Bayangan di cakrawala itu tidak bergerak seperti makhluk hidup. Ia bergerak seperti benua yang memutuskan untuk berdiri.
Rangga menempelkan dahinya ke kaca dingin ruang kendali, dan untuk beberapa detik ia tidak bisa menarik napas. Sang Induk masih jauh—berkilo-kilometer di laut lepas—tapi bahkan dari jarak itu, siluetnya menutupi sebagian langit timur. Bukan awan. Awan tidak punya bentuk seperti tulang punggung yang melengkung. Awan tidak berdenyut.
"Pak Surya." Laras sudah memutar tubuhnya dari layar, suaranya berubah tajam, perintah murni. "Lupakan empat puluh delapan jam. Kita evakuasi Tanjung sekarang. Hari ini."
"Hari ini?" Pak Surya, yang berdiri di ambang pintu, terlihat menua sepuluh tahun dalam satu pagi. "Kapal angkut baru tiba besok pagi, Komandan. Dua ratus orang tidak bisa—"
"Mereka akan jalan." Laras sudah menarik radio dari sabuknya. "Adit, siapkan Rajawala. Penuh. Sekarang."
Rangga merasa tubuhnya bergerak sebelum pikirannya menyusul. Ia berlari menuruni tangga logam ke hanggar, sepatunya berdentang di anak tangga. Di bawah, raksasa kelabu itu berdiri diam dalam gelap, garis merah pudar di dadanya berpijar pelan—seperti mesin yang sudah bangun lebih dulu dari semua orang dan hanya menunggu.
"Kapal angkut darurat dari benteng sebelah dialihkan kemari," kata Adit, jari-jarinya menari di papan kendali, kacamatanya memantulkan cahaya layar. "Tapi mereka harus melaut. Lewat pesisir. Lewat air dangkal." Ia menelan ludah. "Air dangkal yang penuh radiasi reaktor Garuda."
Rangga mengerti maksudnya tanpa harus dijelaskan. Jejak ledakan Bara masih menyala di laut itu seperti suar. Dan apa pun yang berenang mengikuti suar itu sekarang sedang mencium darah.
"Berapa Hiu?" tanya Rangga.
"Sonar menangkap—" Adit memucat. "Setidaknya selusin. Mendekat dari utara. Mereka memotong jalur kapal."
Rangga menatap Rajawala. Mesin itu menatap balik, lampu intinya berkedip satu kali, mantap, seperti anggukan.
"Buka ruang kemudi," kata Rangga.
Jarum sinkronisasi menancap ke tengkuknya, dan dunia meledak menjadi rasa—dingin logam yang menjadi kulitnya, beban empat puluh meter baja yang menjadi tubuhnya, denyut inti reaktor yang menjadi jantungnya. Sinkronisasi melonjak. Tujuh puluh. Delapan puluh. Rajawala menarik napas yang tidak punya paru-paru, dan Rangga menarik napas bersamanya.
Pintu hanggar terbuka ke arah pagi yang salah. Langit timur ungu kehitaman, bukan karena badai, tapi karena ada sesuatu yang menghalangi matahari di sana.
Rangga melangkah keluar.
Di bawahnya, di pelabuhan kecil Tanjung, tiga kapal angkut tua merangkak ke air, sarat manusia—wajah-wajah yang ia kenal, tangan-tangan yang melambai pasrah. Bu Inten ada di salah satu dek, memeluk panci besar seperti memeluk anak. Di kejauhan, Pak Surya menggiring antrean terakhir.
Lalu air pecah.
Punggung berduri menyembul lima puluh meter dari kapal pertama—Kelas Hiu, gigi-giginya berkilau, gerakannya secepat torpedo. Di belakangnya, air mendidih dengan yang lain.
"Rangga," suara Laras di radio. "Kapal-kapal itu tidak punya senjata. Kau dinding mereka. Jangan biarkan satu pun menyentuh lambung."
Rangga tidak menjawab dengan kata. Ia menjawab dengan langkah—menerjang ke air dangkal, kaki baja menghantam dasar laut, gelombang naik setinggi atap. Hiu pertama menukik ke kapal. Rangga menangkap rahangnya dengan kedua tangan telanjang Rajawala, logam beradu dengan tulang, dan ia merasakannya di lengannya sendiri—getaran, tegangan, ngilu. Ia memutar. Sesuatu di dalam monster itu patah.
Hiu kedua melompat dari sisi lain. Rangga melepaskan yang pertama, menghempaskannya ke yang kedua, menjadikan tubuh satu monster sebagai pemukul bagi yang lain. Air, darah hitam, dan jeritan dari kapal-kapal yang merangkak melewati kaki raksasanya.
"Maju terus," teriaknya ke radio, ke para nelayan tua yang gemetar di kemudi. "Jangan lihat ke belakang. Aku di sini. Aku tidak akan lari."
Kata-kata itu terdengar asing di mulutnya. Kata-kata Bara.
Selusin Hiu. Tiga kapal. Satu raksasa kelabu berdiri di antara mereka, dan di cakrawala, jauh di balik semuanya, Sang Induk terus bangkit dari laut—pelan, sabar, seperti tahu ia punya semua waktu di dunia, dan manusia tidak.