Pertarungan di air dangkal berlangsung dua puluh menit yang terasa seperti dua puluh tahun. Saat Hiu terakhir melayang tanpa nyawa di permukaan dan tiga kapal angkut menghilang di balik tanjung menuju jalur aman, Rangga berdiri di laut setinggi pinggang Rajawala, dadanya naik turun, sinkronisasi berdenyut di kepalanya seperti memar.
"Mereka lewat," kata Adit di radio, suaranya bergetar lega. "Semua kapal lewat. Tiga puluh enam jiwa di gelombang pertama. Aman."
Rangga menutup mata sejenak di dalam kokpit. Tiga puluh enam. Masih ada lebih dari seratus enam puluh di darat.
Saat ia kembali ke hanggar, Laras sudah berdiri di samping meja peta dengan wajah yang membuat perut Rangga mengencang. Adit di sebelahnya, menatap layar dengan ekspresi orang yang baru saja mengulang perhitungan tiga kali dan tidak suka hasilnya.
"Ada masalah dengan tujuh hari," kata Laras tanpa basa-basi.
"Sang Induk bergerak lambat," kata Adit cepat, menunjuk layar. "Itu betul. Tujuh hari sampai dia sendiri menyentuh pantai. Tapi dia tidak datang sendirian." Ia menggeser citra satelit. Di depan bayangan raksasa itu, tersebar titik-titik merah—bukan ribuan seperti gerombolan utama, tapi cukup banyak. "Pengintai. Pasukan depannya. Mereka jauh lebih cepat dari induknya. Kelas Hiu, beberapa Kraken. Mereka akan mencapai garis pantai timur—garis pantai kita—dalam tiga hari."
"Tiga," ulang Rangga.
"Tiga," kata Laras. "Dan yang baru saja kau lawan di air itu cuma yang tersesat mengikuti jejak reaktor Garuda. Bukan bahkan barisan depan resmi."
Rangga menatap peta. Tanjung di tepi, titik kecil di antara laut dan pedalaman luas. Pusat jauh ke barat, di balik gunung. Di antara keduanya, jalan panjang dan terbuka.
"Konvoi darat butuh berapa lama ke Pusat?"
"Dua hari, kalau lancar." Laras menyilangkan tangan. "Yang berarti kita harus mengangkut semua orang keluar dari Tanjung dalam dua puluh empat jam, lalu jalan tanpa berhenti. Pengintai akan menyentuh pesisir kira-kira saat kita berangkat."
"Jadi seseorang harus menahan pesisir," kata Rangga pelan, "sampai orang terakhir naik konvoi."
Ruangan itu hening. Adit menatap sepatunya. Laras menatap Rangga, dan untuk pertama kali sejak ia mendarat di Tanjung, ada sesuatu di matanya yang bukan perintah—sesuatu yang lebih dekat ke permintaan maaf.
"Aku tidak akan memerintahkanmu melakukan itu," kata Laras. "Kau pilot satu-satunya yang kita punya. Kalau kau jatuh di sini, garis barat juga jatuh. Pusat akan menghitung untung rugi, dan menyuruh kita meninggalkan yang tertinggal."
Rangga teringat Bu Inten yang memeluk panci. Teringat Sari, gadis kecil yang masih ada di suatu tempat di lorong bunker dengan boneka robotnya. Teringat seratus enam puluh wajah.
"Aku montir," kata Rangga akhirnya. "Aku tahu cara menahan sesuatu yang mau roboh sampai bagian penting selamat keluar." Ia menatap Rajawala, raksasa yang menunggu di gelap. "Aku tahan pesisir. Kalian keluarkan semua orang. Begitu konvoi terakhir lewat tikungan utara, aku menyusul."
Laras menatapnya lama. Lalu mengangguk—satu anggukan singkat, anggukan seorang perwira pada perwira lain, bukan pada bocah.
"Adit," kata Laras, berbalik ke teknisi. "Susun ulang jadwal evakuasi. Yang sakit dan anak-anak di konvoi pertama. Persediaan dan amunisi railgun ikut konvoi terakhir—kita mungkin butuh meriam Tanjung untuk menutupi penarikan Rangga."
"Railgun tidak bisa dibawa," kata Adit. "Terlalu berat, tertanam di dinding."
"Maka tembakkan habis sebelum kita tinggalkan," kata Laras dingin. "Aku tidak mau satu peluru pun jatuh ke tangan Leviathan." Ia menoleh kembali ke Rangga. "Kau dengar itu. Kalau kau di pesisir dan butuh tembakan penutup, Adit akan mengarahkan sisa railgun dari ruang kendali sampai detik terakhir. Setelah itu kau sendirian."
"Aku selalu sendirian di luar sana," kata Rangga. "Itu bagian dari pekerjaannya."
"Kau bukan kakakmu," kata Laras pelan.
"Tidak," kata Rangga. "Tapi aku belajar dari hal yang sama dengannya."
Di luar, sirine Tanjung meraung lagi—bukan tanda serangan kali ini, tapi tanda evakuasi total. Lampu-lampu lorong berkedip merah. Suara langkah ribut memenuhi koridor saat dua ratus jiwa—yang kini tinggal seratus enam puluh empat—mulai meninggalkan satu-satunya rumah yang banyak dari mereka pernah kenal.
Rangga melangkah ke kokpit. Tiga hari telah menjadi tiga puluh enam jam. Dan jam pertama sudah berdetak.