"Berhenti! Kau pikir bisa pergi begitu saja setelah melukai putraku?!"
Suara Penatua Pertama, Xiao Peng, menggelegar seperti guntur di seluruh pelataran. Wajahnya yang biasanya tenang kini merah padam karena amarah. Sebagai kultivator Qi Gathering tingkat 9, tekanan aura yang ia lepaskan membuat salju di sekitarnya seketika mencair dan tanah retak di bawah kakinya.
Xiao Tianlong merasakan dadanya sesak. Meski ia baru saja mengalami kenaikan kekuatan yang drastis, perbedaan antara dirinya dan seorang ahli di puncak Qi Gathering masih terlalu besar.
"Xiao Yan menyerangku lebih dulu dengan niat membunuh. Aku hanya membela diri!" jawab Tianlong tegas, matanya tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun.
"Membela diri? Seorang sampah sepertimu tidak punya hak untuk membalas!" Xiao Peng melesat maju. Tangannya membentuk cakar yang diselimuti energi Qi berwarna biru tua. "Serahkan rahasiamu, atau mati!"
Syuuuut!
Angin tajam hasil serangan Xiao Peng nyaris merobek leher Tianlong. Beruntung, insting naga yang baru terbangun dalam dirinya membuat Tianlong mampu menghindar di detik terakhir dengan gerakan yang mustahil bagi manusia biasa.
"Nak! Jangan dilawan secara frontal! Kau adalah bayi naga yang baru menetas, sementara dia adalah serigala tua yang licik. Lari ke arah hutan!" suara Long Yuan bergema di kepalanya.
"Aku tidak bisa lari begitu saja! Dia akan mengejarku sampai mati!" batin Tianlong.
"Tarik napas dalam-dalam... rasakan panas di perutmu. Aku akan meminjamkanmu satu teknik untuk melumpuhkan indranya sejenak. Gunakan: Auman Naga Langit!"
Tianlong mengikuti instruksi itu. Ia berhenti berlari, berbalik arah, dan berdiri tegak menghadap Xiao Peng yang hanya berjarak lima meter darinya.
"Menyerah? Sudah terlambat!" teriak Xiao Peng sambil melayangkan pukulan terkuatnya.
Tianlong tidak menghindar. Ia membuka mulutnya, dan sebuah cahaya emas menyala terang dari tenggorokannya.
"ROOOAAARRRR!!!"
Bukan suara manusia yang keluar, melainkan sebuah raungan purba yang sangat dahsyat. Gelombang suara berbentuk lingkaran emas meledak dari tubuh Tianlong, menghantam udara dan mengguncang seluruh area klan.
Xiao Peng yang sedang melesat tiba-tiba merasa otaknya seolah dipukul oleh palu raksasa. Telinganya berdenging hebat, darah segar mengucur dari lubang telinganya, dan seluruh tubuhnya kaku karena rasa takut yang tidak rasional—ketakutan insting makhluk fana terhadap penguasa langit.
"A-apa ini... aura dewa?" gumam Xiao Peng sambil jatuh berlutut, wajahnya pucat pasi.
Tianlong tidak membuang waktu. Raungan itu juga menguras hampir seluruh energinya. Dengan sisa tenaga yang ada, ia melompat melewati pagar tinggi klan Xiao.
"Xiao Peng! Hari ini kau mencoba membunuhku. Suatu hari nanti, aku akan kembali untuk meratakan tempat ini!"
Suara Tianlong menggantung di udara saat sosoknya menghilang ke dalam kegelapan hutan yang lebat di kaki gunung.
Di panggung, para murid klan hanya bisa terpaku. Mereka melihat Penatua Pertama mereka—orang terkuat kedua di klan—masih gemetar di tanah, tidak mampu berdiri.
Sementara itu, di dalam hutan, Tianlong terus berlari hingga kakinya terasa lumpuh. Saat ia merasa sudah cukup jauh, ia jatuh tersandar di bawah pohon raksasa. Napasnya tersengal, dan kesadarannya mulai memudar.
"Bagus, Nak... kau bertahan," bisik Long Yuan. "Tidurlah. Saat kau bangun besok, dunia ini akan melihat lahirnya seorang monster baru."