Pagi datang kelabu dan dingin di atas Stasiun Tanjung.
Rangga duduk di tepi platform hanggar, masih mengenakan setelan sinkronisasi yang lembap oleh keringat. Tengkuknya nyeri di tempat jarum sinkronisasi menancap. Seluruh tubuhnya terasa seperti habis ditabrak truk—efek dari merasakan setiap luka yang diterima Rajawala semalam. Adit bilang itu wajar; sinkronisasi pertama selalu menyisakan trauma fisik.
Di hadapannya, Rajawala berdiri diam, kini diterangi lampu hanggar. Tubuh kelabunya penuh goresan dan penyok, tapi tegak. Teknisi-teknisi Laras sudah mulai memperbaikinya, mengelas pelat yang robek, mengganti kabel yang putus.
"Tidak banyak orang yang bisa melakukan apa yang kau lakukan semalam."
Rangga menoleh. Laras berdiri di belakangnya, membawa dua cangkir logam berisi sesuatu yang mengepul. Ia menyerahkan satu ke Rangga. Kopi—asli, bukan pengganti. Barang langka.
"Aku tidak melakukannya untuk jadi pahlawan," kata Rangga, menerima cangkir itu.
"Aku tahu." Laras duduk di sampingnya. "Itulah kenapa Rajawala menerimamu. Dan itulah kenapa aku ke sini hari ini bukan sebagai komandan, tapi untuk menawarkan sesuatu padamu."
Rangga menyeruput kopinya, menunggu.
"Pusat butuh pilot. Sangat butuh." Laras menatap lurus ke depan, ke arah Rajawala. "Garis pertahanan timur runtuh saat Bara gugur dan empat Baja kami hancur bulan lalu. Leviathan bergerak ke pedalaman. Kalau garis itu tidak dipulihkan, dalam beberapa bulan mereka akan sampai ke Pusat. Dan kalau Pusat jatuh—" Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu. Pusat jatuh berarti tamat. Itu benteng terakhir umat manusia.
"Kau mau aku ke Pusat," kata Rangga pelan.
"Aku mau kau jadi pilot Rajawala secara resmi. Bergabung dengan skuadron Baja yang tersisa. Belajar bertarung dengan benar, bukan dengan keberuntungan dan naluri seperti semalam." Laras menoleh padanya. "Kau punya bakat yang tidak bisa diajarkan, Rangga. Mesin yang menolak lusinan pilot terlatih memilih anak tujuh belas tahun yang bahkan tidak pernah ingin menyentuhnya. Itu bukan kebetulan. Itu sesuatu yang dibutuhkan dunia ini."
Rangga menatap kopinya. Asapnya mengepul ke udara dingin. "Semalam, di puncak pertarungan, aku mengerti Mas Bara untuk pertama kalinya. Beban yang dia tanggung setiap hari. Tahu bahwa kalau kau gagal, orang-orang mati."
"Itu beban yang berat," kata Laras. "Tidak semua orang bisa menanggungnya. Bara bisa. Pertanyaannya: bisakah kau?"
Rangga terdiam lama. Ia memikirkan Bara, yang tidak pernah ia pahami sampai semalam. Ia memikirkan Sari dan bonekanya, Bu Inten dan porsi ekstranya, Pak Surya yang membesarkannya. Ia memikirkan dua ratus orang yang masih hidup pagi ini karena ia memilih untuk tidak lari.
Lalu ia memikirkan dunia di luar Tanjung—jutaan orang lain di benteng-benteng yang sekarat, garis pertahanan yang runtuh, Pusat yang terancam.
"Kalau aku bilang ya," kata Rangga akhirnya, "aku tidak melakukannya untuk Pusat. Atau untuk perang. Atau untuk balas dendam pada Leviathan." Ia menoleh ke Laras, matanya keras. "Aku melakukannya supaya tidak ada anak lain yang harus menatap layar radar dan melihat kakaknya hilang. Itu saja alasanku."
Laras menatapnya lama, lalu sesuatu yang jarang muncul di wajahnya—senyum kecil. "Itu alasan yang lebih baik dari kebanyakan pilot yang kukenal."
Ia berdiri dan mengulurkan tangan. "Selamat datang di skuadron, Pilot Pradipta."
Rangga menatap tangan itu sejenak. Lalu, dengan tarikan napas panjang—tarikan napas yang terasa seperti meninggalkan satu kehidupan dan memasuki yang lain—ia menjabatnya.
"Kapan kita berangkat?"
"Besok pagi. Kapal angkut akan—"
Sirine meraung.
Tapi kali ini, nadanya berbeda dari semua yang pernah Rangga dengar. Lebih tinggi. Lebih panjang. Sebuah kode yang bahkan Pak Surya, dengan semua tahunnya di stasiun ini, terlihat tidak mengenalinya saat ia berlari masuk ke hanggar, wajahnya pucat pasi.
"Komandan!" teriak Pak Surya. "Radar Pusat—mereka mengirim peringatan ke semua stasiun! Kode Hitam!"
Laras membeku. Cangkir kopinya jatuh ke lantai, isinya tumpah. "Kode Hitam? Itu mustahil. Kode Hitam belum pernah—"
"Apa itu Kode Hitam?" tanya Rangga, melihat darah seakan terkuras dari wajah Laras.
Komandan itu menatapnya, dan untuk pertama kali sejak ia tiba, Rangga melihat sesuatu di mata Laras yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Ketakutan.