Rangga menahan pesisir selama empat jam.
Ia tidak menghitung berapa Leviathan yang ia hancurkan—pengintai datang dalam ombak, Hiu dan dua Kraken kecil, dan Rajawala bertarung tanpa senjata seperti yang selalu ia lakukan: dengan tangan, dengan logika ruang sempit, dengan menggunakan reruntuhan Tanjung sebagai jebakan dan kanal pelabuhan sebagai corong. Saat radio Laras berderak—"Konvoi terakhir lewat tikungan utara, Rangga, semua orang aman, MUNDUR"—ia tidak butuh disuruh dua kali.
Ia melepaskan diri dari pesisir, membiarkan laut menelan benteng kosong di belakangnya, dan berlari ke pedalaman dengan langkah-langkah raksasa yang mengejar debu konvoi.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Rangga Pradipta melihat dunia di luar Tanjung.
Ia selalu membayangkannya lebih besar. Lebih hijau. Sesuatu seperti foto-foto lama di buku Pak Surya—ladang, kota, lampu. Tapi yang ia lihat dari ketinggian kokpit Rajawala adalah luka.
Tanah retak dan kering, dilubangi kawah-kawah sebesar danau—bekas tempat Leviathan pernah jatuh, atau Baja pernah meledak. Jalan-jalan beton pecah ditumbuhi besi berkarat. Dan benteng-benteng. Bukan satu, tapi belasan, tersebar di cakrawala—benteng-benteng kecil seperti Tanjung, sebagian masih bernapas dengan asap tipis dapur, sebagian hanya tengkorak dinding hitam yang sudah lama mati.
"Itu Benteng Sembilan," kata Laras lewat radio, mengikuti arah pandang Rangga seakan bisa melihat lewat matanya. "Jatuh tiga tahun lalu. Empat ratus orang. Hanya satu pilot yang lolos."
Konvoi mereka melewati gerombolan pengungsi di jalan—orang-orang berjalan kaki, mendorong kereta, menggendong yang sakit. Mereka berhenti dan menatap Rajawala lewat, raksasa kelabu yang berjalan di samping konvoi seperti malaikat penjaga yang kelelahan. Beberapa anak melambai. Beberapa orang tua hanya menatap, mata kosong, seperti sudah lama berhenti percaya bahwa baja bisa menyelamatkan siapa pun.
Sekali, seorang pria tua berdiri di tengah jalan dan tidak mau minggir. Konvoi berhenti. Rangga menundukkan kokpit Rajawala, dan lewat pelantang ia bertanya apa yang pria itu butuhkan.
"Anakku pilot Baja," teriak pria tua itu ke arah wajah logam raksasa di atasnya. "Garis selatan. Lima tahun lalu. Kalau kau lewat laut, kalau kau lihat mesinnya—namanya unit Pamor—tolong bawa pulang dia."
Rangga tidak tahu harus menjawab apa. Pamor bukan satu dari sembilan. Yang berarti pilotnya, anak pria itu, sudah lama tiada. Tapi ia tidak punya hati untuk mengatakannya.
"Akan kucari, Pak," katanya pelan lewat pelantang, dan kebohongan itu terasa seperti batu di lidahnya. Pria tua itu mengangguk, puas, dan minggir. Konvoi bergerak lagi.
"Kau tidak boleh berjanji begitu," kata Laras di radio, suaranya bukan teguran, hanya lelah. "Mereka akan mengingatnya."
"Aku tahu," kata Rangga. "Tapi dia butuh seseorang berkata iya. Hari ini, aku bisa jadi orang itu."
Rangga merasakan beban itu sekarang—bukan beban mesin di lengannya, tapi beban yang lebih berat. Setiap wajah yang menatapnya adalah seseorang yang mengira ia adalah harapan. Dan ia tahu, dengan kejujuran dingin seorang montir yang tahu kapan sebuah mesin akan gagal, bahwa sembilan baja tidak cukup untuk semua wajah ini.
"Bara berjalan di jalan-jalan seperti ini," kata Rangga pelan, lebih ke dirinya sendiri daripada ke radio.
"Setiap hari," jawab Laras, dan suaranya melembut. "Dia bilang itu bagian tersulit. Bukan bertarung dengan monster. Tapi berjalan di antara orang-orang yang kau tahu tidak bisa kau selamatkan semuanya."
Rangga menatap langit di atas pedalaman. Tidak ada Sang Induk di sini—ia masih jauh di timur—tapi langit tetap terasa lebih rendah, lebih berat, seperti seluruh dunia menahan napas.
Malam turun. Konvoi berhenti di balik bukit untuk istirahat singkat. Rangga keluar dari kokpit, kaki gemetar, dan duduk di tanah dingin di samping kaki raksasa Rajawala. Sari datang membawa secangkir teh hangat dari termos Bu Inten, lalu duduk di sampingnya tanpa bicara, kepalanya bersandar di lengannya.
Di kejauhan, lampu Pusat baru mulai terlihat—satu titik cahaya teguh di tengah pedalaman gelap. Benteng terakhir. Tujuan mereka.
Rangga meminum tehnya dan tidak berkata apa-apa. Besok, mereka akan tiba. Dan ia tahu, entah bagaimana, bahwa tiba di sana bukanlah akhir dari apa pun. Itu baru permulaan.