Bu Inten membuka kembali dapurnya tepat di reruntuhan yang sama.
Butuh sebulan untuk membuatnya layak. Dinding ditambal, kompor lama diperbaiki—oleh Rangga, tentu saja, karena tangan montirnya tak pernah benar-benar bisa diam. Mereka menemukan panci-panci tua yang selamat dari keruntuhan, mengikis karatnya, menggosoknya sampai mengilap. Pak Surya membangun meja panjang dari kayu kapal yang terdampar di pantai. Dan ketika semuanya siap, Bu Inten mengumumkan, dengan nada yang tak menerima bantahan, bahwa malam itu mereka akan makan bersama.
"Semuanya," katanya, menunjuk Rangga dengan sendok kayu. "Tidak ada yang makan di pos. Tidak ada yang sibuk dengan mesin. Kau duduk di meja, Rangga Pradipta, dan kau makan."
Rangga tersenyum. "Baik, Bu."
Mereka tiba satu per satu saat matahari terbenam di teluk. Pak Surya, dengan baju terbaiknya yang masih lusuh tapi bersih. Sari, rambutnya dikepang, boneka robotnya didudukkan di kursi tersendiri seolah tamu kehormatan. Adit datang dari Pusat, masih dengan kacamatanya yang merosot, membawa sebotol sesuatu yang ia klaim sebagai anggur tapi rasanya lebih seperti cuka. Dan Laras—Komandan Laras Wijaya, yang Rangga setengah yakin tak pernah duduk untuk makan tanpa peta di depannya—datang juga, lengannya sudah pulih, seragamnya kali ini tanpa lambang pangkat.
"Aku tidak diundang ke makan malam keluarga sejak sebelum perang," kata Laras, berdiri kaku di ambang pintu, seolah tak tahu cara melemaskan dirinya.
"Sekarang kau diundang," kata Rangga. "Duduk."
Mereka makan. Bu Inten memasak ikan—ikan sungguhan, dari teluk Tanjung yang kini bisa dijala lagi, hal pertama yang dipancing nelayan kembali dalam lima belas tahun. Aromanya memenuhi dapur kecil itu. Mereka makan, dan tertawa, dan Adit menceritakan kisah memalukan tentang hari pertamanya sebagai teknisi, dan Sari menumpahkan kuah ke baju, dan Pak Surya bercerita tentang Tanjung di masa mudanya sampai matanya basah.
Di tengah semua itu, Rangga diam sebentar, menatap meja yang penuh.
Ia ingat radio. Suara Bara, di hari ia kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. *Maaf, aku tidak bisa pulang untuk makan malam.* Itu kalimat terakhir kakaknya. Janji yang tak bisa ditepati. Makan malam yang tak pernah terjadi.
"Rangga?" Laras memperhatikannya. "Kau di mana?"
Rangga menggeleng pelan, lalu tersenyum—senyum yang tulus, meski matanya berkilau. "Tidak. Aku di sini. Untuk sekali ini, aku benar-benar di sini."
Ia mengangkat gelasnya. Cuka-anggur Adit. Yang lain mengikuti, bingung.
"Untuk yang tidak bisa duduk di meja ini," kata Rangga. Suaranya stabil, tapi semua orang tahu siapa yang ia maksud. "Untuk Bara. Untuk tujuh pilot yang membuka jalan. Untuk semua yang berdiri di antara kita dan kegelapan, agar kita bisa makan malam seperti ini." Ia menatap kursi kosong di ujung meja—tak sengaja ia biarkan kosong, seolah selalu menunggu seseorang. "Mas Bara tidak bisa pulang untuk makan malam. Jadi aku makan malam ini untuknya. Untuk kita semua."
Tak ada yang bicara sebentar. Lalu Pak Surya, suaranya tersendat, mengangkat gelasnya juga. "Untuk Bara," katanya. "Dan untuk adiknya yang pulang."
Mereka minum. Sari, yang terlalu kecil untuk minum, mengangkat gelas susunya dengan serius dan berkata, "Untuk Kak Bara," meski ia tak pernah mengenalnya—hanya tahu namanya dari cerita Rangga.
Dan entah bagaimana itu yang akhirnya mematahkan sesuatu dalam diri Rangga yang sudah lama tegang. Bukan tangis pedih. Hanya air mata yang mengalir pelan saat ia tertawa, melihat gadis kecil mengangkat susu untuk pria yang gugur menyelamatkan dunia yang tak akan pernah gadis itu tahu sepenuhnya.
Lingkaran itu tertutup. Janji yang tak bisa ditepati Bara, akhirnya, ditepati oleh adiknya—bukan dengan menjadi pahlawan yang gugur, tapi dengan menjadi orang yang hidup dan pulang dan duduk di meja makan dengan keluarga yang tersisa.
Di luar, ombak teluk Tanjung berdebur pelan di bawah bintang. Tak ada sirine. Hanya suara keluarga yang makan malam bersama, akhirnya, untuk pertama kalinya.