapa yang tidak.
Delapan pilot. Delapan Baja. Plus Rajawala, jadilah sembilan—seluruh skuadron tempur baja yang tersisa di dunia, berkumpul di satu ruangan yang lebih kecil dari yang seharusnya untuk menampung beban itu. Di luar kesembilan itu hanya ada satu unit lagi: Cakra, Baja tua milik Komandan Laras sendiri, yang lebih sering ia kemudikan untuk menahan gerbang daripada dihitung sebagai bagian skuadron.
"Danur," kata pria bertubuh besar bercukur kepala itu, sudah Rangga kenal. Pilot Baja berkapak, "Gada". Veteran tertua yang masih aktif. Ia tidak menjabat tangan Rangga. "Dua belas tahun di garis depan. Aku sudah membunuh lebih banyak Leviathan daripada usiamu dikali sepuluh." Tatapannya keras. "Jangan harap aku percaya prototipe yang gagal."
"Putri." Wanita berambut kelabu, suara lelah, pilot Baja meriam jarak jauh "Sundang". Ia mengangguk pada Rangga, tidak ramah, tidak dingin. "Aku menembak dari belakang. Kalau kau di garis depan, jangan berdiri di garis tembakku, dan kita akan baik-baik saja."
"Wira dan Wening," kata sepasang pilot kembar, mungkin awal dua puluhan, satu-satunya yang tersenyum padanya. Mereka memiliki dua Baja ringan dan cepat, "Lawi" dan "Cundrik", yang bertarung berpasangan. "Jangan dengarkan Danur," bisik Wening sambil mengedip. "Dia menggonggong pada semua pilot baru."
"Bayu." Pria muda berkulit gelap dengan Baja berkaki pengganti, "Limpung". Pendiam, sopan, menjabat tangan Rangga erat. "Aku dari Benteng Sembilan. Aku satu-satunya yang keluar." Ia tidak menjelaskan lebih.
"Tirta." Wanita paruh baya, mantan dokter, kini pilot Baja pelindung "Tameng" yang dirancang untuk menahan, bukan menyerang. "Aku menjaga dinding. Kalau aku jatuh, dinding jatuh. Jangan biarkan aku jatuh."
"Galuh." Pilot tertua kedua setelah Danur, pendiam, rambut memutih, Baja tua "Curiga" yang penuh tambalan. Ia hanya mengangguk. Tidak bicara sepanjang briefing.
Dan satu kursi kosong.
"Yang kedelapan?" tanya Rangga pelan ke Laras.
"Indra," jawab Laras. "Sektor utara. Dia tidak hadir di briefing. Dia tidak pernah hadir." Ada sesuatu di nada Laras yang menyuruh Rangga tidak bertanya lebih.
Delapan nama. Rangga mengulanginya dalam kepalanya. Danur, Putri, Wira, Wening, Bayu, Tirta, Galuh, Indra. Delapan pilot yang telah bertahan hidup lebih lama dari semua statistik, lebih lama dari semua kawan mereka yang sudah tiada. Delapan orang yang sekarang harus menerima seorang bocah tujuh belas tahun sebagai yang kesembilan.
"Jadi," kata Danur, menyandarkan tubuhnya ke kursi, lengannya bersilang. "Mereka mengirim kita penjaga Tanjung yang baru. Dengan mesin yang Tanjung tidak pernah bisa pakai." Ia tersenyum tipis, tidak ada kehangatan di dalamnya. "Kita semua tahu siapa penjaga Tanjung yang lama, kan? Sang Penjaga Timur yang agung. Bara Pradipta."
Ruangan menjadi dingin. Rangga merasakan setiap mata berpaling ke arahnya.
"Bara saudaraku," kata Rangga, suaranya tenang walau jantungnya bukan.
"Aku tahu," kata Danur, dan dalam dua kata itu ada gunung es yang Rangga belum lihat dasarnya. "Itu masalahnya."
Ia berdiri, mengakhiri briefing tanpa izin siapa pun, dan berjalan keluar. Pintu logam menutup di belakangnya dengan dentum yang menggema lebih lama dari seharusnya.
Wening menyentuh lengan Rangga saat yang lain bubar. "Dia... punya sejarah dengan kakakmu," katanya pelan. "Tanyakan Laras. Atau jangan. Kadang sejarah lebih baik dibiarkan terkubur." Ia tersenyum sedih dan pergi.
Rangga berdiri sendiri di ruang briefing yang mengosong, mengulang delapan nama, dan menyadari bahwa di sini—di benteng terakhir umat manusia—monster bukan satu-satunya hal yang harus ia waspadai.