Dunia di sekitar Xiao Tianlong seakan membeku. Suara tawa para murid klan dan angin salju yang menderu mendadak hilang, digantikan oleh ruang hampa yang gelap namun dipenuhi aura emas yang sangat kuat.
Di hadapannya, samar-samar muncul bayangan seekor makhluk raksasa. Sisiknya berkilau seperti permata biru laut, dan matanya yang besar berwarna emas menatap tajam langsung ke sukma Tianlong.
"Nadi Naga Mati? Hah! Manusia bodoh di luar sana tidak tahu apa-apa," suara Roh Naga itu kembali menggema, kali ini lebih jelas. "Nadi yang kau miliki adalah 'Nadi Naga Surgawi yang Terbelenggu'. Ia butuh darah murni dan kemarahan besar untuk terbuka. Dan hari ini, kau telah memenuhi keduanya."
Tianlong merasakan jantungnya berdegup kencang. "Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau ada di dalam giok peninggalan ibuku?"
"Namaku telah dihapus oleh waktu, tapi kau bisa memanggilku Long Yuan. Aku adalah pelindung takhta Naga Langit. Sekarang, jangan banyak bicara. Jika kau tidak segera menyerap energi ini, tubuh fana-mu akan hancur!"
Tiba-tiba, Giok di leher Tianlong memancarkan cahaya menyilaukan. Arus energi panas masuk ke dalam d**a Tianlong, menyerang setiap titik nadinya yang tersumbat.
"AAAAAARRGGHH!"
Tianlong menjerit di dunia nyata. Di mata orang-orang klan, ia hanya terlihat sedang meronta kesakitan di atas salju. Namun di dalam tubuhnya, sebuah revolusi sedang terjadi. Pintu-pintu nadi yang selama belasan tahun tertutup rapat kini hancur berkeping-keping oleh kekuatan naga.
"Tahan, Nak! Bayangkan energi ini mengalir seperti aliran sungai yang menuju samudera! Ikuti instruksiku!"
Tianlong mencoba memfokuskan pikirannya. Ia mengikuti arahan Long Yuan, memandu energi panas itu berputar di perut bawahnya (Dantian). Perlahan, rasa sakit itu berubah menjadi kenyamanan yang luar biasa. Energinya terus meningkat.
Body Tempering Tingkat 2... Tingkat 3... Tingkat 5!
Hanya dalam hitungan menit, ia telah melompati empat tingkatan sekaligus! Tidak hanya itu, energi Qi yang mengalir di tubuhnya bukan lagi berwarna putih bersih, melainkan berwarna emas elektrik yang sangat padat.
"Apa yang terjadi dengannya?" Xiao Yan melangkah maju, bermaksud memberikan tendangan terakhir pada Tianlong yang masih terkapar. "Masih berani berteriak? Dasar sampah, diamlah selamanya!"
Xiao Yan mengayunkan kakinya yang diperkuat energi Qi Tingkat 3, mengincar kepala Tianlong.
Namun, sebelum kaki itu mendarat, mata Tianlong terbuka lebar. Kilat emas menyambar di dalam pupil matanya. Dengan gerakan yang sangat cepat, tangan kiri Tianlong melesat dan menangkap pergelangan kaki Xiao Yan.
DUAK!
"Apa?!" Xiao Yan tertegun. Ia merasa kakinya seolah ditahan oleh jepitan besi raksasa. "Lepaskan! Kau mencari mati, Sampah!"
Tianlong berdiri perlahan, debu dan salju rontok dari jubahnya. Aura dingin dan menindas mulai terpancar dari tubuhnya, membuat murid-murid di sekitarnya merasa sesak napas.
"Sampah?" Tianlong berkata dengan suara rendah namun sangat dalam. "Jika aku sampah, lalu apa sebutan untuk orang yang serangannya bahkan tidak bisa menggeser kakiku satu inci pun?"
Dengan satu hentakan tangan, Tianlong memelintir kaki Xiao Yan dan mendorongnya.
KRETEK!
"AAGGGHH!" Xiao Yan terpental ke belakang, berguling-guling di salju sambil memegangi pergelangan kakinya yang retak.
Seluruh pelataran seketika menjadi sunyi senyap. Penatua Pertama yang tadinya duduk santai, kini berdiri dengan wajah pucat pasi.
"Kau... bagaimana mungkin?" gumam Penatua Pertama tak percaya. "Energi itu... itu bukan Qi biasa!"
Tianlong menatap telapak tangannya sendiri. Ia merasakan kekuatan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia menoleh ke arah kejauhan, ke arah Lin Xueru pergi.
"Dunia yang berbeda, katamu?" Tianlong tersenyum tipis, senyuman yang penuh dengan janji pembalasan. "Benar. Mulai hari ini, aku akan berada di dunia yang tidak akan pernah bisa kau capai, Lin Xueru."
"Bagus, Nak," bisik Long Yuan di kepalanya. "Ini baru awal. Segera tinggalkan tempat ini. Energi yang baru saja kau lepaskan akan mengundang perhatian monster-monster tua. Kita harus pergi ke Hutan Binatang Buas sebelum mereka mengepungmu!"