Ruang kendali Stasiun Tanjung sesak dan hening.
Semua orang berkerumun di sekitar layar utama, tempat Adit menghubungkan siaran darurat dari Komando Pusat. Statik berderak, lalu wajah seorang jenderal tua muncul di layar—lelah, pucat, dengan latar belakang ruang komando yang kacau.
"...mengulangi. Ini Komando Pertahanan Pusat. Kami mengeluarkan Kode Hitam ke seluruh benteng dan stasiun yang masih beroperasi." Suara jenderal itu bergetar. "Pukul 04.00 pagi ini, sensor laut dalam kami mendeteksi pergerakan massal di Palung Tengah. Skala yang... skala yang belum pernah kami lihat sebelumnya."
Layar berganti ke citra radar satelit. Rangga menahan napas.
Laut—seluruh permukaan laut di citra itu—bergerak. Bukan satu titik merah. Bukan tujuh. Ribuan. Titik-titik merah memenuhi layar seperti gerombolan serangga, semuanya bergerak ke arah yang sama: ke darat.
"Itu bukan serangan," bisik Laras, suaranya hampa. "Itu migrasi."
"Selama lima belas tahun," lanjut jenderal di layar, "Leviathan menyerang dalam kelompok kecil. Kami pikir kami mengerti mereka. Kami salah. Semua yang selama ini—gelombang pertama, serangan-serangan ini—itu hanya pengintai. Pasukan kecil." Ia menelan ludah. "Yang sekarang bergerak dari Palung Tengah adalah sarang utamanya. Dan di tengah gerombolan itu, sensor kami mendeteksi satu tanda kehidupan yang lebih besar dari apa pun yang pernah kami catat. Lebih besar dari Kelas Kraken. Lebih besar dari pulau."
Layar berkedip, menampilkan satu titik merah raksasa di tengah ribuan titik kecil. Berdenyut. Seperti jantung.
"Kami menamainya Sang Induk. Kami yakin itulah yang mengendalikan mereka semua. Dan ia menuju daratan."
Ruang kendali benar-benar sunyi. Bahkan dengung mesin terasa lebih pelan.
"Perkiraan waktu hingga gerombolan pertama mencapai garis pantai timur," suara jenderal itu nyaris berbisik, "adalah tujuh hari. Setelah itu, kami tidak tahu apakah ada di antara kita yang masih akan ada untuk mengeluarkan siaran lagi."
"Semua pilot Baja, semua unit yang masih bisa bertarung, diperintahkan untuk berkumpul di Pusat dalam empat puluh delapan jam. Ini bukan latihan. Ini bukan serangan biasa." Mata jenderal itu seakan menatap langsung ke Rangga lewat layar. "Ini pertempuran terakhir umat manusia. Tuhan beserta kita semua. Komando Pusat, selesai."
Layar mati.
Tidak ada yang bicara. Rangga menatap layar gelap, jantungnya berdebar keras di telinganya. Tujuh hari. Ribuan Leviathan. Dan sesuatu yang lebih besar dari pulau, memimpin mereka semua.
Ia memikirkan Bara, yang gugur menghancurkan dua monster dan dianggap legenda. Dua. Sekarang ada ribuan.
"Berapa Baja yang tersisa di seluruh dunia?" Rangga bertanya pelan, tidak yakin ia ingin tahu jawabannya.
Laras menatap lantai. "Yang sanggup bertarung di garis depan, termasuk Rajawala... sembilan. Ditambah unit komandoku sendiri, Cakra, yang sudah terlalu tua untuk apa pun selain menahan gerbang."
Sembilan raksasa baja di garis depan. Melawan ribuan.
Rangga merasa lututnya lemas, tapi ia tetap berdiri. Ia menoleh ke jendela kecil ruang kendali, ke arah hanggar tempat Rajawala berdiri—raksasa kelabu yang memilihnya, mesin terakhir, baja terakhir yang masih bisa berdiri.
Di luar, langit timur mulai menggelap, walau ini masih pagi. Dan Rangga menyadari, dengan dingin yang merayap di tulang punggungnya, bahwa itu bukan awan.
Di garis cakrawala paling jauh, di tempat laut bertemu langit, sesuatu yang sangat, sangat besar mulai bangkit dari air.
Dan ia menatap ke arah daratan.
"Laras," kata Rangga, suaranya nyaris tak terdengar, matanya terpaku pada bayangan raksasa di cakrawala. "Kurasa kita tidak punya tujuh hari."