Tujuh puluh persen tidak cukup.
Rangga tahu itu. Adit pernah memperingatkannya dari jauh-jauh hari: untuk melukai Sang Induk, untuk mendorong kunci melampaui kemampuan monster itu menulis ulang dirinya, ia butuh sinkronisasi yang lebih tinggi dari yang pernah dicapai manusia mana pun. Lebih tinggi dari yang membunuh manusia.
Dan setiap kali ia mendaki, Sang Induk mendorongnya turun — bukan dengan kekuatan, melainkan dengan kenangan. Setiap luka lama dibuka kembali. Setiap kegagalan diputar ulang. Beban itu nyata, dan beratnya melebihi yang bisa dipikul satu anak tujuh belas tahun.
Enam puluh delapan persen. Sang Induk menekan lagi. Rangga merasa dirinya retak.
Lalu sesuatu di dalam inti Rajawala bergerak.
Bukan suara. Sejak awal, Rajawala tidak pernah bicara dengan suara. Tapi di tengah kegelapan sinkronisasi yang nyaris runtuh, Rangga merasakan sebuah kehadiran yang lain — bukan Sang Induk, bukan dirinya. Sesuatu yang sudah tertanam di mesin ini sejak lama. Sesuatu yang familiar sampai ke tulangnya.
Data. Adit pernah menjelaskannya dengan hati-hati: bukan hantu, Rangga, jangan berharap melihat hantu. Tapi inti Rajawala merekam setiap pilot yang pernah mencoba sinkron dengannya. Setiap gelombang otak. Setiap tekad. Dan ada satu yang pernah mencoba bertahun-tahun lalu, lalu ditolak, lalu pergi membawa mesin lain.
Bara.
Bukan Bara yang hidup. Bukan suara dari alam baka. Hanya pola — rekaman tekad kakaknya, terjepit dalam logam selama bertahun-tahun, yang kini bergetar selaras dengan tekad Rangga sendiri karena keduanya terbuat dari hal yang sama.
Dan dalam pola itu, Rangga mengenali sesuatu. Cara berpikir kakaknya. Cara Bara menahan rasa sakit — bukan dengan menutupnya, melainkan dengan menerimanya, membiarkannya lewat, lalu tetap melangkah. Sinkronisasi tidak membenci rasa sakit. Sinkronisasi membutuhkan pilot yang berani merasakannya tanpa lari.
Yang melindungi, tidak boleh lari.
"Kau di sini," bisik Rangga. Air mata jatuh bebas sekarang, tapi suaranya kuat. "Sepanjang waktu. Kau memilihku lewat mesin ini."
Ia berhenti melawan kenangan yang Sang Induk paksakan. Ia berhenti menutup matanya dari ledakan putih yang merenggut Bara. Ia membiarkan semuanya datang — kakaknya jatuh, sinyal padam, malam-malam ia menangis di hanggar — dan untuk pertama kalinya, ia tidak menolaknya.
Ia menerimanya.
Aku merindukanmu, katanya pada kenangan itu. Tapi aku tidak akan tenggelam di dalammu.
Beban itu tidak hilang. Tapi ia berbagi beratnya — dengan pola Bara di dalam mesin, dengan Putri yang baru gugur, dengan Laras yang menahan garis, dengan setiap pilot yang berdiri di antara monster dan rumah. Ia tidak memikulnya sendirian. Ia tidak pernah sendirian.
Sinkronisasi tujuh puluh persen. Lalu naik. Cepat sekarang. Tujuh puluh lima. Delapan puluh. Delapan puluh delapan.
Di hadapannya, mata raksasa Sang Induk membeliak untuk kali kedua. Tekanan kenangan yang ia kirim memantul kembali, tak lagi menemukan celah untuk masuk. Pilot kecil itu tidak lagi punya luka untuk dimanfaatkan. Ia sudah menerima semuanya.
"Adit," kata Rangga, dan di suaranya ada sesuatu yang baru — bukan ketakutan, bukan keraguan. "Aku akan mendorongnya lebih jauh."
"Berapa jauh?" Adit, hampir tak bernapas.
Rangga menatap pegunungan daging yang menjadi jantung kehancuran dunia.
"Sampai melewati seratus."