Yang gugur kali ini bernama Putri.
Rangga tidak pernah dekat dengannya. Putri adalah pilot Baja keempat dari delapan yang pernah ia temui di Pusat, wanita pendiam berusia tiga puluhan yang memilih duduk sendirian saat makan dan jarang bicara kecuali soal taktik. Bajanya — unit kelabu bernama Sundang, bersenjata meriam jarak jauh — adalah penembak terbaik di skuadron.
Dan jarak itulah yang membunuhnya.
Di garis pantai yang membara, sebuah celah terbuka. Tiga Kelas Hiu menerobos pertahanan dan berlari ke pedalaman, ke arah jalan terbuka menuju Pusat. Tidak ada yang cukup dekat untuk mencegat.
Kecuali meriam Sundang.
"Aku tahan," kata Putri di saluran, dan suara pendiamnya tidak berubah sedikit pun. "Tahan garis. Aku tutup celahnya."
"Putri, jangan tinggalkan posisi tembakmu—" Laras tidak sempat menyelesaikan.
Sundang sudah berbalik, meriam bahunya menyalak. Peluru penembus menghantam Hiu pertama dari jarak jauh, tapi dua sisanya terus mendekat, memaksa Putri menahan mereka sendirian. Satu lawan tiga, di tanah terbuka, tanpa dinding di belakang, tanpa siapa pun yang bisa menjangkau.
Rangga, di kedalaman Palung, merasakan sebagian dari pertarungan itu lewat jaringan kendali Sang Induk yang masih setengah terbaca dalam sinkronisasinya. Ia tidak melihatnya. Ia merasakannya — tiga titik kemarahan menghantam satu titik tekad, lagi dan lagi.
Sundang merobohkan yang pertama dengan tembakan tepat ke kepala. Melukai yang kedua sebelum ia mencapai jarak dekat. Tapi yang ketiga melingkari dari belakang, terlalu dekat untuk meriam berputar, dan rahang bergigi itu menemukan sambungan di punggung Baja kelabu itu, tempat pelat paling tipis.
"Putri!" Laras berteriak.
"Celahnya ditutup," kata Putri. Suaranya masih tenang. Tapi di belakangnya kini ada suara lain — derak logam, alarm, dan sesuatu yang basah. "Dua mati. Yang ketiga... yang ketiga tidak akan lewat. Aku pegang dia."
"Bertahan, kami datang—"
"Tidak ada waktu untuk datang, Komandan." Jeda. Napas berat. "Lindungi mereka. Itu saja yang kita lakukan, kan? Kita lindungi mereka."
Rangga merasakan saat titik tekad itu padam. Bukan ledakan inti — Putri tidak sempat. Hanya berhenti. Satu detik ada, detik berikutnya tidak. Sundang dan pilotnya tumbang di tanah terbuka, menjepit Kelas Hiu terakhir di bawah berat mereka sampai monster itu pun mati tercekik di bawah baja yang sudah diam.
Celahnya tertutup. Jalan ke Pusat aman, untuk sekarang.
Di garis pantai, Laras melihat unit kelabu itu tumbang lewat citra satelit yang berkedip, dan untuk sesaat ia tidak bisa bernapas. Putri yang pendiam. Putri yang tidak pernah duduk bersama siapa pun. Putri yang, ketika ditanya kenapa ia masih bertarung setelah kehilangan segalanya, hanya menjawab, "Karena masih ada yang tersisa untuk dijaga."
"Catat namanya," kata Laras pada saluran skuadron, suaranya keras agar tidak retak. "Putri. Unit Sundang. Ia menutup celah. Jangan ada yang lupa."
Sembilan Baja menjadi empat.
Di dalam Palung, di hadapan mata raksasa Sang Induk, Rangga merasakan air asin yang bukan air laut menggenang di matanya sendiri. Ia tidak mengenal Putri. Tapi Putri mati membeli waktu untuknya, sama seperti Bara mati membeli hidup untuknya, sama seperti semua orang yang berdiri di antara monster dan rumah.
"Kau dengar itu?" Rangga berbisik pada mesin di sekelilingnya, pada inti merah yang berdenyut. "Kita tidak boleh menyia-nyiakan ini."
Sinkronisasinya, yang sempat merangkak naik ke enam puluh persen, mendadak stabil. Lalu mendaki lagi. Enam puluh lima. Tujuh puluh.
Kemarahan tidak menaikkannya. Duka tidak. Yang menaikkannya adalah tekad yang sama seperti yang baru saja padam di permukaan: lindungi mereka. Itu saja.
Mata Sang Induk menyipit lagi. Ia merasakan pilot kecil itu menolak hancur. Dan untuk pertama kalinya, di dasar laut yang gelap, Rangga merasa monster itu — barangkali — bingung.