Komando Pertahanan Pusat tidak terlihat seperti benteng. Ia terlihat seperti gunung yang manusia paksa menjadi sesuatu.
Rangga melihatnya sejak fajar—pertama hanya garis kelabu di cakrawala, lalu makin besar, makin mustahil, sampai ia harus mendongakkan kokpit Rajawala untuk melihat puncaknya. Tiga lapis dinding melingkar, masing-masing setinggi gedung, dipisahkan parit dan ladang ranjau dan meriam railgun yang moncongnya lebih besar dari truk. Di balik dinding ketiga, menara-menara dan hanggar dan kepulan asap dari pabrik yang tak pernah tidur.
Tanjung, sadarnya dengan sesuatu seperti rasa malu, akan muat di dalam satu menara saja.
"Selama ini aku pikir Tanjung adalah dunia," kata Rangga di radio, suaranya kecil.
"Tanjung adalah ujung dunia," kata Laras. "Ini jantungnya. Atau apa yang tersisa darinya."
Gerbang dinding pertama terbuka—lempeng baja setebal sepuluh meter merangkak menyamping dengan dengung yang Rangga rasakan di gigi. Konvoi masuk, melewati parit yang dalamnya seperti jurang, melewati prajurit-prajurit berseragam yang memeriksa setiap wajah, melewati moncong-moncong railgun yang mengarah ke timur dan tak pernah berkedip. Pengungsi Tanjung—seratus enam puluh empat jiwa yang kelelahan—digiring ke sektor penampungan, dan Rangga melihat Pak Surya menggandeng Sari masuk ke kerumunan, menoleh sekali ke arahnya, lalu hilang di antara ribuan wajah lain.
Sari sempat melepaskan tangan Pak Surya dan berbalik. Dari kejauhan, gadis kecil itu mengangkat boneka robotnya tinggi-tinggi, lengannya yang utuh, dan melambai-lambaikannya ke arah Rajawala—seakan ingin memastikan raksasa kelabu itu tahu Pak Robot selamat. Rangga, dari dalam kokpit, membuat Rajawala mengangkat satu tangan raksasanya beberapa senti. Cukup. Sari tersenyum, lalu menghilang ke dalam kerumunan.
Ribuan. Pusat penuh sesak dengan pengungsi dari setiap benteng yang sudah jatuh. Rangga belum pernah melihat begitu banyak manusia di satu tempat. Dan ia juga belum pernah melihat begitu banyak ketakutan dikemas di balik dinding.
Rajawala dipandu ke hanggar Baja—ruang katedral logam di balik dinding ketiga, tempat raksasa-raksasa lain berdiri dalam barisan. Rangga membawa kokpitnya melangkah pelan ke dalam, dan saat lampu hanggar menyala penuh, ia melihat mereka untuk pertama kalinya.
Baja. Yang lain. Sekutunya.
Mereka berdiri seperti dewa yang lelah. Yang satu bersenjata kapak raksasa, baju zirahnya penuh goresan luka lama. Yang lain ramping, dipenuhi laras meriam di setiap permukaan. Yang ketiga berkulit hitam legam, salah satu kakinya jelas pengganti—las kasar di sambungannya. Setiap mesin punya luka. Setiap mesin punya cerita yang Rangga belum tahu.
Dan di samping setiap Baja, berdiri seorang pilot. Menatapnya.
Rangga membuka kokpit dan turun lewat kabel, kakinya menyentuh lantai logam dingin. Para pilot itu—pria dan wanita yang lebih tua darinya, jauh lebih tua, dengan wajah yang sudah terlalu lama bertarung—menatap Rajawala. Lalu menatapnya.
Seorang pria bertubuh besar, kepala dicukur, dengan bekas luka membelah alisnya, meludah ke lantai.
"Itu prototipe Tanjung," katanya, suaranya keras di keheningan hanggar. "Yang tidak pernah ada yang bisa sinkron." Matanya menyipit ke Rangga. "Dan ini pilotnya? Bocah?"
"Bocah ini menahan pesisir Tanjung sendirian selama empat jam," kata Laras dingin, melangkah turun di belakang Rangga. "Berapa lama kau bertahan terakhir kali kau di garis depan, Danur?"
Pria bertubuh besar itu—Danur—tidak menjawab. Tapi matanya tidak meninggalkan Rangga, dan dalam tatapan itu ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar keraguan. Sesuatu yang lebih dekat ke kebencian, walau Rangga belum mengerti kenapa.
"Selamat datang di Pusat, Nak," kata pilot lain—wanita berambut kelabu dengan suara lelah dan tidak ramah maupun bermusuhan. "Kuharap kau membawa keajaiban. Karena perhitungan kami yang lain sudah habis."
Di balik dinding ketiga, di balik tiga lapis baja, ribuan manusia menunggu keajaiban yang sama. Dan Rangga, tujuh belas tahun, montir dari benteng pesisir yang sekarang ada di dasar laut, berdiri di antara dewa-dewa lelah dan merasa lebih kecil dari yang pernah ia rasakan.