Tujuh tahun kemudian, laut tenang.
Tanjung bukan lagi reruntuhan. Tanjung adalah kota.
Dermaga membentang ke teluk, penuh perahu nelayan yang berangkat saat fajar dan pulang dengan jala penuh. Pasar di pinggir pantai berdengung dengan suara tawar-menawar, anak-anak berlarian di antara tumpukan ikan, dan asap dapur naik dari rumah-rumah yang dibangun dari kayu dan batu, bukan baja anti-Leviathan. Dinding pertahanan lama masih ada di satu sisi, tapi tak ada yang menjaganya lagi. Orang-orang menanam bunga di celah-celah betonnya.
Rangga Pradipta, dua puluh empat tahun sekarang, berjalan di sepanjang pantai dengan langkah yang sudah lama tak pincang. Rambutnya sedikit lebih panjang, ada garis halus di wajahnya yang tak seharusnya ada di usia itu—jejak dari hal-hal yang ia lihat terlalu muda. Tapi matanya tenang. Tangannya, masih tangan montir, kini lebih sering memperbaiki perahu daripada mesin perang.
Di pantai, anak-anak bermain di air dangkal—air yang dulu melahirkan monster, kini hanya melahirkan ombak. Salah satunya, gadis remaja yang dulu Rangga kenal sebagai anak kecil dengan boneka robot, melambai padanya.
"Kak Rangga! Bu Inten cari! Katanya kalau telat makan siang lagi, dia tidak akan masak ikan bakar lagi selamanya!"
Rangga tertawa. "Bilang aku segera datang, Sari!"
Sari—enam belas tahun sekarang, tinggi dan berani, yang ingin jadi nelayan paling andal di Tanjung—berlari kembali ke air, dan tawanya bercampur dengan tawa anak-anak lain yang tak pernah mendengar sirine dalam hidup mereka. Yang tak tahu rasanya bersembunyi di bawah tanah. Yang menganggap laut sebagai teman, bukan kuburan.
Itu, Rangga sadar, adalah kemenangan yang sesungguhnya. Bukan ledakan di Palung. Bukan kematian Sang Induk. Ini—anak-anak yang tak perlu takut.
Ia berjalan ke ujung dermaga, tempat sebuah monumen berdiri menghadap laut.
Bukan patung megah. Rangga selalu menolak patung megah. Hanya dua hal, berdiri berdampingan di atas alas batu sederhana. Yang pertama adalah lempeng baja gelap dari dada Rajawala—potongan yang masih utuh, garis merah pudarnya kini benar-benar padam, dibawa dari Pusat dan diletakkan di sini, menghadap Palung Tengah yang jauh di cakrawala. Yang kedua adalah pelat logam kecil bertuliskan nama, sederhana:
*Bara Pradipta — Sang Penjaga Timur. Dan semua yang berdiri agar kita bisa pulang.*
Rangga berdiri di depan monumen itu, seperti yang ia lakukan setiap minggu. Angin laut menampar wajahnya, asin dan hangat. Di belakangnya, kota hidup—suara pasar, tawa anak-anak, dentang palu tukang kayu yang membangun rumah baru.
"Kami baik-baik saja, Mas," kata Rangga pelan, pada baja yang diam dan nama yang terukir. "Tanjung hidup. Pak Surya jadi kepala kota—dia mengeluh terus, tapi kau tahu dia menyukainya. Bu Inten masih marah kalau aku telat makan. Sari mau jadi nelayan." Ia tersenyum. "Laras datang berkunjung bulan lalu. Dia akhirnya berhenti memandang setiap orang seperti mereka harus dikomando. Sedikit. Adit membuka sekolah teknik di Pusat. Dia bilang dunia butuh lebih banyak montir dan lebih sedikit prajurit. Kurasa dia benar."
Ia menyentuh lempeng baja Rajawala. Dingin, seperti selalu. Tapi tak lagi terasa seperti kehilangan.
"Aku dulu bersumpah tidak akan pernah jadi pilot Baja," kata Rangga. "Karena aku takut akhirnya seperti kau. Berdiri di antara dunia dan kegelapan, lalu tidak pulang." Ia menelan ludah. "Aku jadi pilot. Aku berdiri di tempat yang sama dengan kau. Dan aku menemukan caranya. Bukan untuk menang. Untuk pulang." Suaranya melembut. "Kau selalu berharap begitu, kan? Kau berharap aku tidak perlu mati seperti kau. Aku menemukan suratmu, akhirnya. Di arsip. Kau berharap aku yang cocok dengan Rajawala, bukan kau, karena kau ingin aku hidup. Maaf butuh lima belas tahun aku mengerti."
Laut berdebur. Di kejauhan, di tempat Palung Tengah pernah melahirkan kiamat, hanya ada air biru tak berujung. Sang Induk mati. Leviathan tak pernah kembali. Lima belas tahun ketakutan akhirnya benar-benar berakhir, dan tujuh tahun perdamaian sudah cukup untuk membuat anak-anak melupakan apa itu sirine.
Rangga memandang lempeng baja terakhir—sisa dari mesin yang memilihnya, baja terakhir yang berdiri saat semua baja lain telah gugur, baja yang membawanya ke jantung kegelapan dan, melawan segala kemungkinan, membawanya pulang.
"Rajawala," katanya, untuk terakhir kalinya hari itu. "Baja terakhir. Kau menyelamatkan dunia, dan kau mengizinkanku hidup untuk melindunginya." Ia mengangkat wajah ke langit yang cerah. "Aku akan terus melindunginya. Bukan dengan pedang. Dengan ini—dermaga, pasar, sekolah, anak-anak di air. Itu yang kita perjuangkan. Itu yang menang."
Lalu Sari memanggilnya lagi dari kejauhan, dan Bu Inten dari dapur, dan suara kota memanggilnya pulang.
Rangga Pradipta—montir, pilot, penjaga, dan kini pembangun—berbalik dari laut. Ia meninggalkan baja terakhir untuk menjaga monumen para penjaga, dan ia berjalan kembali ke kota yang hidup, ke meja makan yang penuh, ke dunia yang akhirnya, akhirnya, tak lagi membutuhkan pahlawan.
Di belakangnya, laut tenang membentang ke cakrawala. Tak ada sirine. Tak ada bayangan bangkit dari kedalaman.
Hanya matahari, dan ombak, dan tawa anak-anak yang akan tumbuh tanpa pernah tahu betapa dekat dunia mereka pernah dengan akhir.
Yang melindungi tidak boleh lari. Tapi yang melindungi, ternyata, juga boleh hidup.
Dan Rangga hidup.
TAMAT.