Empat Leviathan mengepung Rajawala.
Mereka belajar. Rangga menyadarinya dengan ngeri—monster-monster ini tidak menyerang membabi buta lagi. Mereka mengitarinya, menjaga jarak, menunggu celah. Yang satu memancing serangan Rangga sementara yang lain menyergap dari belakang.
"Mereka berkoordinasi," kata Rangga lewat radio.
"Kelas Hiu berburu dalam kelompok," jawab Laras. "Itu yang membuat mereka berbahaya. Jangan biarkan mereka memisahkanmu dari dinding."
Tapi itu persis yang mereka lakukan. Dua Leviathan menerjang dari depan, memaksa Rangga maju untuk menahan mereka, dan begitu ia melangkah dari dinding, dua yang lain melesat ke celah di belakangnya—menuju bunker.
"Tidak!" Rangga berputar, tapi terlambat. Dua monster sudah meluncur melewatinya menuju pintu pertahanan stasiun, tempat dua ratus orang bersembunyi.
Waktu seakan melambat. Rangga melihat semuanya sekaligus—dua Leviathan di depannya yang akan merobeknya kalau ia berbalik, dan dua di belakang yang akan menembus bunker. Ia tidak bisa berada di dua tempat.
Pilihan yang Bara pasti hadapi setiap hari, pikir Rangga. Beban ini. Beban tahu bahwa kau adalah satu-satunya hal di antara kematian dan orang-orang yang tidak berdaya.
Dan saat itu, ia mengerti kakaknya untuk pertama kalinya. Benar-benar mengerti.
"Laras! Meriam railgun! Tembak yang menuju bunker, SEKARANG!"
"Sudut tembaknya terlalu rendah, kita bisa kena dindingmu—"
"LAKUKAN! Aku akan menahan dua yang di depan!"
Sepersekian detik hening. Lalu suara Laras, tegas: "Railgun, target dua Leviathan di sektor timur. Tembak!"
Dua paku logam raksasa melesat dengan jeritan supersonik dan menghantam dua Leviathan yang menuju bunker. Yang satu meledak. Yang lain terhuyung, terluka parah, tapi masih bergerak menuju pintu.
Rangga tidak punya waktu untuk melihat hasilnya. Dua monster di depannya menerjang bersamaan. Ia menangkap satu dengan tangan kiri, tapi yang kedua melompat ke punggungnya, gigi-giginya menancap di pundak Rajawala. Rasa sakit meledak di bahu Rangga.
Ia berputar, membanting tubuhnya ke dinding pertahanan untuk meremukkan monster di punggungnya. Beton retak. Leviathan itu terlepas, dan Rangga menginjaknya sampai diam.
Tapi yang terluka di pintu bunker—ia masih bergerak. Merangkak ke pintu baja, mencakarinya, mencari jalan masuk.
"Sari," gumam Rangga. Gadis kecil itu, dan dua ratus orang lainnya, hanya berjarak satu pintu baja dari rahang monster itu.
Rangga melompat. Sinkronisasi penuh kini—ia tidak lagi memikirkan gerakannya, tubuh baja itu bergerak seolah miliknya sejak lahir. Ia menerjang melintasi medan perang, mendarat di antara Leviathan terluka dan pintu bunker, dan mencengkeram makhluk itu dengan kedua tangan.
Monster itu meraung, menggeliat, gigi-giginya mencari daging. Rangga merasakan setiap cakaran, setiap gigitan, lewat tubuh baja yang juga tubuhnya. Tapi ia tidak melepaskan.
"Kau," geramnya, mengangkat monster itu tinggi-tinggi, "tidak akan menyentuh mereka."
Ia membanting Leviathan itu ke tanah dengan kekuatan yang menggetarkan seluruh stasiun, lalu menghantamnya berulang kali sampai makhluk itu berhenti bergerak.
Hening menyelimuti garis pantai. Asap mengepul dari bangkai-bangkai Leviathan. Air laut berbuih merah dan hitam.
Tujuh. Semuanya tumbang.
Rangga berdiri di antara reruntuhan, tubuh Rajawala terhuyung, retak di sana-sini, tapi tegak. Di belakangnya, pintu bunker tetap utuh. Dua ratus orang masih hidup.
"Rangga." Suara Laras di benaknya, dan untuk pertama kalinya terdengar sesuatu seperti kekaguman. "Kau berhasil. Tujuh Kelas Hiu. Dalam serangan sinkronisasi pertamamu."
Rangga tidak menjawab langsung. Ia menatap garis pantai yang hancur lewat mata mesinnya, dadanya—dada manusianya, jauh di dalam—penuh dengan campuran kelegaan, kelelahan, dan sesuatu yang asing.
"Mas Bara," bisiknya, terlalu pelan untuk radio. "Apa begini rasanya jadi kau?"