Evakuasi total adalah kekacauan yang teratur, dan ketidakteraturannya selalu di tepi-tepinya.
Rangga keluar dari kokpit untuk membantu memuat konvoi darat—truk-truk tua, kendaraan lapis baja berkarat, apa pun yang punya roda dan mesin yang mau menyala. Ia mengangkat peti, menggendong orang tua, menambal radiator yang bocor dalam tiga menit dengan tangan yang masih gemetar dari sinkronisasi. Pekerjaan montir. Pekerjaan yang ia mengerti. Untuk beberapa jam, ia hampir bisa berpura-pura ini hari biasa.
Lalu Bu Inten menarik lengannya, wajahnya pucat.
"Sari," katanya. "Kau lihat Sari? Aku menyuruhnya naik truk kedua, tapi dia bilang mau ambil sesuatu dulu, dan itu sejam lalu, dan dia—" Suaranya pecah. "Dia tidak ada di truk mana pun, Rangga."
Perut Rangga jatuh.
"Truk-truk masih di sini?"
"Truk pertama sudah berangkat." Pak Surya muncul, napasnya tersengal. "Tapi dia tidak ada di truk pertama. Aku sudah cek daftar dua kali."
Di atas mereka, sirine evakuasi masih meraung, dan lewat lubang ventilasi Rangga bisa mendengar deru kapal terakhir yang menjauh dari pelabuhan. Waktunya habis. Konvoi darat akan berangkat dalam hitungan menit, dengan atau tanpa mereka.
Rangga sudah berlari. Bukan ke konvoi—ke bunker. Ke bawah. Karena ia tahu Sari, tahu apa "ambil sesuatu dulu" berarti bagi gadis delapan tahun yang mencintai satu benda di dunia ini lebih dari ketakutannya. Boneka robot itu. Pak Robot. Mainan yang Rangga sendiri perbaiki belasan kali, lengan yang selalu lepas karena Sari memeluknya terlalu erat saat tidur.
Lorong bunker setengah gelap, lampu darurat berkedip, air merembes dari dinding bawah laut—air dangkal yang merembes lewat retakan fondasi tua. Tanjung sedang sekarat dari bawah ke atas. Rangga menyusuri koridor yang ia kenal sejak kecil, memanggil nama itu, suaranya memantul.
"Sari! SARI!"
Tidak ada jawaban. Hanya tetes air, dan jauh di atas, getaran tumpul—sesuatu yang besar bergerak di laut dekat pesisir. Pengintai sudah datang. Lebih cepat dari tiga hari. Lebih cepat dari tiga puluh enam jam.
Ia menemukan Sari di ruang perbaikan lamanya—tempat Rangga dulu memperbaiki mainan rusak anak-anak Tanjung. Gadis itu duduk meringkuk di bawah meja kerja, memeluk boneka robotnya yang lengannya lepas, air sudah setinggi mata kakinya.
"Kak Rangga." Mata Sari basah. "Pak Robot patah lagi. Aku tidak mau tinggalkan dia."
Sesuatu di dada Rangga remuk dan menguat sekaligus.
Ia berlutut di air dingin, mengambil boneka itu dari tangan kecil Sari, dan dengan jari yang sekarang tidak gemetar lagi, ia menjepit lengan boneka kembali ke tempatnya. Klik. Sederhana.
"Sudah," katanya pelan. "Pak Robot ikut kita. Tapi kita harus jalan sekarang, Sari. Sekarang juga. Bisa pegang tangan Kak Rangga kuat-kuat?"
Sari mengangguk dan mencengkeram jarinya. Jari kecil itu dingin oleh air banjir, dan Rangga menggenggamnya seakan itu satu-satunya hal nyata yang tersisa di dunia yang sedang tenggelam.
Mereka berlari ke atas saat getaran besar mengguncang seluruh bunker—debu jatuh dari langit-langit, lampu padam total. Untuk sesaat mereka berlari dalam gelap, hanya cahaya ponsel darurat Rangga dan suara air yang naik di belakang mereka. Di kejauhan, lewat retakan dinding pesisir, Rangga melihat bayang di air dangkal: punggung berduri, banyak, mendekati pelabuhan. Pengintai. Barisan depan Sang Induk. Mereka tiba lebih cepat dari perhitungan Adit—lebih cepat dari siapa pun yang berani menebak.
"Kak Rangga," kata Sari kecil, "monsternya datang lagi ya?"
"Iya," kata Rangga, tidak mau berbohong padanya. "Tapi Kak Rangga punya Rajawala. Dan Rajawala tidak akan biarkan mereka menyentuhmu. Janji."
Ia mengangkat Sari ke bahunya dan berlari ke permukaan, menyerahkan gadis itu ke tangan Pak Surya di truk terakhir yang siap berangkat.
"Pergi," kata Rangga. "Aku menahan pesisir. Pergi sekarang, Pak."
Pak Surya menatapnya dengan mata yang sudah kehilangan satu anak di laut ini. "Rangga—"
"Aku akan menyusul." Rangga sudah mundur ke arah hanggar. "Aku janji."
Truk itu bergerak. Sari melambai dari jendela belakang, memeluk boneka yang lengannya kembali utuh, dan Rangga mengangkat tangan satu kali. Lalu ia berbalik, lari ke Rajawala, ke jarum yang menunggu, ke pertarungan yang akan dimulai.
Di belakangnya, Stasiun Pesisir Tanjung—rumahnya, satu-satunya rumah—berdiri kosong untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, menunggu laut menelannya.